Tadi pagi saya dihubungi oleh Radio 101 Jak FM untuk jadi narasumber berkaitan dengan topik tentang penggunaan Twitter pada acara pagi mereka Morning Crew yang dipandu oleh Ronal dan Jodi. Ada dua pertanyaan yang diajukan oleh mereka yaitu pertama adalah tentang mengapa Twitter kok bisa digemari dan populer di negara kita, dan yang kedua adalah sehubungan dengan banyaknya buzzer yang memonetize follower mereka apakah tindakan ini halal atau diperbolehkan?
Saya akan langsung ke jawaban saya untuk pertanyaan kedua, yaitu ya halal saja, dengan analogi sederhana seperti ini, jika ada seseorang ingin mengumumkan sesuatu dan orang ini melihat bahwa follower Anda cocok dengan target market yang ingin ia tuju, maka sah saja jika ia minta tolong pada Anda untuk menyebarkan informasi tersebut. Tentunya jika Anda memberikan tarif pada effort yang sudah Anda keluarkan ya halal-halal saja kan. Mungkin problem yang mesti dipikirkan adalah bagaimana menyampaikan “titipan” pesan tersebut tanpa membuat follower Anda merasa keberadaan mereka memfollow Anda dimonetize oleh Anda, walaupun sebenarnya tidak terlalu relevan juga karena toh mereka yang dengan sukarela memfollow Anda bukan?
Yang perlu Anda ingat, memiliki Twitter account itu sama saja dengan Anda mengelola sebuah online community, kecuali jika Anda tidak peduli dengan follower Anda ya. Jadi tantangannya adalah bagaimana follower Anda merasa nyaman dan mendapatkan manfaat yang ia inginkan dengan memfollow Anda. Bila Anda bisa menjaga keseimbangan ini maka memonetize follower dengan menjadi buzzer tidak akan jadi masalah besar
Ada pendapat lain? Saya siap mendengar.


Jadi inget kasus baru-baru ini di Inggris, ketika dewan periklanan Inggris membahas tweet berbayar dari Wayne Rooney, hingga akhirnya mereka memutuskan mewajibkan tiap tweet berbayar harus ditandai dengan tanda pagar #ad…
Aku sendiri sih nggak masalah dengan tweet berbayar, dan juga menurutku menggunakan tanda pagar untuk menandai bahwa sebuah tweet adalah pesan sponsor juga nggak ada salahnya.
Menurutku sih dalam tiap kita berkomunikasi—dan bukan cuma masalah tweet berbayar saja—lebih baik kita mengakui bias-bias kita, keberpihakan kita. Ini agar jelas di mana masing-masing kita “berpijak”-lah, istilahnya :p Kita manusia nggak mungkin nggak memiliki subyektivitas, dan rasanya justru dengan keterbukaan sikap akan membantu untuk kita bisa saling tenggang rasa…
Good point mas Ferdi…:-)
Klo kasus kita jadi tim SocMed-nya Anggota DPR yang koruptor itu kumaha akang? Mhn Fatwanya?
Haha….duh saya sih gak bisa ngasih fatwa mas, istilah halal dari saya pun konteksnya bukanlah halal-haram nya agama (istilah halal itu pun munculnya dari Ronal yg menanyakan pertanyaan tsb pada saat acara Morning Crew)
now that’s a GOOD one, bang! hehehe…
Thanks Simbok….:-)