BBM akhirnya masuk ke kancah cross-platform

Tulisan ini tadinya saya tulis untuk kolom saya di Dailysocial, namun ternyata topik dengan angle serupa telah dibuat oleh kontributor yang lain, sehingga saya memutuskan untuk mempostingnya disini…enjoy!

Tidak lama setelah CEO BlackBerry, Thorsten Heins mengumumkan bahwa pada musim panas mendatang, Blackberry Messenger (BBM) akan bisa digunakan di iOS dan Android maka kehebohan segera terjadi di timeline Twitter saya. Pendapat pro dan kontra bermunculan. Banyak cemoohan terhadap langkah yang diambil oleh Blackberry namun banyak juga yang tersenyum sumringah membaca berita ini.

Banyak yang bilang langkah yang diambil oleh Blackberry ini sudah terlambat, pasar sudah mulai banyak terisi oleh aplikasi-aplikasi serupa yang cross-platform begitu Blackberry tidak berbuat apa-apa saat market “meminta” di masa lalu. Pertanyaannya…apakah mereka benar-benar terlambat?

Dalam teori popularitas yang pernah saya baca (maaf lupa sumbernya), disebutkan bahwa popularitas pada kelas atas akan lebih lama pudarnya karena akan selalu diturunkan ke kelas-kelas dibawahnya. Harga yang hanya terjangkau oleh kalangan atas begitu produk tersebut pudar popularitasnya akan mulai diturunkan lalu masuk ke jangkauan kelas-kelas dibawahnya. Pada saat itu lah si brand mulai ganti strategi dengan “bermain” pada produksi massa.

Saya pikir Blackberry pun demikian halnya. Kita bisa berfikir bahwa sekarang bukan jamannya Blackberry dan BBM lagi namun mereka tidak serta merta hilang namun diturunkan ke konsentrasi massa yang lebih masif pada level pasar dibawahnya, sehingga sekeras-kerasnya suara yang datang dari ujung piramida pengguna tentunya tidak akan berpengaruh pada keseluruhan pasar.

Kembali lagi ke BBM yang akan memasuki pasar cross platform. Apakah mereka akan melibas pemain-pemain cross-platform baru lainnya? seperti Whatsapp, Line, KakaoTalk, WeChat? Saya pribadi melihat persaingan akan kembali sengit pada messenger apps ini. Yang benar-benar akan head-to-head dengan BBM adalah Whatsapp, sedangkan Line, kakaoTalk, dan WeChat akan berbeda positioning dengan BBM.

Sigur Ros pun Berbahasa Sunda

Penggemar musik Indonesia dikejutkan dengan munculnya sapaan dari Sigur Ros, band asal Islandia lewat media Twitter dengan menggunakan bahasa Sunda :-) Memang pada tanggal 10 Mei 2013 rencananya mereka akan manggung di Indonesia dalam rangka Sigur Ros World Tour yaitu tepatnya di Istora Senayan.

Saya tidak akan masuk kepembahasan kenapa-kenapanya karena bagi saya hal ini cukup segar untuk dinikmati, hehehe. Silahkan lihat foto screen capture dibawah ini beserta landing page link yang tertera pada tweet mereka :-)

Dan ini landing page mereka :-)

Remote Working

Kebijakan Yahoo! untuk menghapuskan keleluasaan bekerja secara remote (work from home) yang ditetapkan oleh CEO mereka, Marissa Mayer membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah keputusan ini akan jadi keputusan yang tepat. Di ranah maya dimana pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja kebijakan ini terasa agak kurang masuk akal, namun salah satu sumber mengatakan bahwa Marissa mengambil keputusan demikian dikarenakan makin menurunnya hubungan antar personal langsung diantara para karyawannya.

Apakah lalu hal ini akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya? Kita lihat saja. Buat saya bekerja secara remote (work from home) adalah simbolisasi dari kemampuan melakukan pekerjaan tanpa menjadikan tempat sebuah hambatan, namun ada beberapa hal yang saya anggap sebagai tantangan juga agar bisa mencapai produktivitas yang tinggi tanpa mengganggu kegiatan lainnya.

Bagi saya bekerja secara remote artinya tidak berurusan dengan commute, dimana di Jakarta dengan tingkat kemacetan yang tinggi menjadikan commute itu sebuah “perjuangan” tersendiri. Dengan bekerja secara commute maka saya bisa mengatur waktu dan tempat sehingga bisa menyelesaikan pekerjaan secara efektif.

Selain masalah commute, keleluasaan menentukan mood tempat bekerja pun jadi faktor penentu. Saya adalah orang yang bisa bekerja dengan produktivitas tinggi jika mendapatkan tempat kerja tenang, tidak berisik, yang kadang kala interaksi langsung dengan teman kerja justru jadi sumber penghambat efektivitas kerja saya (maaf no offense lho ya). Sehingga dengan remote working hal ini bisa diatasi.

Tantangan bekerja secara remote adalah mengatur jam kerja untuk diri sendiri, kadang kala kita terjebak dalam kondisi “bekerja tanpa henti”. Sehingga kadang-kadang dalam hitungannya bekerja secara remote menjadikan kita bekerja lebih lama dibandingkan kita bekerja di kantor.

Remote working buat saya bukanlah bekerja secara terputus sama sekali. Komunikasi dengan teman se tim itu sangatlah penting, dan ini bisa dilakukan dengan menggunakan social media ataupun media komunikasi messenger seperti Skype seandainya dibutuhkan.

Pada akhirnya perusahaan dan karyawan tentunya ingin mencapai tujuan yang sama, yaitu result yang baik.

sumber foto

Digital Tsunami

Judul diatas saya ambil dari judul acara ngobrol-ngobrol di acara Obsat yang malam tadi baru saja berakhir. Judul lengkapnya adalah “Digital Tsunami: The Media Company Challenges“ yang diprakarsai oleh mas Yuswohady, penulis buku-buku yang berorientasi marketing dimana ia mengundang para tokoh dibidang media yang cukup terkenal antara lain Petty Fatimah (Chief Editor & Chief Community Officer majalah Femina), Kemal Gani (majalah SWA), Kris Moewanto (Jawa Pos), Edi Taslim (Kompas.com), dan juga praktisi konsultan brand yang menerbitkan buku berjudul Brand Gardener, mas Handoko, dan juga saya pun diajak ikutan naik panggung pula oleh mas Yuswohady.

Dari pembicara yang dihadirkan oleh mas Yuswohady ini, akhirnya kita bisa melihat bagaimana sebuah media mencoba bereksperimen untuk mendapatkan formulasi yang tepat agar media mereka bisa tetap survive ditengah mulai maraknya penggunaan media digital. Salah satu penanya diakhir acara sempat menyebutkan bahwa penggunaan istilah Tsunami Digital agak terlalu berlebihan karena dari dulu sudah banyak media berbasis social media yang sudah jalan dan sepertinya tidak ada sesuatu yang heboh yang terjadi. Ya saya pribadi berpendapat kita semua memang harus melihat dari point of view yang berbeda untuk bisa memahami apa yang ditakuti oleh teman-teman media tersebut.

Satu hal yang mungkin perlu difahami, pada saat media digital itu memiliki varian yang banyak, maka kontenlah yang akan jadi pengikatnya. Eksperimentasi dengan komunitas yang dilakukan oleh Femina mungkin cocok dengan bisnis yang hendak dijalankan oleh mereka tapi belum tentu akan berhasil bila diterapkan di Jawa Pos misalnya, sehingga tidak ada lagi salah dan benar bahkan jika ada satu media yang berhasil membuktikannya. Karena apa yang benar buat satu media belum tentu bisa dijalankan di media lainnya.

Kegamangan teman-teman media karena masuknya digital media ke masyarakat sangat bisa dimengerti. Yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah bagaimana media-media tersebut beradaptasi secara perlahan dan ikut mematangkan kedewasaan ber digital media di negera ini :-)

foto: @pasarsapi

The Pirate Bay – Away From Keyboard (Documentary)

Peer-to-peer file sharing adalah salah satu metode distribusi yang paling dibenci (oleh MPAA & RIAA dan juga game industry) sekaligus paling dicintai (oleh masyarakat). Mungkin Anda masih ingat ketika Napster dibantai dan dikebiri lalu bermunculanlah tool-tool baru serupa Napster didunia maya. Peer-to-peer file sharing memang tidak bisa dibunuh, industri lah yang harus berubah.

The Pirate Bay – Away From Keyboard (TPB-AFK) adalah sebuah film dokumenter karya Simon Klose yang mengikuti dan mendokumentasi kegiatan tiga orang pendiri The Pirate Bay (Gottfrid Svartholm Warg, Peter Sunde & Fredrik Neij), torrent files directory terbesar di dunia, sebelum mereka disidang karena tuntutan MPAA (Motion Picture Association of America).

Pada tanggal 8 Februari 2013 (3 hari yang lalu), Simon akhirnya memutuskan untuk mengunggah film dokumenter ini ke YouTube agar bisa disaksikan lebih banyak orang lagi, selain tentunya film ini bisa diunduh dengan gratis juga ataupun membeli DVD mereka disini.

Silahkan menonton video TPB-AFK dibawah ini dan sebarkan semangat free internet

Life Is Cheap

Twit dari Ario Tamat diatas membuat saya teringat beberapa kasus serupa yang terus menerus terjadi menimpa orang-orang yang tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mendapatkan pengobatan yang layak di negara ini. Sistem di negara ini membuat kita tidak boleh jadi orang tidak mampu, karena jika tidak mampu maka kita tidak boleh sakit dan ini adalah hal yang mustahil.

Ingatan saya melayang kembali ke tahun 2003 ketika saya merencanakan untuk berangkat ke New York City. Pada persiapannya saya sempat bingung ketika pemerintah AS mensyaratkan para imigran harus memiliki asuransi kesehatan untuk tinggal di Amerika Serikat, dan ketika saya akhirnya tinggal disana maka saya baru mengerti kenapa persyaratan untuk memiliki asuransi kesehatan itu adalah mutlak, karena tidak lain biaya pengobatan itu luar biasa tingginya. Dengan kata lain bisa dipastikan hampir semua warga tidak akan bisa membayar jika harus masuk rumah sakit, dan ini sangat ironis. Oleh karena itu pemerintah AS mengencourage warganya/imigran untuk memiliki asuransi kesehatan sehingga beban antisipasi pengobatan terutama rumah sakit itu bisa dialihkan dan dibuat lebih ringan.

Di negara ini, semua dibuat sangat fleksibel, namun kefleksibelan tersebut tidak dibarengi oleh edukasi yang cukup, sehingga semua berjalan sebebas-bebasnya sampai akhirnya terlambat. Praktek demokrasi kebablasan dengan membebaskan sebebas-bebasnya tanpa peduli mau celaka ataupun tidak, itulah yang terjadi di negara ini. Kembali lagi yang jadi korban adalah rakyat.

Saya tidak ingin membandingkan negara kita dengan negara lain ya, namun kejadian-kejadian seperti yang di twit oleh Ario di atas itu terus menerus terjadi. Negara tidak punya sistem yang baik untuk warganya sehingga hidup seorang manusia pun dianggap sama saja dengan hidup seekor nyamuk…very cheap. Kalau tidak punya uang ya silahkan tunggu sampai ada uang atau silahkan meregang nyawa…:-(

Presentasi: Kekhawatiran Perusahaan Pada Social Media

Pada tanggal 6 Februari 2013, saya diberi kesempatan untuk berbagi dalam sebuah presentasi pada acara peluncuran buku “Social Media Landscape 2012 in Indonesia” karya dari seorang teman saya Pitra Satvika di @America, Pacific Place, Jakarta. Buku ini berlabel Stratego yang tidak lain adalah perusahaan yang dimiliki oleh Pitra juga.

Social Media Landscape 2012 in Indonesia merupakan kumpulan dari kasus-kasus social media marketing yang terjadi di Indonesia selama 2012. Saya sendiri sengaja memilih point of view yang berbeda dari social media marketing pada kesempatan presentasi saya, yaitu melihat dari sisi yang lebih fundamental, bagaimana iklim bersocial media pada perusahaan-perusahaan yang kaitannya dengan kebebasan bersocial media pada karyawan. Topik ini memunculkan judul presentasi yang saya bawakan yaitu Kekhawatiran Perusahaan Pada Social Media.

Presentasinya sendiri bisa Anda ikuti dibawah ini:

 

Watch live streaming video from at_america at livestream.com

Foto: @madalkatiri

Start Something That Matters

Saya yakin sebagian dari Anda pernah mendengar kalimat yang saya pakai sebagai judul di atas. Ya betul itu adalah judul dari blog milik Blake Mycoskie, seorang enterpreneur yang dulunya pernah jadi pemenang The Amazing Race yang lalu memutuskan untuk membangun TOMS Shoes yang menginspirasi Blake untuk menjalankan blog dan membuat buku yang berjudul sama. [Read more...]

I’m A HootSuite Pro Solution Partner

I am proud to announce that I’m now a HootSuite Pro Solution Partner.

HootSuite is a social media management system for businesses and organizations to collaboratively execute campaigns across multiple social networks from one secure, web-based dashboard. Key social network integrations include Facebook, Twitter, LinkedIn, and Google+, plus a suite of social content apps for YouTube, Flickr, Instagram, Yammer, Tumblr and more.

In 2012 HootSuite hit 5 million users, including 79 of the Fortune 100 companies. Along with HootSuite’s web platform, 20% of users access the dashboard through their mobiles including iPhone, Android, Blackberry and iPad. HootSuite also offers localized versions of their dashboard in six languages – English, French, Italian, Japanese, Spanish and Portuguese.

There are many benefits to HootSuite Pro

Engage: Optimize your audience engagement by creating search streams, scheduling messages and monitoring all of your social network profiles from one customizable web and mobile dashboard.

Collaborate: Invite clients and colleagues to participate in your social media management. Assign messages for follow up and share streams, helping you increase efficiency.

Analyze: Measure your efforts using over 40 social analytics modules to build and share custom reports. Or select from one of our pre-made templates for quick and easy reporting.

Secure: Share access with team members without compromising security. The team permission levels and advanced sharing options ensure you remain in control of your valuable social profiles and accounts.

Sign up for a 30-day free trial of HootSuite Pro now!

1 Click Away

Konsekuensi yang tidak bisa dihindari ketika Anda menjalankan sebuah usaha berbasis internet adalah kecenderungan zero loyalty pada pengguna. Hanya ada dua pilihan, menjadi yang terbaik atau mundur, daripada Anda hanya membuang-buang waktu dan biaya pada akhirnya.

Andy Grove, CEO dari Intel pernah membuat statement yang berbunyi “Only the Paranoid Survive” yang banyak dijadikan acuan bagi perusahaan-perusahaan agar mereka bisa survive (statement ini akhirnya menjadi salah satu judul buku oleh Andy Grove).

Pada jaman dimana setiap individu makin banyak yang terkoneksi satu sama lain, statement tersebut jadi semakin relevan karena jarak antara perusahaan/produk/layanan Anda dengan kompetitor adalah hanya 1 click away, begitu perusahaan/produk/layanan kompetitor lebih baik maka pindahlah semua….just like that.