Indonesian Journalists Technographics Survey Report 2013

Setelah sukses merilis laporan terbuka ditahun 2012 yang bertajuk Indonesian Journalist Technographics 2011/2012 yang bercerita tentang bagaimana jurnalis Indonesia menggunakan internet, kali ini bekerjasama dengan Universitas Paramadina, Maverick kembali merilis laporan terbuka serupa untuk 2012/2013. Mari kita lihat dan pelajari dibawah ini:

Kita Semua Memimpikan Indonesia Yang Damai

Indonesia adalah negara tempat kita tinggal. Tanah yang kaya dengan bangsa yang memiliki sejarah panjang. Peristiwa demi peristiwa, baik maupun buruk ikut mendewasakan bangsa kita, dan dalam hati kecil seluruh warga menginginkan Indonesia menjadi Indonesia yang damai seperti yang ditunjukkan dalam video di bawah ini.

Kedelai Membuka Mata

Apa yang Anda ketahui tentang kedelai? Biji-bijian ber protein tinggi? Bahan utama pembuatan tahu dan tempe? Atau bagi pecinta susu kedelai tentu saja akan sangat faham gambar di atas ini ya. Dan mengapa saya tertarik untuk mengangkat kedelai sebagai bahan tulisan kali ini adalah karena akhir-akhir ini kedelai bertambah fungsinya yaitu membuka kenyataan bagaimana negara kita tercinta ini yang dijaman dahulu dibangga-banggakan sebagai negara agraris, subur berkecukupan ternyata rentan krisis pangan.

Kita semua ikut merasakan bahwa beberapa makanan di Indonesia yang berasal dari bahan kedelai semakin susah di cari, yang akhirnya membuat harga kedelai melonjak (dari Rp.5500,- per kg jadi Rp.8000,- per kg). Penyebab utama dari kenaikan harga ini adalah karena supply yang menjamin ketersediaan kedelai di pasar juga anjlok….dari mana supply tersebut? dan apa yang menyebabkannya jadi anjlok? Ya, kenyataan yang diungkapkan di media massa cukup membuat kita semua shock. Kekeringan di Amerika Serikatlah yang membuat kekacauan supply tidak hanya kedelai tapi juga jagung dan gandum. Dan yang bikin kita semua kaget adalah kenyataan bahwa Indonesia memang rentan krisis pangan karena tingkat ketergantungan negara kita terhadap pasokan pangan import cukup tinggi sehingga apa yang terjadi di negara asal pasokkan akan langsung berpengaruh terhadap kenaikan harga di pasar dalam negeri.

Berdasarkan diskusi yang kebetulan saya bangun di Facebook status saya, didapat informasi dari teman lama saya Tika Sukarna, seorang biologist bahwa sebenarnya semua negara di jaman sekarang sudah tergantung satu sama lain untuk produksi pangan, tidak bisa berdiri sendiri. Biasanya dilakukan impor karena memang lebih murah dibandingkan produksi sendiri. Mungkin dengan alasan ini maka tindakan pemerintah untuk mengimpor bahan pangan karena alasan lebih murah bisa diterima tapi pertanyaan yang mendasar adalah mengapa produksi dalam negeri tidak bisa dibuat lebih murah?

Saya ingat pada tahun 90an ketika saya masih bekerja di sebuah electronic home appliances manufacturing, issue penerapan kesepakatan AFTA dan NAFTA cukup membuat saya bergidik, karena ikutnya negara kita kedalam kesepatan tersebut sama dengan membuka keran impor dan “mengadu” produksi dalam negeri dengan produksi import head-to-head tanpa proteksi. Saya pada saat itu melihat industri kita tidak memiliki kesiapan (karena dimanja oleh proteksi selama berpuluh tahun) oleh karena itu yang terbayang adalah kehancuran industri dalam negeri yang akan terjadi. Kali ini saya melihat pola yang sama pada industri pangan kita. Kenyataan bahwa industri pangan kita pun tidak siap untuk survive di dalam negeri apalagi dibandingkan dengan industri pangan tempat negara kita bergantung (Amerika Serikat). Begitu mereka jatuh, negara kita akan ikut terseret, kalau memang kita tetap membiarkan ketergantungan total kita ini.

Industri kedelai dalam negeri diambang kehancuran, pasokan supply berkurang mendorong harga jadi naik, dan akhirnya ikut menerpa pasokan yang berasal dari petani lokal. Pada saat ini petani lokal melakukan protes terhadap pemerintah dengan cara memblok pasokan yang berasal dari dalam negeri. Alhasil harga kedelai jadi makin melambung dan mempercepat kehancuran industri lokal itu sendiri.

Pemerintah melakukan tindakan yang dianggap sebagai solusi instan yaitu dengan memfasilitasi impor kedelai dan membebaskan bea masuk komoditas tersebut hingga akhir tahun. Dengan diperbesarnya keran impor plus bebas bea masuk, memang dengan segera bisa diharapkan harga kedelai segera turun, namun apa jadinya industri kedelai dalam negeri ya?

Menurut Anda apa yang sebaiknya kita lakukan ya? dari sudut pandang pemerintah dan juga bangsa secara keseluruhan?

*foto dari agrolek.com

The New Voice of Jakarta

logo_voj_singkatan

Setelah beberapa saat situs Voice of Jakarta (VOJ) menghilang dari blogosphere, kali ini VOJ lahir kembali dalam bentuk baru. Anda mungkin mengenal VOJ sebagai sebuah radio internet sebelumnya dan juga situs yang menyoroti kehidupan di Jakarta. VOJ akan tetap ada di koridor tersebut hanya pada situs yang baru ini VOJ akan lebih mendekatkan diri pada pengunjung. Apa itu maksudnya? Begini, dengan menggunakan Tumblr sebagai platform, maka VOJ memberikan kesempatan bagi seluruh pecinta kota Jakarta, terutama yang benar-benar care terhadap kota kita ini untuk ikutan berbagi, yaitu dengan mensubmit apa saja yang ingin Anda share tentang Jakarta di situs VOJ ini. Apa saja yang bisa di share di sini? Anda bisa mensubmit teks, video, audio dan foto, dengan satu syarat, semuanya harus melalui sistem approval untuk menjaga kualitas dan kesinambungan konteks nya.

Silahkan berbagi dengan VOJ di sini

Indonesia: The Next Big Thing in Digital Media!

facebook2ndnation_thumb

Kita semua tahu bahwa negara kita di industri internet sudah mulai dikenal disebabkan karena jumlah pengguna yang berkembang sedemikian pesatnya. Sebenarnya berapa besar pengguna internet di Indonesia? Produk apa saja yang populer di Indonesia jika kita bicara mengenai industri internet? Ini akan menggiring kita ke sebuah diskusi yang sangat menarik. Mungkin ide diskusi ini kapan-kapan perlu kita lakukan walaupun saya yakin sudah banyak yang melakukannya dan akan tetap banyak yang akan melakukannya juga.

Pagi ini di Facebook’s wall saya menerima updates dari rekan saya Pitra Satvika (@pitra) tentang sebuah videographic yang dibuat oleh sekelompok mahasiswa dari Singapura yang bercerita mengenai perkembangan media digital di tanah air kita ini. Videographic ini sangat menarik dan saya pikir akan lebih menarik jika Anda bisa melihatnya sendiri di bawah ini:

Yahoo! Gandeng Warnet di Indonesia

Setelah Yahoo! Go yang sudah masuk ke Indonesia beberapa waktu lalu, kini Yahoo! mulai menjajaki kerjasama dengan pasar di Indonesia. Hari selasa (12 November 2008), Yahoo mengumumkan melalui media massa bahwa mereka me launch program untuk pertama kalinya di Indonesia yang dinamakan Yahoo! Advantage™ Warnet Network.

Silahkan simak beritanya di Detik dan Kompas