The box was sealed
I drove to nowhere
Drawing path in the sand
Sowing the seed
I still unpack my box
I keep it near horizon
So I can still open it
When it’s dark
…when you come
28.03.2010, 03:14PM
*taken from PaparanKata.Com
social media, technology & human factor
The box was sealed
I drove to nowhere
Drawing path in the sand
Sowing the seed
I still unpack my box
I keep it near horizon
So I can still open it
When it’s dark
…when you come
28.03.2010, 03:14PM
*taken from PaparanKata.Com
Mungkin sebelumnya Anda pernah membaca blogpost saya yang berjudul The World Premiere of Ananda Sukarlan’s “Bangwin’s Haiku” ? Pada tanggal 5 Oktober kembali saya mendapatkan message di Facebook’s wall saya dari sahabat saya Ananda Sukarlan yang tertulis seperti di bawah ini:
Saya sendiri sedang menunggu informasi lebih lengkap dari Ananda tentang pertunjukkan ini. Sekali lagi jika Anda ingin tahu haiku yang mana yang dijadikan komposisi oleh Ananda, silahkan kunjungi PaparanKata dan lihat di kategori 3-Line Poem (English)
Saya sudah lama mengenal Ananda Sukarlan. Kira-kira setahun yang lalu kami berbincang-bincang via Yahoo! Messenger diawali dengan baru sadarnya kami terhadap kesamaan ketertarikan kami pada dunia sastra khususnya puisi. Ananda sempat bilang kalau saya tidak salah ingat,“….kalau saya bisa nulis puisi mungkin dari dulu saya akan memutuskan jadi seorang sastrawan”.
Ketertarikan Ananda terhadap puisi membuat ia membuat beberapa proyek komposisi yang dibangun berdasarkan puisi-puisi yang ia sukai, antara lain puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono dan juga Hasan Aspahani. Dari karya dua sastrawan inilah beberapa komposisi Ananda berhasil dipentaskan.
Beberapa hari lalu saya kembali mendapat kabar dari Ananda:
In Amsterdam, Holland, the unusual trio “To be Sung” consists of Elisa Roep (soprano), Eva van der Poll (cello) and Fie Schouten (clarinet) will give the world premiere of Ananda Sukarlan’s “Bangwin’s Haiku” at Kunstenhuis on the 25th September 2010. Info at www.kunstenhuis.com
Ya betul, beberapa haiku karya saya dijadikan komposisi kontemporer oleh Ananda, dan kemudian dibawakan oleh trio dari Belanda yang menyebut diri mereka “To be Sung”. Mereka juga berencana untuk perform di Singapura, dan Ananda sendiri bilang tertarik untuk mengajak mereka perform di Jakarta juga *amiiiiieeen*.
Jika Anda ingin tahu haiku yang mana yang dijadikan komposisi oleh Ananda, silahkan kunjungi PaparanKata dan lihat di kategori 3-Line Poem (English)
Terima kasih banyak untuk Ananda Sukarlan
Sampak GusUran is a poem orchestra. They call their group as ‘poem orchestra’ because since the beginning they interpret and orchestrated Anis Sholeh Ba’asyin poem into musical composition. This is their way to bring poem more closer to people.
By their ‘poem orchestra’ they wish to voice their concern about social, culture, spiritual, environmental and human problem in our country and also in the world. They not only play music or sing a song, but first of all they try with their own way to sent a message about love, peace, brotherhood and justice; against all destructive, oppressed and dehumanize powers who rules what we called as ‘modern world’. Name ‘sampak’ they took from ‘gamelan’ music rhythm type in Javanesse puppets performance called ‘wayang”, it usually played to accompany war scene on Wayang performance. Medium GusUran, in fact can be read as game form writing from gusuran word, which in Indonesian vocabulary mean ‘peripheral’. Or, can also, Uran word read as plural form of word ‘uro-uro’ or croon in Javanesse vocabulary.
In music, they try more or less dynamic translate and permeate the spirit and also composition of ethnical and tradition music -especially from Indonesia- and cut fine it with new musical mosaic growing in present day.
You can see more of their videos by visiting their Youtube page in here

Pada hari Jumat tanggal 21 November 2008, saya datang ke sebuah kedai kecil yang biasa disebut “angkringan” di bilangan Kebayoran Baru. Saya datang memenuhi undangan seorang teman untuk ngobrol-ngobrol, lalu tidak lama kemudian muncul dua orang sahabat saya, duo Endah N Rhesa yang kebetulan juga datang memenuhi undangan meeting di kedai yang sama. Mereka memberikan sebuah CD Musikalisasi Puisi “Angin Pun Berbisik” yang beberapa saat lalu saya dengar memang sedang digarap oleh mereka. Karena kesibukan saya, seminggu kemudian saya baru bisa mendengarkan lagu-lagu pada CD tersebut secara utuh. Dan ini lah yang saya dapatkan:
Lagu pertama adalah lagu yang berjudul “Kali Ini Saja” yang liriknya dibuat oleh penyair Zeffa Yurihana. Lagunya sendiri dibawakan secara apik oleh seorang gitaris, komposer muda yang bernama Andre Harihandoyo. Sesuai dengan gaya bermusik Andre yang berkiblat pada musik blues, maka larik-larik puisi dari Zeffa langsung diinterpretasikan ulang oleh petikan-petikan nada blues dari gitar akustik Andre dengan sangat ekspresif dan jernih. Puisinya saja menurut saya sudah “blues” sehingga begitu Andre mendandani “Kali Ini Saja” dengan kord-kord blues maka jadilah lagu tersebut sebuah komposisi blues lengkap yang asik.
Duo Endah N Rhesa yang berperan sebagai salah satu penggagas proyek album ini mendapat kesempatan kedua dalam album ini walaupun mereka hampir ikut serta di proses pembuatan semua lagu pada album ini, tapi lagu kedua pada album ini lah yang mereka berdua ciptakan. Puisi karya penyair Zeffa Yurihana yang berjudul “Pasar” langsung berubah menjadi sebuah selimut hangat di malam yang dingin atau segelas teh es manis di sore yang panas ketika di gubah menjadi sebuah komposisi lagu yang asik dan menghanyutkan. Seperti biasa Endah N Rhesa memainkan lagu ini dengan aransemen khas akustik mereka. Denting gitar Endah disertai olah vokalnya yang tipis diiringi petikan bass Rhesa plus kord-kord bernuansa jazz melengkapi kenyamanan yang didapat pada saat mendengarkan lagu ini.
“Banyak orang bertukar barang
Sedikit orang bertukar senyum
Seorang anak ingin membeli senyum
Tapi tidak ada yang menjual senyum”
Itu potongan lirik yang diambil dari “Pasar”. Lucu, witty, plus harmonisasi backing vokal yang sangat soothing.
Pengembaraan musik dalam lirik-lirik puitik belum selesai karena lagu selanjutnya membawa kita pada suasana perjalanan. Kok perjalanan? Simak lagu yang berjudul Jakarta yang didasari oleh puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul “Jakarta” dan dibawakan secara apik oleh Christian (Tiket). Komposisi yang diciptakan oleh Christian dan lalu di aransir oleh Rhesa Aditya ini seolah membawa kita seolah sedang melakukan perjalanan. Walaupun isi dari puisi yang mendasari lagu ini adalah mengenai kekecewaan terhadap kota Jakarta yang membuat si penyair merasa kecewa dan perlu meninggalkan Jakarta, tapi aransemen yang dibuat oleh Rhesa menciptakan ambience yang justru positif dan optimis. Simak potongan lirik/puisi lagu “Jakarta” dibawah ini:
“Kutinggalkan engkau
Sebab
Langitmu tak lagi biru
Diaduk asap dan debu
Aku sudah tak punya waktu
Untuk menunggu”
Nah anda akan mendapatkan kesan lain jika anda mendengarkan lagunya…:-)
Cinta & kerinduan adalah tema klasik yang tak pernah mati dimakan jaman. Tema ini lah yang paling banyak dipakai pada puisi maupun lirik lagu. Ekspresi kerinduan pada puisi pada puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul “Ku Ingin” ini diinterpretasikan ulang dalam bentuk lagu oleh grup yang menamakan diri mereka sebagai Drew. Masih didominasi oleh riff gitar akustik yang ditingkahi oleh snare drum yang diketuk oleh brush stick plus bass gitar fretless yang dimaininkan oleh Rhesa Aditya, membuat lagu yang bersahaja ini jadi punya nyawa yang kuat. Lagu ini punya potensi untuk jadi idola di pasar.
Setiap seniman yang utuh dalam bentuk apapun ia akan selalu punya ciri dalam berkarya. Saya pikir statement ini bisa dilihat pada karya-karya musikalisasi puisi dalam album ini. Salah satu contoh yang kuat selain lagu “Pasar” gubahan Endah N Rhesa adalah lagu yang berjudul “Cemburu” yang didasari oleh puisi karya Irwan Dwi Kustanto yang pencipta dan arranger lagunya adalah Anindyo Baskoro atau lebih dikenal dengan Nino RAN. Ya, ia adalah salah satu personil trio yang sedang naik daun pada saat ini, RAN. Menyambung statement diawal paragraf diatas, kita tentunya tau bagaimana lagu-lagu dari RAN, dan pada lagu yang diciptakan oleh Nino berdasarkan puisinya Irwan ini, ciri RAN tersebut tidak hilang tapi bermetamorfosis dalam bentuk yang jauh lebih bersahaja, dengan balutan musik akustik ala Maxwell yang membuat para pendengar seperti saya merinding mendengarnya. Tentunya peran Raisa, yang bernyanyi bersama Nino tidak mengurangi keindahan lagu ini. Sangat menenangkan, walaupun sebenarnya liriknya menyiratkan kegundahan yang kental.
Pada lagu berikutnya yang berjudul “Luka Seorang lelaki” yang diambil dari puisi berjudul sama milik Irwan Dwi Kustanto. Saya mendengar nafas folk yang muncul pada duet Dody-Riqo dimana mereka juga betindak sebagai arranger dan pencipta lagunya. Gaya bermain gitar dan karakter vokal duo ini yang saya pikir membawa nafas folk yang bukan berarti lagu ini kekurangan nilai estetisnya tapi malah jadi kekuatan sinergi yang lumayan kuat.
Lagu “Sepi” yang diciptakan oleh Endah N Rhesa berdasarkan puisi karya Siti Atmamiah membawa kita ke lorong-lorong sunyi. Illustrasi pembacaan puisi oleh Maudy Koesnaedi dengan latar belakang suara enharmonik dari bass Rhesa terasa sangat dalam. Saya seolah sedang menonton sebuah trailer film yang bercerita tentang kesepian yang mendalam ketika mendengarkan lagu ini, dan saya yakin andapun demikian.
Cornelia Agatha….aktris yang sudah kita kenal berhasil membacakan puisi dengan sangat baik. Adalah puisi milik Irwan Dwi Kustanto yang berjudul “Angin Pun Berbisik” yang ia bawakan dengan penghayatan yang saya mesti acungkan jempol. Peranan Yessi Kristianto & Rhesa Aditya sebagai arranger pun punya andil yang cukup baik. Intro yang kuat lalu mulai masuk ke background ketika Lia mulai membaca puisi membuat ekspresi Lia ketika membacakan puisi jadi semakin kuat.
Lagu “Angin” yang dibawakan oleh Jodhy Yudono yang didasari oleh puisi karya Zeffa Yurihana juga dibawakan dengan gaya folk dari perspektif yang berbeda dibandingkan dengan duo Dody-Riqo. Judhy yang memainkan gitar diiringi oleh Choirul Alhuda yang memainkan violin & viola membawa kita ke suasana alam nan bersahaja. Jangan lupa oleh pembacaan puisi oleh si kecil Yoga Sukma Khalid Nan Agung yang diselipkan pada tengah lagu. Sangat syahdu dan bersahaja.
Album Musikalisasi “Angin Pun Berbisik” ini bisa saya kategorikan sebagai salah satu musikalisasi puisi yang berhasil memadukan dua ranah seni ini menjadi satu kesatuan yang cantik. Dahulu saya sempat terperangah ketika duo Ari & Reda membuat musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, nah kali ini kembali saya terperangah ketika mendengarkan album musikalisasi puisi ini. Terima kasih buat semua yang terlibat yang membuat puisi-puisi dalam album ini jadi bisa didengarkan oleh semua orang termasuk saya.
Cerita di balik album ini pun tak kalah menarik dan menyentuh kalau boleh saya bilang demikian. Dari mulai puisi-puisi yang dihadirkan adalah puisi pilihan dari buku antalogi puisi “ANGIN PUN BERBISIK”. Karya Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah dan Zeffa. Pak Irwan adalah seorang tuna netra, sedangkan Ibu Siti dan Zeffa adalah istri dan anaknya yang bermata awas sampai dengan tekad menyumbangkan hasil penjualan seluruh CD ini pada 100% pada Yayasan Mitra Netra sebagai pendanaan buku Braille untuk tuna netra.
Saya iseng menanyakan bagaimana cara mendapatkan CD tersebut dan informasi yang saya dapatkan adalah:
CD musikalisasi puisi dapat Anda pesan melalui :
Yayasan Mitra Netra (021-7651386) (www.mitranetra.or.id)
dan HP nya Endah N Rhesa 08161443431 atau email di endahwidiastuti@yahoo.com
(datang ke Loca tiap Rabu malam, anda bisa bertemu dengan Endah N Rhesa di sana dan beli CDnya di mereka)
Well, jadi bila kita membeli CD ini selain kita mendapatkan lagu-lagu yang bagus, kitapun beramal.
Saya gak tahu apakah ini bisa disebut dengan kebanyakan ide atau banyak maunya hehehehe. Anyway, saya berniat membukukan kumpulan sajak 3 baris dan saya ingin mengundang teman-teman yang tertarik untuk ikutan. Jadi jika tertarik silahkan register di sini dan klik di bagian Sitemap, lalu mulailah mempostingkan sajak 3 baris kalian.
Definisi sajak 3 baris adalah simply sajak yang terdiri dari hanya 3 baris tanpa kehilangan kaidah-kaidah sajak nya. Ada yang menyebutnya dengan haiku, senryu, short poem, tapi saya lebih suka menyebutnya dengan sajak 3 baris. Tantangannya adalah bagaimana dengan hanya 3 baris kita bisa membuat sajak yang lengkap. Lengkapnya seperti apa? Well…..bisa di “rasakan” bahwa ini sajak ketika dibaca.
Saya sempat membuat tulisan di sini mengenai Sajak 3 Baris ini serta apa yang membuat saya tertarik dan juga siapa yang jadi pemicu untuk saya. Silahkan klik di sini.
Nah, bagaimana? berani menerima tantangan ini?
Tadi malam saya berkesempatan untuk melakukan kolaborasi membuat puisi dengan salah satu rekan saya di komunitas Warung Puisi, Naz. Saya selalu suka melakukan kegiatan kolaborasi membuat puisi karena dengan melakukan kegiatan ini secara tidak sadar keseluruhan radar yang ada pada tubuh kita di “panaskan” (menggunakan istilah dalam otomotif untuk memanaskan mesin). Kolaborasi saya dengan Naz bukanlah pengalaman kolaborasi saya yang pertama tapi saya sudah pernah melakukannya dengan rekan-rekan lain, seperti contohnya dengan Setiyo Bardono (Pupur Rindu), Hasan Aspahani (Di Ambang Terbang), Nina Yuliana (Rama Di Rana), dan yang terakhir ya dengan Naz dimana hasil kolaborasi nya menghasilkan sebuah puisi yang berjudul “Habis”.
Kita semua pasti pernah mengalami satu keadaan yang disebut “sedang kehabisan ide” atau di dunia penulis ada istilah “Writer’s Block”, dimana kita merasa tidak mampu mendapatkan ide-ide baru untuk menghasilkan suatu karya atau menyelesaikan pekerjaan. Dalam dunia puisi menurut pengalaman saya, karena segalanya berawal dari kata, saya pikir selama kita masih menggunakan kata untuk berkomunikasi maka selama itu pula kita tidak pernah kehabisan ide. Tapi mengapa kita tetap merasa stuck dan tidak bisa maju? Information overload, pernah dengar istilah ini? Dimana otak kita kebanjiran informasi sampai bingung sendiri untu memulai sesuatu dan ujung-ujungnya mandeg. Nah kalau kita masukkan dalam dunia puisi, maka yang terjadi adalah (merasa) terlalu banyak kata yang berseliweran sehingga lama-lama kata-kata tersebut kehilangan keistimewaannya di mata si penyair, sehingga yang mengakibatkan mereka tidak bisa mendapatkan ide.
Memang susah dilakukan tapi bila kita mau belajar pasrah terhadap keinginan menghasilkan karya yang menggebu lalu balik ke lembar putih dimana setiap kata kembali di murnikan ke arti-arti yang melekat padanya akan sangat membantu kita untuk lebih santai, karena menurut pengalaman saya, memaksa kepala kita untuk menghasilkan karya dimana kita masih dalam situasi “kehabisan ide” hanya akan membuat karya yang dihasilkan menjadi tidak maksimal, walaupun saya tidak menafikan bahwa kadang-kadang cara seperti ini juga bisa bekerja dengan baik dengan melakukannya by stages. Cara lain yang saya lakukan adalah mencari pemantik dengan mengajak teman yang suka menulis puisi untuk berkolaborasi. Selayaknya dua orang yang hendak berduel, masing menyiapkan tembakan kata yang akan jadi pemantik ide buat orang-orang yang terlibat di dalam duel tersebut, kira-kira analoginya demikian.
Kehabisan ide? mari berkolaborasi….:-)
Hari ini seperti hari yang penuh berkah buat saya, kenapa demikian? Saya selalu menganggap diri saya mendapatkan berkah jika saya berhasil mendapatkan apa yang kita sebut dengan “manfaat” dalam hidup ini. Manfaat ini tidak harus sesuatu yang besar-besar atau hebat-hebat, bahkan sesederhana kepuasan mengobrol pun itu saya anggap dengan berkah. Lalu berkah apa yang saya dapatkan hari ini?
Masih terbayang-bayang di kepala saya, pada saat saya bertemu dengan sahabat saya, bang Hasan Aspahani, seorang penyair yang juga berprofesi sebagai pemred harian Batam Pos yang kebetulan sedang berkunjung di kota tempat saya tinggal. Sedemikian nikmatnya kami ngobrol dan diskusi kemarin malam hingga sampai saat ini masih saja saya teringat. Lalu peristiwa lainnya yang terjadi hari ini adalah saya diberikan kesempatan untuk berbagi pengetahuan dengan teman-teman penggemar puisi dan juga penyair-penyair muda untuk mengenal lebih jauh apa yang disebut dengan Haiku dan lalu bersama-sama berdiskusi tentang Haiku serta turunannya, lalu diakhiri dengan ajakan untuk mencari seperti apa sih Haiku versi Indonesia itu? Pertanyaan yang benar-benar sangat menggelitik, dan sesi berbagi pengetahuan itu tadi juga memberikan feedback yang bagus sekali menurut saya buat semua orang yang ikutan tadi dan juga buat saya.
Lalu yang terakhir adalah barusan saya berkesempatan lagi untuk chatting via Yahoo! Messenger dengan bang Hasan Aspahani dan kesempatan tersebut lagi-lagi tidak kami sia-siakan dan kami kembali saling berbagi pengetahuan kembali. Kali ini diskusi kami malah sempat menyinggung masalah pola berkreasi secara global, walaupun kami mengacu pada pola berkreasi yang dilakukan oleh salah seorang penyair yang berasal dari Amerika yang bernama Ted Kooser yang baru saya tahu menggunakan teknik reversed-thinking dalam menghasilkan karya-karya puisinya sehingga alih-alih dia menghasilkan puisi yang jelimet dan sukar dimengerti, tapi dia justru menyederhanakannya sesederhana mungkin supaya bisa dinikmati oleh banyak orang.
Pendekatan yang dilakukan oleh Ted Kooser ini mengingatkan saya pada pendekatan seorang desainer pada saat berkarya. Pada dasarnya desainer dan seniman itu menggeluti bidang yang sama, yaitu seni. Hanya bedanya adalah seorang seniman cenderung menghasilkan karya sebagai ekspresi berkeseniannya, dan biasanya karya tersebut adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan seorang desainer akan mencoba mendekatkan diri pada masyarakat pada saat ia hendak berkarya, karena pada dasarnya seorang desainer itu menghasilkan seni yang terpakai atau yang sering disebut dengan applied art. Nah saya melihat pola desainer ini pada cara Ted Kooser berkarya, dan ini sangat-sangat menarik.
Saya mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan mengenai Haiku dimana terakhir saya mendapatkan kesempatan pengetahuan juga (namun dalam bidang yang berbeda) adalah disekitar tahun 2004-2005 dimana saya menjadi asisten dosen di Parsons School of Design, NYC untuk mengajar mahasiswa master. Saya berkesempatan untuk bisa menggali kembali ingatan-ingatan saya yang sudah lama terkubur tentang desain, bidang yang saya pilih pada saat saya kuliah dulu dan tetap menjadi mimpi saya sampai saat saya diberi kesempatan untuk menjalankannya.
Dan untuk hari ini, saya bersyukur….:-)
ps: bang Hasan, thanks buat Orgasmaya nya, it’s such a wonderful book to read
Dalam waktu dekat saya diminta untuk menjadi mentor di salah satu komunitas penggemar puisi dengan topik “Haiku dan turunannya”. Sedikit banyak saya merasa kaget juga ketika tiba-tiba salah satu pengelola komunitas tersebut menyapa saya di Yahoo! Messenger dan lalu atas permintaan teman-teman di komunitas tersebut saya diminta untuk “berbagi pengetahuan” tentang Haiku dan turunannya. Ya saya akan coba sebisa saya.
Saya sebenarnya ingin menghindari penyebutan nama “Haiku” ketika menyebut sajak-3-baris (3-line-poems) yang kerap saya buat, karena jujur saja jika kita menyebut Haiku, maka segala kaidah Haiku menurut hemat saya seharusnya juga diikut sertakan. Nah ini yang sangat berat pertanggung jawabannya. Saya tidak akan masuk ke sejarah Haiku karena untuk ini sebaiknya teman-teman bisa langsung menggali di perpustakaan maya yang tersebar di internet dengan menggunakan mas gugel atau mbak yahu. Saya sendiri banyak mendapatkan input dari Wikipedia yang menjelaskan tentang Haiku dan Senryu secara cukup rinci.
Istilah sajak-3-baris/3-line poems ini saya pakai untuk menyebut sajak-sajak pendek yang hanya terdiri dari 3 baris yang saya buat dan saya kumpulkan dalam satu kategori sendiri di PaparanKata.Com yang saya namakan dengan Kategori Short Poetry. Kembali lagi ke Haiku, seperti yang kita tau memiliki banyak sekali aturan, dan poin yang terpenting adalah pada saat haiku, haibun dan saudara-saudaranya dibuat mereka disesuaikan dengan bahasa yang dipakai di sana, ya tentu saja bahasa Jepang, sehingga aturan-aturan jumlah suku kata jadinya sangat sulit diterapkan pada bahasa-bahasa yang lain.
Adalah Jack Kerouac yang membuka mata saya dalam keputusasaan membuat haiku. Dalam bukunya yang berjudul “Book Of Haikus”, Jack dengan sadar dan sengaja melabrak semua kaidah-kaidah dalam Haiku dan membuat lini baru yang seringkali disebut dengan istilah American Haiku. Simak apa yang Jack paparkan dalam Book of Haikus:
“The American Haiku is not exactly the Japanese Haiku. The Japanese Haiku is strictly disciplined to seventeen syllables but since the language structure is different I don’t think American Haikus (short three-line poems intended to be completely packed with Void of Whole) should worry about syllables because American speech is something again…bursting to pop.
Above all, a Haiku must be very simple and free of all poetic trickery and make a little picture and yet be as airy and graceful as a Vivaldi Pastorella.”
Jack Kerouac
Tidak ada keharusan dalam membuat struktur 5-7-5, tidak ada keharusan refleksi waktu pada sebuah haiku. Lalu apakah haiku bentuk baru ini menjadi kehilangan nyawa? Ya balik lagi pada si penyair, keberhasilan si penyair membubuhkan nyawa pada sebuah haiku seharusnya dijadikan tantangan. Coba lihat haiku-haiku karya Jack dibawah ini:
No telegram today
only more leaves
fell.
Holding up my
purring cat to the moon
I sighed.
Drunk as a hoot owl,
writing letters
by thunderstorm.
Empty baseball field
a robin
hops along the bench.
All day long
wearing a hat
that wasn’t on my head.
Poppish, witty….dua kata itu yg muncul di benak saya ketika membaca haiku karya Jack. Pertanyaan saya selanjutnya adalah, Bagaimana dengan Indonesian Haiku?
Apa jadinya jika sekelompok penulis puisi (saya menghindari penyebutan “penyair” karena kok rasanya berat dan jauh diatas banget, hehehe) bersama-sama menginterpretasikan lagu-lagu dalam genre tertentu ke bentuk puisi? hasilnya menurut saya adalah sebuah karya yang dahsyat (aneh atau nyeleneh). Coba berkunjung ke ProgPoetry di mana sejumlah penulis puisi yang juga menggemari musik progresif berkumpul dan mengumpulkan karya-karya puisi mereka yang berbentuk interpretasi terhadap musik-musik progresif yang mereka dengarkan. Bukan itu saja, mereka pun mengundang penulis-penulis puisi lainnya untuk bergabung. Bagaimana menurut anda?

Copyright © 2013 · Copyblogger Theme on Genesis Framework · WordPress · Log in
Recent Comments