History Of Social Games

HistorySocialGames1

Sebenarnya apa yang kita kenal dengan social game itu sudah ada sejak 5000 tahun yang lalu, dimana kata “social” pada social game sendiri mungkin pengertiannya sangat berbeda dengan social game yang kita kenal pada saat ini. Pada infographic yang saya dapatkan pada websitenya Jon Radoff ini, dipaparkan sejarah social game mulai dari jaman Mesir kuno sampai dengan jaman sekarang. Jon menggunakan istilah “social network games” untuk membedakan social games (farmtown, etc) yang memang sudah dimainkan menggunakan platform social networks yang sudah ada.  [Read more...]

Jakarta – The Social Media Capital Of The World

jakarta_socmedcapital

Brand24 sebuah perusahaan yang memfokuskan diri pada social media monitoring baru-baru ini merilis sebuah infographic yang menunjukkan aktivitas penduduk Indonesia pada umumnya dan penduduk jakarta pada khususnya. Jakarta digambarkan sebagai kota yang sangat “social” dengan pencapaian peringkat dua dalam hal penggunaan Facebook di dunia. Dan data-data lainnya yang berkaitan dengan aktivitas social media Jakarta bisa Anda lihat langsung di infographicnya.  [Read more...]

Cara Mendapatkan Kepercayaan di Social Media

Profil yang baik memang dibutuhkan untuk mencapai trust (kepercayaan) di social media namun itu tidaklah cukup. Untuk bisa mendorong kehadiran Anda di social media ke tingkat selanjutnya maka Anda perlu kepercayaan (trustworthiness) dari masyarakat.

Didalam bukunya, Enchantment, Guy Kawasaki memaparkan cara-cara mencapai trustworthiness yang efektif di social media.

Muncul. Di social media, seperti juga di dunia nyata Anda bisa mendapatkan perhatian, sama seperti jika Anda berbagi, berkomentar dan juga saat ikut serta menambah informasi. Anda tidak perlu jadi seorang penulis terkenal, cukup dengan berbagi dua-tiga kali sehari dan berkomentar pada tiga sampai lima posting dari tulisannya orang lain untuk beberapa bulan membuat orang-orang bisa mulai mengenal Anda. Familiarity breeds consent.

Membuat komunitas lebih baik. Orang percaya pada siapa saja yang bisa memberikan nilai tambah bagi sebuah komunitas di social media. Dan juga sebaliknya, orang akan kehilangan kepercayaan pada siapa saja yang tidak bisa memberikan nilai tambah. Sesederhana itu, jadi usahakanlah membantu orang lain setiap hari. Bentuknya bisa beragam: Bantuan teknis, berbagi informasi tentang resources, atau bahkan sesederhana memberikan empati pada kabar buruk dari orang lain. Berikan tanpa mengharapkan pamrih, dan biasanya ironisnya justru kemungkinan untuk mendapatkan imbas baliknya justru makin meningkat.

Jangan besar mulut. Bila Anda ingin mendapatkan reputasi yang terpercaya, jangan biasakan diri menyerang atau menjelek-jelekkan orang lain atau usaha mereka. Usahakan selalu bersikap positif. Selalu bersikap optimis. Atau ya diam. Biarkan saja orang lain bersikap besar mulut. Seperti kata pepatah lama, “Bila kamu tidak punya sesuatu yang baik untuk dikatakan, maka diamlah”.

Selalu menjaga sikap. Ada korelasi yang tinggi antara bermulut besar dengan suka mengumpat. Sebaiknya kurangi mengumpat. Sekali dua kali dalam setahun bolehlah sebagai pelepasan emosi. Keseringan “nyampah” dengan memaki-maki di social media adalah musuh terbesar dari trustworthiness.

Percaya orang lain terlebih dahulu. Bila Anda ingin jadi orang yang dipercaya, maka Anda harus bisa mempercayai orang lain terlebih dahulu. Ini bukan dilema ayam dan telur lho ya. Ada urutan yang jelas: Anda percaya lalu Anda akan dipercaya. Berikan pada orang lain kesempatan untuk berdebat dan berasumsi bahwa mereka punya niat baik sampai akhirnya ada pembuktian.

Ungkapkan minat Anda. Tidak ada yang salah dengan menggunakan social media sebagai mata pencaharian. Yang jadi masalah adalah jika Anda tidak mengungkapkan conflict of interest yang terjadi atau Anda mempromosikan sesuatu lebih dari 5% dari seluruh waktu Anda di social media. Misalnya, Anda menggunakan hashtag #spon ketika Anda melakukan twit berbayar. Memang banyak pro-kontra dalam melakukan promosi di social media, namun bukan berarti kita harus menyembunyikannya.

Raihlah pengetahuan dan kompetensi. Orang mempercayai seorang ahli/ekspert, jadi diskusikan apa yang Anda benar-benar fahami atau jadilah seorang ekspert dan sumber yang terpercaya. Atau buat orang sadar dengan apa yang Anda ketahui/fahami jika Anda memang seorang ahli/ekspert. Jangan jerumuskan kredibilitas Anda dengan mengekspresikan topik-topik yang ada diluar spesialisasi Anda.

Buatlah kue yang lebih besar. Ada dua jenis orang: Pemakan dan Pemasak. Pemakan akan berfikir bahwa dunia adalah a zero-sum game: Apa yang mereka makan, orang lain tidak boleh ikutan memakannya, jadi mereka bisa memakannya sebanyak yang mereka inginkan. Pemasak berfikir bahwa dunia bukanlah a zero-sum game. Mereka selalu akan bisa memasak sendiri kue untuk mereka, lebih banyak dan lebih besar bahkan. Dan setiap orang bisa memakan lebih banyak. Orang lebih mempercayai Pemasak, bukan Pemakan.

Hindari pengertian yang buruk. Penggunaan sesuatu yang mengandung pengertian buruk untuk mencapai hasil yang baik gampang membuat tergelincir. Dalam sejarah banyak orang yang terjungkal karena masalah ini, bukan hanya pada era social media. Ketika Anda sedang mempertimbangkan sebuah tindakan, contohnya melakukan spamming untuk alasan yang baik, usahakan cek ulang tentang apa yang akan Anda lakukan.

Kesimpulan

Jangan berkesimpulan bahwa kata kunci dari kepercayaan itu adalah melakukan sesuatu yang bisa dipercaya. Itu sama aja seperti Anda memberikan lipstik pada kambing, after all tetap saja kambing yang Anda beri lipstik…:-D . Perhatikan hal-hal yang mendasari dari kepercayaan tersebut sehingga Anda bisa menyampaikan kepercayaan tersebut dengan lebih baik.

Bila Anda memang pada dasarnya orang baik dan jujur, dan Anda tunjukkan itu, maka Anda akan menikmati kepercayaan dan reputasi yang baik di social media. Dan dengan reputasi ini akan membuat semua pengalaman bersocial media Anda juga akan jadi lebih baik.

*sumber foto

Cara Efektif Mengangkat Jumlah Kunjungan Lewat Social Media

Social media bisa menjadi cara yang cukup efektif untuk membuka hubungan yang lebih erat dengan pelanggan/pengunjung situs/pengguna produk Anda, brand’s exposure dan juga mengangkat trafik ke situs Anda. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk memulainya:

Gunakan satu suara secara konsisten: Harus diingat bahwa banyak pelanggan/pengunjung situs/pengguna brand Anda sudah terekspos dari banyak tempat lainnya di dunia online dan begitu juga di offline, jadi jangan membingungkan mereka dengan “pesan” yang berbeda-beda untuk setiap media. Apakah Anda menggunakan situs/blog, atau menggunakan Twitter, Facebook selalu ingat untuk menggunakan pesan-pesan yang konsisten di semua media yang Anda gunakan. Dengan melakukan ini Anda meciptakan pesan-pesan dari brand yang lebih jelas, yang artinya lebih memudahkan mengkonvert pengunjung menjadi pelanggan nantinya.

Tentukan gol dan tujuan utama Anda: Tentukan terlebih dahulu apakah yang ingin dicapai adalah menaikkan jumlah kunjungan (trafik) pada situs/blog Anda atau menaikkan jumlah pembelian produk dari situs/blog Anda? Begitu Anda sudah menentukan gol keseluruhan, delegasikan satu titik fokus untuk strategi dan gunakan kanal-kanal yang terpisah untuk menghasilkan trafik dari masing-masing kanal tersebut. Sebagai contoh, bila Anda gol Anda ingin mengarahkan trafik ke blog, gunakan Twitter untuk “mengiklankan” blog Anda tersebut. Atau bisa juga mengarahkan trafik ke situs Anda dengan cara mengajak pengunjung untuk membaca artikel, laporan-laporan atau juga tools tertentu yang adanya di situs Anda tersebut yang juga bisa di tawarkan untuk mebeli produk-produk ataupun jasa dari bisnis Anda. Jangan lupa menyertakan link-link ke sumbernya disitus Anda dari Facebook dan Twitter ataupun media-media lainnya seperti YouTube.

Jangan lupa pesan-pesan offline Anda: Media-media marketing tradisional yang biasa dipergunakan juga bisa jadi jalur yang baik untuk mengarahkan trafik ke situs-situs social media Anda. Contohnya, menyertakan alamat situs/blog Anda pada  materi promosi seperti brosur, kartu nama. Juga jangan lupa menyertakan alamat situs Anda bersama dengan link ke Facebook dan Twitter Anda pada presentasi yang akan Anda sajikan.

*tulisan ini saya ambil dari tulisan saya di Dailysocial

Presentasi: Kekhawatiran Perusahaan Pada Social Media

Pada tanggal 6 Februari 2013, saya diberi kesempatan untuk berbagi dalam sebuah presentasi pada acara peluncuran buku “Social Media Landscape 2012 in Indonesia” karya dari seorang teman saya Pitra Satvika di @America, Pacific Place, Jakarta. Buku ini berlabel Stratego yang tidak lain adalah perusahaan yang dimiliki oleh Pitra juga.

Social Media Landscape 2012 in Indonesia merupakan kumpulan dari kasus-kasus social media marketing yang terjadi di Indonesia selama 2012. Saya sendiri sengaja memilih point of view yang berbeda dari social media marketing pada kesempatan presentasi saya, yaitu melihat dari sisi yang lebih fundamental, bagaimana iklim bersocial media pada perusahaan-perusahaan yang kaitannya dengan kebebasan bersocial media pada karyawan. Topik ini memunculkan judul presentasi yang saya bawakan yaitu Kekhawatiran Perusahaan Pada Social Media.

Presentasinya sendiri bisa Anda ikuti dibawah ini:

 

Watch live streaming video from at_america at livestream.com

Foto: @madalkatiri

Apa Pengertian E-Commerce Bagi Anda?

Ada pengalaman menarik ketika saya bertemu dengan salah satu klien saya, maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya tapi yang pasti klien saya adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi perlengkapan bayi yang baru saja ingin masuk ke pasar Indonesia. Untuk masuk ke pasar Indonesia yang sudah dibanjiri banyak barang-barang produksi  China sudah sewajarnya investasi yang dilakukan harus benar-benar efisien, oleh karena itu usulan pertama yang saya ajukan adalah masuk kedunia e-commerce lalu berfokus pada online store/distibution dalam waktu paling sedikit 1 tahun, sambil menjalankan strategi online marketing yang konsisten dan taktis.

Dari hasil bincang-bincang awal dengan mereka saya dengan perlahan sadar bahwa walaupun iklim ber e-commerce di Indonesia ini berkembang cukup pesat namun pengertian tentang e-commerce di Indonesia ini cukup berbeda-beda sampai kadang agak bikin rancu terutama bagi calon pelaku, contohnya ya klien saya ini. Mereka berpendapat bahwa investasi untuk melakukan e-commerce itu sangatlah besar dan agak mubazir karena di sini sudah banyak situs-situs e-commerce. Begitu saya tanyakan tentang apa yang mereka tahu tentang e-commerce, lalu mereka menjelaskan bahwa e-commerce adalah bisnis online yang dilakukan oleh situs-situs seperti Ebay, Multiply, Tokobagus, Blibli, dan lain sebagainya, dan saya langsung sadar bahwa definisi dari e-commerce ternyata masih beragam dan kadang jadi kontraproduktif bagi perkembangan sebuah perusahaan yang justru punya potensi berkembang yang baik jika memanfaatkan e-commerce.

Apa sih sebenarnya pengertian e-commerce menurut Anda? Definisi berdasarkan Wikipedia, e-commerce adalah:

‘Electronic commerce’, commonly known as ‘e-commerce’ or ‘e-comm’, is the buying and selling of product or service over electronic systems such as the Internet and other computer networks. Electronic commerce draws on such technologies as electronic funds transfer, supply chain management, Internet marketing, online transaction processing, electronic data interchange (EDI), inventory management systems, and automated data collection systems. Modern electronic commerce typically uses the World Wide Web at least at one point in the transaction’s life-cycle, although it may encompass a wider range of technologies such as e-mail, mobile devices and telephones as well. Electronic commerce is generally considered to be the sales aspect of e-business. It also consists of the exchange of data to facilitate the financing and payment aspects of business transactions.

E-commerce can be divided into:

  • E-tailing or “virtual storefronts” on Web sites with online catalogs, sometimes gathered into a “virtual mall”
  • The gathering and use of demographic data through Web contacts
  • Electronic Data Interchange (EDI), the business-to-business exchange of data
  • E-mail and fax and their use as media for reaching prospects and established customers (for example, with newsletters)
  • Business-to-business buying and selling
  • The security of business transactions

Saking penasarannya saya menyempatkan diri untuk bertanya di komunitas pelaku social media yang tergabung dalam Social Media Strategist Club di Facebook tentang pengertian dari e-commerce tersebut, dan dari hasil diskusi didapat tambahan definisi lainnya lagi.

Well dari sekian banyak definisi yang saya dapatkan saya lebih suka menggunakan definisi yang sederhana dan mudah dimengerti oleh masyarakat luas tanpa membuat mereka jadi merasa jeri dan merasa e-commerce terlalu besar buat mereka seperti reaksi awal klien saya diatas), buat saya sendiri e-commerce adalah sebuah sistem bisnis jual-beli yang menggunakan perangkat elektronik untuk mempermudah terjadinya transaksi. Dengan definisi ini maka seseorang dengan hanya menggunakan perangkat Blackberry Messenger Group lalu melakukan aktivitas jual beli akan masuk dalam kategori e-commerce juga dan tentunya sampai pada situs-situs B2B yang memiliki perangkat transaksi yang kompleks ya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya pengertian sendiri tentang e-commerce?

KPI paska Jumlah Followers

Pada mulanya

Hampir semua pelaku social media terutama yang memang menjadikannya sebagai profesi pernah mengalami klien ataupun atasan mereka menjadikan jumlah pengikut (follower ataupun likes/fans) sebagai Key Performance Indicator (KPI) mereka. Dalam diskusi-diskusi yang berlangsung di Social Media Strategist Club yang saya ikuti, beberapa teman-teman social media strategist berpendapat bahwa tidak ada salahnya menjadikan jumlah follower/like (kuantitas) sebagai KPI asalkan klien ataupun atasan kita tahu apa yang sebenarnya didapat dari “perlombaan” fokus pada kuantitas tersebut. Berdasarkan hasil pengumpulan data kasar dari hasil ngobrol-ngobrol saya dengan brand ataupun klien setidaknya ada dua faktor yang jadi penyebab yaitu:

  1. Psikologis Narsis: Para klien/brand memperlakukan brand/layanan/perusahaan mereka seperti layaknya seorang rockstar dimana jumlah (kuantitas) fans menentukan popularitas mereka dibandingkan dengan pesaing mereka, sehingga akan muncul pernyataan-pernyataan “Lho kok followers brand kita cuman segitu? Followersnya brand B (pesaing mereka) bisa mencapai jumlah (sekian) lho” atau yang juga sering terjadi “Pokoknya kami tidak mau tahu, bulan depan followers kami harus bisa lebih banyak dari followersnya brand B ya! Gak tahu gimana caranya!”
  2. “Bahasa” yang mereka mengerti: Selain ketidak mengertian atas apa yang bisa diambil dari konsekuensi masuknya sebuah brand/perusahaan ke social media, mereka pun terbiasa menghitung KPI dari sesuatu yang bisa dihitung, dan angka (numbers) merupakan parameter yang paling mudah/terlihat jika kita ingin mengukur pencapaian dari sebuah aktivitas social media.

Lalu apa yang terjadi ketika kuantitas mereka jadikan KPI untuk para pelaku social media? Ya usaha-usaha pemenuhan akan dilakukan, dan kembali mereka mendapati kenyataan bahwa banyaknya jumlah followers/likes (kuantitas) itu tidak serta merta akan berpengaruh pada loyalitas pengguna. Aktivitas-aktivitas yang menggunakan hadiah hanya akan memngundang pemburu hadiah yang hanya loyal terhadap hadiah-hadiah yang diberikan bukan pada layanan ataupun produk yang justru menjadi target. Munculnya kebutuhan akan mencapai target kuantitas sebagai KPI pun menjadikan para oportunis “mengakali permainan” dengan membangun followers farm dimana para follower hasil semaian mereka akan dengan diarahkan untuk memfollow/likes brand/perusahaan Anda dengan tarif tertentu. Sehingga kebutuhan KPI terpenuhi. Namun angka-angka pencapaian KPI tersebut hanya akan jadi angka saja jika kita menggunakan shortcut ini, karena followers/likes ini hanya angka yang tidak bisa dikonversikan jadi apapun. Tidak terjadi konversi pada awareness ataupun bahkan sales, jadi bila ini yang terjadi ya sama saja dengan Anda membuang investasi Anda dengan percuma.

Seperti yang sudah diprediksikan, usaha jual-beli followers/likes ini akhirnya menyeruak ke permukaan dan membuat perkembangan yang cukup menggembirakan bagi tingkat pengetahuan para klien/brand. Mereka akhirnya sudah mulai tidak lagi memfokuskan diri pada kuantitas. Mereka mulai ingin pencapaian-pencapaian kuantitas tersebut juga dibarengi oleh naiknya tingkat awareness, loyalitas dan bahkan sales. Ini menandai masuknya babak baru dalam target pencapaian dari sebuah aktivitas social media.

Percakapan sebagai medium konversi

Bagi para pengelola Facebook Page, Insight adalah internal metriks yang biasanya digunakan untuk memonitor target-target pencapaian pada Facebook Page kita. Bila Anda perhatikan Facebook Page Insight kini diperlengkapi oleh fitur pengukuran yang sifatnya lebih kualitatif dibandingkan pencapaian jumlah users baru (unique users). nama fitur ini adalah Reach dan Talking About This. Dari penjelasan salah satu teman saya, seorang Digital Strategist, mas Chandra Marsono maka yang bisa kita dapatkan dari kedua fitur insight tersebut adalah:

  • Reach: Angka yang menunjukkan seberapa jauh message yang kita distribusikan mencapai para Facebook users. Dengan bahasa yang lebih sederhana bisa disebutkan jika yang meLike Anda para users yang memiliki friends banyak maka angka Reach nya akan tinggi, begitu sebaliknya. Sehingga jika perbedaan jumlah Likes Anda dengan Reach Anda cukup signifikan artinya akun-akun yang meLikes Facebook Page Anda bisa banyak ataupun sedikit tergantung besar perbedaannya.
  • Talking About This: Angka yang menunjukkan interaksi yang terjadi pada message yang Anda distribusikan. Ini bisa berarti jumlah comment, jumlah likes pada posting ataupun jumlah thumbs-up. Total dari keseluruhan akan ditunjukan oleh angka pada Talking About This.

Parameter yang dimiliki oleh Facebook ini menjadikan para pengguna bisa mengukur kualitas dari engagement yang terjadi sehingga kuantitas yang sudah terbukti bisa diakali tidak jadi parameter tunggal penentu KPI lagi. Pengukuran mulai bergeser ke arah yang lebih esensial ketimbang pengukuran semu jumlah follower/likes yang memang susah untuk dipertanggung jawabkan. Percakapan sebagai medium engagement sedikit demi sedikit mulai mengambil alih fungsi konversi (awareness dan juga penjualan) yang sebenarnya. Dan akhirnya memang akan kembali pada pengelolaan komunitas (community management) dimana creating evangelist/loyalist akan jadi target yang sebenarnya.

Bagaimana menurut Anda?

(sumber foto)

*Tulisan ini juga bisa dibaca di kolom Dailysocial saya

Kekuatan Obrolan Ringan Pada Social Media

Bila kita berbicara mengenai media pers di dunia social media maka yang sering kita dapatkan adalah perpindahan kanal distribusi dari jalur umum (baca website) ke jalur social media. Yang saya maksud dengan kanal distribusi adalah mereka memperlakukan jalur tersebut hanya sebagai media penyampaian tanpa mempedulikan kemampuan engagement yang bisa dibangun pada social media yang mereka pergunakan, sehingga yang terjadi jika kita memfollow/subscribe sebuah social media dari media pers, timeline kita akan dibanjiri informasi-informasi atau link-link menuju sumber informasi. Ya dalam sudut pandang pengguna/pembaca situasi seperti ini memang diharapkan karena kita istilahnya sengaja “berlangganan” untuk mendapatkan berita-berita tersebut. Namun dari sudut pandang pemilik media saya pikir sangatlah sayang menggunakan social media hanya sebatas jalur distribusi dimana sebenarnya social media bisa dimanfaatkan untuk membangun loyalty dengan membina engagement pada para pembaca tersebut. Terus terang saja saya melihat belum banyak yang berfikir kearah itu.  [Read more...]

Buzzer dan Influencer

“Bang, buzzer dan influencer itu beda kan ya?” Sahabat saya Oddie siang ini melontarkan pertanyaan tersebut.

Dalam konteks dunia online, apa sih yang disebut dengan Buzzer? Dan apa yang disebut dengan Influencer? Dulu saya masih berfikir itu hanya masalah penyebutan saja dan pada dasarnya keduanya adalah sama namun pada saat Oddie bertanya, saya sempat memikirkannya sejenak, menggunakan common sense untuk mendefinisikannya dan yang keluar adalah:

Buzzer dan Influencer ya berbeda. Buzzer adalah sebuah akun/nama yang memiliki banyak pengikut namun belum tentu memiliki fokus pada bidang tertentu. Influencer adalah sebuah nama/akun yang dikenal berfokus pada bidang tertentu dan orang-orang ‘mengikuti’ nya (baca: memfollow) karena bidang tersebut.

Seseorang bisa hanya memiliki follower 100 orang namun karena ia adalah seorang influencer maka 100 orang follower tersebut bisa dikategorikn sebagai loyal follower. Begitu juga seseorang bisa memiliki jutaan follower namun tidak bisa dikaitkan dengan bidang apapun, nah orang ini bisa disebut buzzer.

It’s still debatable, tapi setidaknya begitulah kacamata saya memandang definisi buzzer dan influencer.

Bagaimana menurut Anda?

Bagaimana Jaringan Sosial Bekerja Secara Sederhana

Daniel dan Jennifer Northcutt, pemilik Frank Hotdogs Cold Beer memang tidak tinggal di Indonesia, mereka tinggal di Austin, Texas dan memulai usaha mereka seperti orang lain dengan mengandalkan social media sebagai media penghubung dan sarana mendekati pelanggan serta calon pelanggan. Video di atas memang salah satu dari iklan Google Chrome namun saya lebih suka melihat iklan diatas sebagai refleksi dari apa yang bisa kita semua dapatkan bila kita menggunakan social media. Kebetulan Google Chrome adalah sebuah social network yang dimiliki oleh Google, namun sebagai social tools banyak pilihan yang bisa Anda gunakan bila ingin memiliki cerita seperti Frank Hotdogs Cold Beers di atas.

Apakah Anda sudah mencoba?