Muslim dan Mobil Boks


foto: bhayangkaranews

*Tulisan dari penulis tamu (guest blogger)

Beberapa hari lalu, setelah menunaikan Zuhur bersama, teman saya melontarkan bahan pembicaraan seputar kesedihannya pada kondisi sesama pemeluk agama Islam di tanah air pasca-teror bom di Surabaya beberapa waktu lalu. Baca lebih lanjut

Iklan

Gaji Guru


Kemarin saya dan Tyas (istri saya) membicarakan pendapatan guru yang membuat perasaan kami berdua jadi cukup nelangsa.

Kami merasa seorang guru yang punya peran penting berpartner dengan orang tua dalam mendidik anak-anak kami menjadi pintar dan siap menghadapi dunia seharusnya bisa dihargai lebih baik lagi. Apalagi institusi pendidikan dimana kami mendapatkan informasi tersebut adalah salah satu institusi pendidikan swasta papan atas dimana uang sekolahnya cukup mahal.

Kami berdua cukup kaget dengan informasi ini namun saya sadar sepenuhnya akan subjektivitas dari kekagetan kami ini. Karena mungkin saja kekagetan ini hanya milik kami (subjektif) namun mungkin juga kekagetan kami ini mewakili kekagetan orang-orang lain yang memandang dan berfikir sama dengan kami.

Menuntut Terlalu Banyak Pada Jakarta


Sepertinya dari kita banyak yang push too hard on Jakarta. Bisa dimengerti karena Jakarta jadi tempat kita menggantungkan hidup, Jakarta tempat kerja, Jakarta pernah punya gubernur yang hebat, sampai dengan alasan Jakarta adalah ibukota kita. Tapi pernah terpikirkan gak sih bahwa Indonesia punya banyak kota yang mungkin saja bisa dijadikan proyek percontohan kota ideal bagi kita semua.

Jakarta is a hard place to get karena banyak orang menganggap Jakarta adalah the most prestigious place, the most powerful place. Tapi saya pikir banyak juga orang yang mencari peaceful place to live and work bukan?

Menurut saya seharusnya setiap kota bisa menjadi tempat yang nyaman untuk hidup dan bekerja asalkan saja infrastruktur dan fasilitasnya bisa mendukung, yekan?

What do you guys think?

Memperpanjang Umur Pesan Kultwit


Pernah dengar istilah kultwit? Ya sekarang mungkin sering disebut dengan twit berseri, threaded tweet, atau apapun itu.

Secara penyampaian sama sekali tidak ada yang salah dengan serial tweet tersebut. Permasalahannya hanya twit berser itu hanya efektif untuk momen-momen tertentu dan cenderung realtime.

Utk memperpanjang momennya ya harus di preserve di blog, sehingga bagi yang datang belakangan….ya bisa mengunjungi blogpostnya.

Alternatif lain…..ya gunakan Chirpstory, walaupun menurut saya sih mendingan menggunakan blog 🙂

Segalanya Bermula dari Identitas


Identitas di media sosial itu sangat penting. Begitu orang meragukan identitas kita maka kepercayaan terhadap diri kita juga tidak sepenuhnya terbentuk. Begitu terbatasnya keberadaan diri kita di media sosial sehingga kita butuh setidaknya memulainya dari mendeclare identitas diri kita dengan benar (kecuali jika memang sengaja ingin disembunyikan dengan niat apapun itu) sebelum segala sesuatu dari kita yang ingin kita bagikan (baca: konten) bisa mendapatkan apresiasi dari khalayak.

Segalanya bermula dari identitas

Mendengarkan Spotify Bareng Evandra


Jika kita terhubung di media sosial, pasti tahu bahwa pola bekerja saya agak berubah akhir-akhir ini. Tepatnya ya waktu kerjanya sih yang berubah. Dulu saya dijuluki sebagai night owl karena kalau kerja sering sampai lewat tengah malam, namun kini, saat Evandra (anak saya) selalu minta ditemani untuk tidur setiap malam, maka saya jadi mulai sering tidur awal dan otomatis bangunnya sering jadi terlalu awal dan saya gunakan untuk mulai bekerja sebelum Shalat Subuh. Nah Evandra pun sama ternyata, bangunnya cukup early yaitu seringnya jam 05.30 dan langsung beranjak ke meja kerja papa nya untuk minta mendengarkan lagu dari Spotify atau YouTube sambil dipangku. Baca lebih lanjut

Mengundang Anda Sebagai Blogger Tamu


Sudah lama saya ingin mengundang teman-teman penulis ataupun blogger untuk bisa jadi blogger tamu (guest blogger) di blog saya ini, namun niatan tersebut selalu tertunda. Banyak hal yang membuat saya selalu mengurungkan niatan saya tersebut dan sebagian besar dikarenakan saya tidak terlalu pede untuk jadi “tuan rumah” bagi tamu-tamu blogger yang ingin saya undang tersebut. Baca lebih lanjut