Darah Baru Javajazz 2009


Menyaksikan konser tunggal Javajazz dengan formasi baru tanpa mendengarkan album mereka terlebih dahulu menjadi tantangan tersendiri buat saya. Mengapa tidak? Sekitar 11 tahun yang lalu saya menonton konser mereka dan saat itu pun musik mereka sudah membuat saya terpukau. Dan pada tanggal 10 untuk pertama kalinya semenjak konser terakhir mereka, Javajazz kembali tampil, dan tidak hanya itu. Kita tahu alm. Embong Rahardjo sudah meninggal beberapa saat yang lalu, dan saat ini kali pertama juga Javajazz tampil tanpa alm. mas Embong Rahardjo. Bisa dibayangkan kenapa saya deg-degan, diantara ekspektasi dan tanda tanya berkaitan dengan seperti apa musik Javajazz formasi baru pada saat mereka tampil.

Seperti kita ketahui, formasi baru Javajazz yang tampil pada konser tunggal yang sekaligus menandai diluncurkannya album baru mereka yang berjudul “Joy Joy Joy”, bukanlah formasi yang benar-benar baru, tapi lebih pada formasi pertama mereka plus digantikannya posisi alm. mas Embong Rahardjo (sax & flute) dengan Dewa Budjana (gitar) yang juga anggota Javajazz formasi kedua, dimana pada saat itu (1993), formasi mereka hampir seluruhnya baru kecuali Indra Lesmana dan mas Embong (gitar: Budjana, drum: Cendy Luntungan, perkusi: Ron Reeves).

Banyak yang menyangka hadirnya Budjana pada formasi terakhir Javajazz ini untuk menggantikan alm. mas Embong, tapi buat saya memang tidak ada yang bisa menggantikan keberadaan alm. mas Embong, dan memang itu pula yang saya dapati pada konser malam itu. Kembalinya Budjana tidak dipungkiri memberikan darah baru dan warna tersendiri, dan ini menjadikan Javajazz seperti dilahirkan kembali dengan penampilan dan warna baru.

Dewa Budjana & Donny Suhendro

Dewa Budjana & Donny Suhendro

Memiliki dua gitaris dalam satu band merupakan suatu hal yang biasa, tapi memiliki seorang Dewa Budjana dan Donny Suhendra dalam satu band itu menurut saya adalah hal yang luar biasa. Mengapa tidak? Memiliki dua gitaris sekaliber mereka berdua diatas yang sama-sama memiliki kemampuan diatas rata-rata tentu bukanlah hal yang mudah, apalagi kedua gitaris ini punya karakter bermusik dan jenis pilihan sound mereka sendiri. Namun justru dengan kematangan bermusik yang mereka miliki, mereka berhasil meramu dan membagi porsi masing-masing dalam tiap-tiap lagu tanpa saling “memakan”. Pendekatan progresif Budjana dengan sound gitar yang rough dan cenderung rock kontemporer ditunjukkan dalam lagu yang berjudul “Border Line” dan “Java’s Weather” serta Budjana juga memainkan Banjo pada beberapa nomer seperti pada “Exit Permit”. Budjana sangat menonjol pada kebanyakan lagu-lagu baru yang ditampilkan pada album ini. Sementara Donny dengan ciri fusion nya yang khas sangat ketara pada lagu-lagu yang diambil pada album-album sebelumnya seperti “The Seeker” dan “Bulan di Atas Asia”.

Indra Lesmana dengan Breath Controller

Indra Lesmana dengan Breath Controller

Lalu bagaimana peranan alat musik tiup yang pada album-album sebelumnya sangat menonjol dengan adanya alm. mas Embong? Pada porsi ini, Indra Lesmana yang memang selama beberapa tahun terakhir menunjukkan ketertarikan terhadap alat musik Pianika (setidaknya inilah alat baru yang sering digunakan oleh Indra saat di panggung), mencoba mengangkat spirit alm. mas Embong saat beliau masih di Javajazz. Bukan hanya pianika elektronik yang sering ia gunakan tapi juga ia menggunakan breath controller untuk mengatur velocity (kuat tidaknya suara yang keluar) pada keyboardnya. Efek yang didapat ya hampir menyerupai alat musik tiup hanya memang tidak bisa semulus saxophone, karena sangat dibatasi oleh balok-balok keys.

Gilang Ramadhan

Gilang Ramadhan

AS Mates

AS Mates

Gilang Ramadhan dan AS Mates bisa disebut sebagai penjaga ritem yang sangat disiplin. Berbeda dengan Cendy Luntungan yang ekspresif, Gilang menunjukkan style bermain yang mengkombinasikan power dan disiplin. Seperti seorang drummer rock dengan pendekatan kontemporer jazz. Sementara Mates juga bermain dalam pagar-pagar chord dengan disiplin. Ya persis seperti Mates yang saya bayangkan.

Indra Lesmana & Dewa Budjana

Indra Lesmana & Dewa Budjana

Javajazz 2009

Javajazz 2009

Secara keseluruhan konser tunggal mereka memang menyuguhkan nafas baru yang menurut saya pribadi cukup menyegarkan, dan sangat saya rekomendasikan unuk di tonton. Satu hal yang agak mengganggu mungkin datang dari sound system yang menurut saya agak kurang seimbang (balance), atau mungkin juga kapasitas speaker yang tidak memadai. Dimana sepertinya suara gitar Budjana terlalu keras sehingga suara yang keluar sering agak pecah. Di beberapa saat suara Banjo Budjana pun sempat hilang-hilang beberapa kali, ya sedikit banyak buat saya cukup mengganggu. Diluar komposisi mereka yang cukup segar tersebut.

Jakarta, 11 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s