Perparkiran vs Kemacetan


Kemacetan yang super parah di kota Jakarta ini membuat pemerintah daerah DKI Jakarta mencari cara untuk mengatasinya. Salah satunya yang sedang jadi pembicaraan pada saat ini adalah akan diberlakukannya kenaikan tarif parkir sebesar 5 kali lipat pada daerah-daerah tertentu yang dianggap pusat aktivitas masyarakat, seperti misalnya di daerah perkantoran dan sekitarnya.

Pertanyaan yang timbul di kepala saya adalah dengan kondisi transportasi pengganti (umum) yang ada sekarang, apakah menaikkan tarif parkir tersebut bisa menjadi solusi yang baik bagi masalah kemacetan kota Jakarta ini? Apakah masyarakat akan mau menggunakan transportasi umum demi untuk tidak harus membayar tarif parkir tersebut?

Saya ingat ketika dulu pemerintah mencoba menekan laju masuknya jumlah mobil import ke Indonesia dengan menggunakan cara memasukkan kendaraan mobil kedalam kategori barang mewah sehingga jumlah pajaknya masuknya menjadi hampir 100%. Lalu apa yang terjadi? mobil import tetap saja bisa masuk karena permintaan dari dalam negeri tetap tinggi, sehingga bisa disebut usaha pemerintah tersebut tidak terlalu berhasil. Nah, apakah kejadian serupa juga akan terjadi dengan kebijakan menaikkan tarif parkir ini?

Saya pribadi menilai masalah utama yang ada dalam kasus macet pada jalan-jalan di Jakarta ini lebih pada masalah kelayakan transportasi umum yang sejak jaman dahulu tidak pernah terpecahkan. Sehingga masyarakat memilih menggunakan kendaraan sendiri, sehingga mulailah mereka menyicil mobil ataupun motor agar bisa mendapatkan transportasi yang lebih layak. Bagaimana dengan Busway? Sebuah usaha yang bagus sebenarnya tapi kita juga punya masalah dalam hal memelihara produk bersama, sehingga seperti yang kita lihat, prasarana Busway sedikit demi sedikit mulai rusak, dan proses perbaikkan tidak kunjung bisa mengejar proses kerusakan itu sendiri.

Sedikitnya dari kacamata saya ada 3 poin penyebab kemacetan di Jakarta, yaitu:

  • Tidak adanya transportasi umum yang memadai sehingga masyarakat berbondong-bondong membeli kendaraan sendiri.
  • Tidak adanya pembatasan usia kendaraan yang bisa digunakan di dalam kota.
  • Tarif parkir yang dibedakan tarifnya berdasarkan kepadatan dan tingkat kesibukan pada daerah-daerah tertentu

Justru menurut pandangan saya dua poin pertama di ataslah yang sangat efektif untuk dilakukan jika ingin kemacetan di Jakarta berkurang, setelah itu baru kita mencoba poin terakhir yang berkaitan dengan perparkiran.

Bagaimana menurut Anda?

Foto: basibanget

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s