First Impression


Saya sebenarnya bukanlah termasuk orang yang suka berbasa-basi, dan apa yang saya rasakan biasanya langsung bisa terbaca dari bahasa tubuh. Sangat sulit untuk menutupi apa yang terjadi dalam diri saya dengan apa yang harus saya tampilkan. Lalu mungkin pertanyaan yang muncul apakah perlu kita menutupi apa yang sedang terjadi pada diri kita?

Kalau pertanyaan ini dilontarkan pada jaman saya masih tidak peduli dan bersikap ‘go to hell with what people think’ mungkin saya akan menjawab: Tidak perlu! Namun semakin kita dewasa, semakin kita punya tanggung jawab  gak usah jauh-jauh, terhadap keluarga kita sendiri maka suka atau tidak suka kita tidak bisa lagi untuk membiarkan orang lain membuat kesimpulan sendiri dengan apa yang mereka lihat dan tangkap dari diri kita.

As a human being, we are responsible of what society get from us. We can be the most lonely people in the world or we can be the most lovable. It depend on us, it depend on what we present to the world. Lirik lagu Ahmad Albar yang menyebutkan bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara itu adalah sebenarnya merepresentasikan bagaimana tiap orang harus membawakan diri mereka masing-msing untuk bisa tetap bertahan hidup. Idealnya adalah kita bisa mensinkronkan karakter kita dengan kulit personality kita tapi kalau tidak memungkinkan, we have to compromise.

Artikel dari Seth Godin ini mengatakan cuman ada dua pilihan dalam hidup ini yaitu being judged or being ignored. Being judged sama sekali tidak nyaman, harus mengkoreksi satu persatu prasangka-prasangka yang muncul, misinformasi dan dikombinasikan dengan sedikitnya waktu yang tersedia. Alternatif lain yang lebih aman adalah diacuhkan.

Mungkin Seth tidak membahas bahwa karakter sebuah society salah satunya adalah orang-orang saling menilai tentunya untuk mengenal, memilih dan pada akhirnya memutuskan. Proses misjudged ini timbul karena persepsi yang ditunjukkan oleh diri kita sendiri dan juga pengaruh dari lingkungan dimana sudah terlanjur terbentuk persepsi umum dan kemudian diperkuat juga oleh faktor-faktor eksternal yang sering kali tidak bisa lagi dikendalikan.

Dalam bertindak setiap manusia dipengaruhi banyak sekali faktor-faktor eksternal yang akhirnya mempengaruhi dirinya untuk bersikap. Salah satu faktor justru datang dari dalam diri kita sendiri, yaitu emosi. Saya sempat menulis sebuah blogpost tentang emosi dalam diri yang jika tidak bisa dikendalikan akan jadi sebuah energi negatif yang merongrong hidup kita.

Ada seorang lelaki yang dari kecil tidak diberikan pendidikan yang cukup untuk berinteraksi dengan baik terhadap sekelilingnya, alhasil jika ia tidak bisa beradaptasi maka akan sulit buat dirinya untuk masuk dalam masyarakat. Nasibnya akan tergantung dari seberapa banyak orang yang bisa memahami karakter dirinya, sehingga otomatis hidupnya akan terisolir dan seakan-akan terperangkap dalam prasangka-prasangka yang sedemikian kuatnya sehingga sulit buat siapapun yang tidak bisa membuka diri untuk merubahnya. Oleh karena itu sekali lagi hidup dalam sebuah society ya sudah selayaknya  kita juga mempertimbangkan faktor-faktor dan nilai-nilai yang berkembang. Syukur-syukur jika kita bisa ikut menyumbang nilai-nilai tersebut pada masyarakat dan jadi panutan, namun pada masa sekarang ini kita harus pintar-pintar menyikapi lingkungan tempat kita hidup. Bukan berarti menipu ataupun tidak jujur pada diri sendiri ya, tapi hitung-hitung hidup itu adalah sebuah investasi, dari mulai hal-hal kecil, sampai dengan hal-hal yang besar nantinya.

Jika Anda membaca dari awal maka saya bisa mengakhirinya dengan bilang bahwa first impression biasanya adalah start yang baik untuk memulai suatu impresi diri, selanjutnya bagaimana kita memeliharanya 🙂

Foto: Fans Share

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s