Berbicara aktivitas rutin tiap tahun yang dilakukan oleh umat Muslim, yaitu bermaaf-maafan yang di extend sampai pulang mudik ke kampung halaman menemui handai taulan di sana maka satu hal yang saya dapatkan pada hari besar ini adalah hikmahnya maaf memaafkan sebagai pembuka sumbat perasaan yang mungkin sudah sekian lama bercokol dalam dada kita semua.

Sorry seems the hardest word to say…. Manusia as a human being yang dikaruniai akal, ego dan perasaan memiliki segudang alasan untuk menahan diri untuk tidak mengucapkan kata maaf. Kata maaf seringkali diartikan sebagai pernyataan takluk atau kalah dan mengaku bersalah. Bagi saya jika ada dua pihak berselisih paham yang menimbulkan perasaan tidak enak maka seluruh pihak saya anggap bersalah karena membiarkan hal ini terjadi. Jadi segala alasan untuk membuktikan salah dan benar jadi gugur sampai semua diselesaikan dengan cara saling maaf-memaafkan.

Ya sayangnya tidak banyak yang memiliki pola pandang seperti ini, sehingga dibutuhkan momen-momen khusus untuk sedikit “melunakan” ego dan perasaan yang sudah terlanjur ‘mutung’ kalau pakai istilah orang Sunda dan lalu mau mengucapkan kata maaf. Saya yakin di keyakinan-keyakinan lainnya juga ada, namun bila kita bicara tentang Islam maka Hari Raya Idul Fitri ini selalu dijadikan momen tersebut, sesuai dengan istilah “Hari Kemenangan” setelah satu bulan menjalani ibadah puasa.

Mudah-mudahan kita semua bisa merasakan hikmahnya saling memaafkan apapun keyakinan Anda, dan dengan tulisan ini saya ingin sedikit mengingatkan bahwa menjadikan maaf-memaafkan sebagai kebiasaan akan membuat hidup kita semua jauh lebih ringan dan indah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri dan mohon maaf lahir dan bathin, semoga kita semua dilindungi oleh Yang Maha Kuasa di Atas…Amin