Being A Ronin


Salah seorang rekan kerja saat saya masih bekerja di Yahoo! Singapore, mas Aloysius Heriyanto, sore ini mengirimkan message lewat akun Linkedin saya yang cukup memberikan spirit. Begini bunyinya:

Analogi Ronin untuk part-timer ini cukup menarik, karena terus terang saya tidak kepikiran sampai saya menerima pesan dari mas Heri ini dan sejenak merenungkannya. Well yes, being self-employed + part-timer is just like a Ronin compare to Samurai in the sense of we’re not working for someone. Tapi dilain pihak ada poin-poin yang membuat kita harus lebih disiplin dan bekerja lebih cerdas dibandingkan menjadi seorang samurai yang mengabdi pada salah seorang junjungan dan hidup ditanggung

Apakah lebih nyaman? tergantung dari sudut mana kita memandangnya, yang pasti semua ada di tangan kita, sehingga ada satu kata dalam messagenya mas Heri yang menjadi kata kunci, yaitu Independensi, ketidak tergantungan yang terus terang juga bisa diperdebatkan at some point ya.

Thank you mas Heri, terima kasih sudah menjadi teman bertukar pikiran yang asik. Mudah-mudahan bisa tetap seperti ini ya.

Iklan

2 pemikiran pada “Being A Ronin

  1. Sama-sama Bangwin.

    Perbolehkan saya menambah kata di sini.

    Jadi Samurai itu enak. Bila terus mengabdi mendapat balas jasa berupa beberapa gantang beras hingga berkeping-keping emas. Tergantung berapa lama mengabdi dan kontribusinya. Kalau tewas kala bertugas, keluarganya pun mendapat ganti rugi. Anggap saja seperti uang pensiun di jaman sekarang.

    Sedangkan Ronin, bila tak becus boleh jadi sama miskinnya dengan pengemis. Hingga banyak yang saking desperado-nya hingga menjual pedangnya. Pedang yang berarti hidupnya. Dus, menang kalah tak mendapat nama. Tak juga diakui.

    Apakah menjadi Samurai yang mengabdi di sebuah klan berarti aman? Belum tentu. Bila Kepala Klan melakukan kesalahan (atau hanya dituduh salah), bisa berujung Seppuku. Tak sendirian. Samurai di bawah arahannya, harus juga melakukan yang sama. Sial, bukan? Sama seperti orang yang bekerja di perusahaan internasional yang lalu bangkrut. Dus, status, kerjaan dan uang pun hilang.

    Sepertinya tidak masuk akal, bagi kebanyakan orang, bila Bangwin memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan di MNC yang populer dan bekerja untuk start-up. Kemudian malah memilih self-employment. Menang SDSB (lotere) kah?

    Namun saya pikir, Bangwin sudah mempersiapkan jalannya dengan sungguh-sungguh. Menjadi independen sehingga bisa mengekspresikan kreasi dan ide-ide eksperimentalnya. Sekaligus saling bertukar ilmu dengan rekan-rekannya. Tanpa terbelenggu ‘batasan’ yang disandang ketika bekerja untuk suatu organisasi yang bertujuan profit.

    Musashi pun tak pernah dikenal sebagai Samurai. Lebih gampang menyebutnya pendekar tanpa majikan. Ronin. Namun, Musashi dikenal sebagai Kensei. Dewa Pedang. Tanpa label apa-apa, yang penting secara independen berlatih kemampuannya hingga mencapai kesempurnaan.

    Meski Musashi kadang ‘dikontrak’ oleh berbagai pihak tapi tidak pernah terikat pada aturan Samurai selaiknya di jaman itu. Mungkin jaman sekarang, dianggap sebagai part-time atau konsultan.

    Demikian komentar yang, maaf, lebih panjang dari postingannya. Salut untuk Bangwin dengan langkah beraninya. Bagi Anda yang ingin mengikuti jejaknya, ada baiknya membaca buku The Start-Up of You yang ditulis Reid Hoffman. Jadi lebih siap mengikuti jejak independensi Bangwin.

    Salam dari Singapura.

    Suka

    • Wow….thanks mas Heri….:-) Sedikit menambahkan, bagi saya being independent saja dalam hidup tidak akan cukup mas, we need to be smart as well to get our independence. Independen itu menurut saya tidak ditentukan hanya karena kita memutuskan untuk menjadi seorang Ronin, namun dengan bagaimana kita bisa mendapatkan segala sesuatu yang positif yang didapatkan oleh seorang Samurai dengan juga mendapatkan kondisi independen seorang Ronin. Ini yang saya sebut dengan Smart Independent. Saya juga masih berusaha untuk kearah sana kok mas…:-)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s