Liberate Yourself


Terus terang tulisan dari Richard MacManus yang bercerita tentang bagaimana seorang penulis novel yang karyanya ditolak hampir 100 kali akhirnya memutuskan membangun jaringan social di internet yang memfasilitasi penulis-penulis yang bernasib sama dengan dirinya ini cukup membuat saya kembali mengingat-ingat betapa banyak kejadian serupa (dengan ending yang berbeda tentunya) terjadi di tanah air kita ini. Tidak saja bicara mengenai karya tulisan namun hampir diseluruh bidang kreatif. Indonesia bisa dibilang gudangnya karya kreatif hanya kanal-kanal untuk penyaluran yang berupa distribusi masih bisa dibilang sangat-sangat kurang. Ini terjadi pada pemusik, penulis, seniman-seniman murni dan lain-lain. Tulisan Richard di atas adalah salah satu contoh dimana seorang pelaku seni yang berfikir out-of-the-box, keluar dari jaringan yang ada dan mewujudkan sendiri apa yang ia cita-citakan.

Kemarin saya sempat diperkenalkan dan ngobrol dengan suami dari teman SMA saya, kandidat doktoral NUS, Singapura yang namanya mas Idham Bachtiar Setiadi (untuk selanjutnya kita panggil saja mas Idham). Sebagai kandidat doktoral, tentunya mas Idham memiliki tulisan-tulisan yang menarik yang saya yakin akan sangat menarik jika bisa dibaca oleh khalayak umum, namun mas Idham mengemukakan bahwa tulisan-tulisannya selalu terjegal dan gagal terbit pada media-media yang ia kirimkan. Kasus yang berbeda yang akan saya ceritakan sebagai contoh selanjutnya adalah sahabat saya yang juga kandidat doktoral di UI, Yuka Narendra. Yuka memindahkan tulisan-tulisan analitisnya ke sebuah blog, walaupun masih dalam tahap awal, Yuka sendiri cukup senang dengan bisa mempublish tulisannya sendiri.

Di sekitar tahun 2006an saya diperkenalkan dengan situs social networking (seingat saya istilah social networking belum terlalu populer) yang bernama Kemudian.com, dengan konsep hampir sama dengan situs Writer’s Bloq yang dibahas oleh Richard MacManus di atas. Lalu Kemudian.com ini jadi lumayan populer. beberapa buku karya penggunanya sempat akhirnya diterbitkan karena kreativitas mereka tertangkap oleh para penerbit pada platform ini.

Internet liberating lot of things, salah satunya kemampuan kita melakukan self-publishing. Nayia Moysidis “melompat” jauh setelah berkali-kali ditolak penerbit dengan membangun Writer’s Bloq, sahabat saya Yuka Narendra menggunakan blog untuk menampilkan tulisan-tulisan analitis gaya disertasinya, juga mas Idham yang akhirnya mengungkapkan ketertarikannya untuk mempublish tulisan-tulisannya lewat blog. Beberapa orang musisi yang saya kenal pun mulai mempublish karya-karya mereka menggunakan platform-platform social media khusus musik seperti SoundCloud dan platform-platform lainnya yang tersedia.

Saya yakin masih banyak orang-orang seperti mereka dan internet memungkinkan mereka untuk melakukannya. Oleh karena itu, seperti yang selalu muncul dalam saran-saran saya jika ngobrol tentang internet dan dunianya, apa lagi yang  Anda tunggu 🙂

(sumber foto)

Iklan

Satu pemikiran pada “Liberate Yourself

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s