Pemutusan Hubungan Kerja atau Retrenchment


PHK

Dulu sewaktu saya baru mulai bekerja, saya selalu percaya bahwa bila kita bisa mendeliver pekerjaan dengan baik, berprestasi lalu mendatangkan keuntungan bagi perusahaan maka tidak ada alasan bagi perusahaan untuk melepas kita atau memecat kita. Namun setelah saya mengalami sendiri bekerja di perusahaan multinasional yang sedang terombang-ambing dan lalu perusahaan tersebut melakukan retrenchment 3 kali (selama saya bekerja di perusahaan tersebut), maka saya jadi sadar bahwa yang tidak ada jaminan bila kita bekerja dengan baik maka akan bisa tetap dipertahankan tetap bekerja di perusahaan tersebut.

Retrenchment is an unfortunate aspect of modern day life and business. The fundamental definition of what retrenchment is is when a company or organization determines that it needs to reduce the number of people in its employ in order to match or meet operational requirements – what is retrenchment

Banyak orang yang tidak bisa mengerti dan menerima konsep retrenchment ini karena selalu berpegang pada prinsip benar dan salah yang sebenarnya sama sekali tidak berhubungan satu sama lain. Reaksi yang muncul biasanya adalah perasaan diperlakukan secara tidak adil dan lalu diikuti perasaan marah karena ditelikung, dan banyak lagi lainnya.

Bila kita lihat dari sudut pandang perusahaan sebenarnya retrenchment itu adalah upaya penyelamatan diri yaitu dengan cara mengurangi jumlah pengeluaran rutin yang berasal dari salary karyawan yang mereka miliki. Ada beberapa faktor yang biasanya jadi tolok ukur penentuan siapa saja yang harus di “lepas”. Pertama adalah besaran salary (yang berbanding lurus dengan pengeluaran perusahaan), semakin besar salary karyawan semakin besar pula kemungkinan mereka dilepas. Yang kedua adalah redundancy, yaitu bila ada fungsi yang sama yang bisa dilakukan oleh lebih sedikit karyawan maka akan ada yang dilepas. Yang ketiga adalah value, seberapa besar value seorang karyawan pada perusahaan yang membuat karyawan tersebut indispensable. Dengan demikian mungkin sekarang kita bisa menilai apakah kita memiliki resiko untuk terkena layoff dengan acuan yang saya singgung tadi.

Poin terakhir yang ingin saya sampaikan adalah saya tidak pernah menganggap tempat kerja sebagai tempat saya akan menghabiskan hidup saya. Bila sebuah perusahaan mempekerjakan saya maka yang mereka dapatkan adalah apa yang ingin mereka dapatkan yaitu hasil kerja. Masa depan adalah sepenuhnya milik saya dan saya pribadi yang menentukan arahnya, bukan perusahaan tempat saya bekerja. Dengan demikian setiap saya bekerja disebuah perusahaan, saya tidak pernah membongkar tuntas koper saya karena bila terjadi apa-apa pada perusahaan maka saya bisa tetap jalan.

Catatan: Tulisan ini saya buat setelah mengamati beberapa reaksi teman yang pernah terkena retrenchment

Iklan

4 pemikiran pada “Pemutusan Hubungan Kerja atau Retrenchment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s