Kembali ke Apresiasi


Sudah lama industri kreatif teracuni faktor pamrih yang mendarah daging. Betapa tidak, segala sesuatu diukur berdasarkan uang yang dihasilkan. Apresiasi baru dianggap “benar” jika bisa memenuhi permintaan uang dari si kreator. Apakah memang begitu yang kita kenal dengan apresiasi?

Arti kata apresiasi yang asal katanya dari “appreciation” dalam bahasa Inggris berdasarkan Merriam-Webster:

Definition of APPRECIATION

1.
a : judgment, evaluation; especially : a favorable critical estimate
b : sensitive awareness; especially : recognition of aesthetic values
c : an expression of admiration, approval, or gratitude

2.
: increase in value

Dari definisi diatas sebenarnya kita bisa lihat bahwa pengertian dari apresiasi sendiri tidak memiliki korelasi dengan uang. Orang mengapresiasi sebuah karya lebih pada kualitas dari karya itu sendiri, dan ini jadi sangat subyektif.

Dalam industri kreatif, saya tidak tahu siapa yang memulai namun apresiasi ini di konversikan kedalam bentuk lain yaitu uang. Jadi aturan mainnya “diubah”. Anda baru bisa disebut mengapresiasi sebuah karya jika Anda memberikan sejumlah uang yang ditetapkan oleh pemilik karya. Sedikit demi sedikit kondisi ini meracuni proses kreatif itu sendiri, karena banyak kreator yang mengalihkan fokusnya pada jumlah uang yang akan mereka dapatkan dari berkarya. Sehingga karya-karya mereka di drive dari permintaan pasar yang akhirnya mengorbankan ideliasme yang sebetulnya menjadi ciri dan kekuatan utama setiap individu kreatif.

Apa yang akan terjadi jika semua kreator berfikir bahwa bentuk apresiasi itu adalah uang? Saya ingat setidaknya ada dua band besar secara komersil membuat banyak band-band lain “meniru” gaya karya mereka agar bisa ikut menikmati kesuksesannya (dalam hal penjualan). Saat Padi “ditemukan” oleh Sony Music melalui album kompilasi Indie 10 dan lalu album perdana  mereka yang berjudul Lain Dunia dirilis, maka banyak band-band baru mencoba jalan pintas untuk mengarahkan musik mereka semirip mungkin dengan Padi. Ada beberapa band berhasil berhasil membuat label-label saingan Sony Music mengambil band-band Padi-like ini untuk bisa ikut menuai kesuksesan dalam hal penjualan. Kasus yang sama juga terjadi saat Peterpan (sekarang Noah), band asal Bandung ditemukan oleh Musica.

Dalam industri buku fiksi pun terjadi hal yang sama. Kesuksesan Raditya Dika dengan genre komedinya membuat banyak penerbit mulai ikutan menerbitkan buku-buku serupa dengan penulis-penulis baru yang memiliki genre serupa dengan Radit (panggilan dari Raditya Dika). Sehingga tiba-tiba ketika kita berkunjung ke toko buku maka kita bisa menyaksikan membanjirnya buku-buku serupa buku yang dihasilkan oleh Radit.

Industri kita memang masih dikuasai oleh kanal-kanal yang terbatas, sehingga jika mindset para kreator masih melihat uang sebagai bentuk apresiasi dan lalu mencoba menjadikan karya sebagai bread & butter hidup mereka maka yang akan terjadi adalah munculnya karya-karya hasil penyerahan diri terhadap pasar (yang diwakili oleh label ataupun penerbit).

Menurut saya mindset kreator seharusnya diawali dari karya itu sendiri bukan dari bagaimana si karya nantinya akan mendapatkan uang. Oleh karena itu untuk memulai berkarya setidaknya Anda harus punya modal untuk menopang karya-karya Anda, dan tempatkan proses berkarya itu menjadi sebuah aktivitas yang perlu disubsidi oleh aktivitas Anda lainnya. Seiring dengan naiknya level apresiasi para penikmat karya Anda maka Anda bisa mulai menempatkan posisi karya Anda ketempat yang lebih penting dalam hidup Anda.

Any comments?

foto: Sodahead

Iklan

6 pemikiran pada “Kembali ke Apresiasi

  1. the keyword is “bread & butter”

    mimpi untuk bisa kaya dengan berkesenian selalu disuntikkan oleh media.. sementara belajar saja malas.. dan mahal.. melihat nyanyi dan nulis buku adalah skill yang gampangan..

    sementara idealisme juga gak selalu bisa ngasih makan..proses panjang dan konsistensi belum tentu cukup usia ketika menuai hasil..

    dan juga mental gak mau dikritik

    Suka

    • Thanks buat komennya mas Widi 🙂 Idealisme memang bukan sesuatu yang seharusnya digabungkan dengan aktivitas “mencari makan”….At least sampai terbukti idealisme tsb bisa disukai oleh orang banyak..

      Suka

  2. Hahahaha kita pernah ‘bicara’ hal ini di timeline soal subsidi silang.
    Setuju banget, perlu ada sesuatu yang tak ‘diuangkan’ tapi ditopang oleh hal lain yang jadi sumber uang.
    Kegiatan blogging saya, alhamdulilah masih bisa berjalan tanpa laba karena ditopang subsidi dari pekerjaan saya yang sebenarnya.

    Menarik!

    Suka

    • Haha..iya masih ingat kok saat kita mendiskusikan hal ini di TL. Sebuah kebanggaan tersendiri buatku sudah dikunjungi dan dikomentari oleh mas Donny Verdian 🙂 Thanks ya

      Suka

  3. jika idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda,
    apakah kompromi adalah bagian dari pendewasaan diri?

    keywords: “idealisme”, “kompromi”
    menurut saya masih berkaitan dengan “apresiasi” dan “karya”

    setiap karya mendewasakan kita, baik yang idealis, mengharap apresiasi ataupun yang berawal dari keisengan 🙂

    kembali ke diri masing-masing, mana yang kita akui sebagai karya atau hasil kerja.
    sudah (berani) jujur kah kita?

    Suka

    • Setuju sih kak Danny….sebagai manusia kita memang harus pintar menempatkan sebuah karya pada titik idelaisme ataupun kompromi. Dan sekali lagi kembali pada diri kita masing2.

      Saya cuma berharap bangsa kita cepat menjadi “dewasa” untuk hal-hal yang seperti ini sehingga iklim berkehidupan pun bisa jadi lebih sehat…:-)

      Thanks ya sudah berkunjung dan memberikan komentar….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s