Opini + Pemikiran + Celotehan

Blog

Ketika Media Sosial Menjadi Sarana Penjaga Ketertiban

Beberapa hari lalu timeline Twitter dikejutkan dengan merebaknya twit diatas ini yang mewartakan pemaksaan pelanggaran yang dilakukan oleh pengemudi Honda Jazz bernomor polisi B-1011-UKF ini. Kabar selanjutnya bilang bahwa anak muda pengemudi Honda Jazz tersebut mengaku anak seorang jenderal polisi yang masih menjabat dengan menunjukkan kartu nama ayahnya. Kita semua sering mendengar kejadian serupa dimana pengendara mobil memaksa masuk ke jalur busway TransJakarta, namun kali ini berbeda karena identitas mobil tertangkap basah dan disebarkan lewat social media dan sontak membuat semua pihak mencari tahu dan sampai hari ini akhirnya si pengemudi diketahui identitasnya dan diproses oleh kepolisian (beritanya ada di sini)

Siang ini saya dapat twit mention dari @ndorokakung seperti di bawah ini:

Jawaban saya

@ndorokakung Sangat! Justru menurutku kasus anak jenderal ini bisa jd contoh bagaimana socmed jadi tools utk monitoring masyarakat

Ya, mungkin banyak yang belum sadar bahwa kekuatan penyebaran social media bila diarahkan untuk hal-hal yang positif seperti mengawasi pelanggaran-pelanggaran seperti yang dilakukan oleh si Febri (anak jendral) tersebut bisa jadi sangat berguna.

Saya ingat beberapa saat lalu atas prakarsa orang-orang yang sebal dengan orang yang memarkirkan kendaraannya secara sembarangan, mereka mengumpulkan foto-foto kendaraan yang parkir dengan sembarangan lalu di publish ke media sosial (Tumblr). Mereka menyebut situs mereka #parkirlubangsat. Usaha ini adalah salah satu acar untuk melakukan social punishment terhadap orang yang bertindak semua mereka sendiri. Kita semua tahu biasanya orang-orang seperti Febri (si anak jendral) dan juga yang tertangkap parkir sembarangan di #parkirlubangsat tidak akan mau mengindahkan ketika ditegur langsung ditempat (sama halnya ketika kita menegur pengendara motor yang jalan diatas trotoar, ujung-ujungnya malah mereka yang marah).

Let see jika seluruh dunia lewat media sosial tahu bahwa mereka berlaku seperti itu, apakah mereka tetap melakukan hal yang sama? Kita semua tahu bahwa tekanan sosial jauh lebih berat ketimbang tekanan dari beberapa gelintir orang.

Bagaimana menurut Anda?

8 Comments

  1. Tom Malik

    Kelanjutan cerita ini gimana?
    Apakah “anak jendral” itu kena batunya?

  2. sanksi sosial! menjaga ketertiban bersama2 yuk!

  3. arista

    http://megapolitan.kompas.com/read/2013/08/01/1158064/Teriaki.Petugas.Transjakarta.Wanita.Ini.Buka.Portal.Busway muncul kasus baru, malah nggak ada efek jera sepertinya. karena hukuman yang nggak terlalu berat.

  4. Selain pelanggar yang suka nyelonong jalur busway dan parkir asal2an, yang suka nerobos lampu merah atau pemotor yang suka naik trotoar trus malah nyuruh pejalan kaki minggir juga musti didokumentasikan sih *korban*

  5. yup sanksi sosial akan memberikan efek jera, just wondering apakah sudah ada website yang temanya: #KamiTidakLupa agar “orang yang nakal” yang sudah merugikan negara, masyarakat, dll akan selalu di “kenang” soalnya konon di endonesa orang-orangnya cepat banget lupa apalagi kalo ada isu yang super hot 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: