Saling Jaga dengan Keterbukaan


Pada dasarnya manusia itu diajarkan untuk malu jika berbuat salah, itu yang diajarkan pada kita sejak kecil, namun kemungkinan yang membuat perbuatan salah itu tidak (terlalu) terlihat membuat manusia jadi berani melakukannya. Ini yang membuat sesuatu yang ‘tidak benar’ susah sekali dikoreksi terutama jika sudah berlangsung lama dan sudah dianggap wajar. Istilah “sudah jadi rahasia umum” ataupun “tahu sama tahu” ikut andil dalam memelihara kebiasaan-kebiasaan ini. Mulai dari hal-hal kecil seperti perilaku antri, perilaku berkendaraan sampai dengan tingkatan korupsi. Kata kunci yang bisa membangkitkan kembali perasaan malu tersebut adalah ‘Keterbukaan’.

Tadinya saya pikir keterbukaan akan mulai digalakkan setelah jatuhnya orde baru seiring mundurnya Presiden Soeharto, namun kenyataannya adalah regim pengganti yang berlindung pada kata Reformasi ingin memiliki keterbukaan itu tersebut untuk diri mereka sendiri, tidak untuk rakyat, sehingga ketertutupan yang dipelihara oleh regim orde baru diestafetkan pada regim Reformasi. Dengan kebiasaan masyarakat kita yang ‘sungkanan’ dan diperkuat dengan gertakan ‘urusilah urusanmu sendiri’ maka tabir penutup perilaku-perilaku yang merugikan orang banyak jadi makin tebal dan terpelihara lama. Munculnya KPK dianggap momok yang berbahaya karena sifat KPK adalah membuka untuk mencari bukti, kita bisa lihat betapa banyak yang panik dan bereaksi ingin menggembosi KPK dari jamannya Bibit-Chandra

Beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini cukup membuka mata kita semua bahwa banyak hal yang salah terjadi dibalik layar. Salah satu contoh yang sangat terlihat jelas adalah cara menjalankan pemerintahan daerah DKI Jakarta yang dilakukan oleh pasangan Djoko Widodo (Jokowi) dan Basuki Purnama (Ahok) yang tanpa tedeng aling membuat semuanya jadi transparan. Mulai dari semua pertemuan dibuat terdokumentasi dengan video dan bisa ditonton oleh seluruh rakyat via akun resmi Pemerintah Provinsi DKI di YouTube, dimana kita sekarang bisa tahu apa yang mereka bicarakan pada tiap-tiap pertemuan, dan seberapa kompeten orang-orang tersebut dan sebagainya.

Dengan membuat semua rakyat bisa melihat apa yang terjadi dengan dokumentasi-dokumentasi tersebut, sama saja dengan mereka berdua (Jokowi & Ahok) membagi beban tekanan yang mereka terima ke seluruh rakyat. Istilah kerennya, if you mess with them then you mess with everybody. Mereka tahu betul bahwa dengan keterbukaan maka kredibilitas mereka jadi ikut naik dan rakyat ada dibelakang mereka. Kasus yang terakhir terjadi adalah para pemrotes keputusan pembenahan pedagang kaki lima (PKL) yang ada di Tanah Abang yang di back up oleh salah satu anggota DPR diterima oleh Ahok lalu mereka berdialog (tentunya direkam dan ada di YouTube). Dengan adanya rekaman tersebut seluruh rakyat bisa lihat para pemrotes yang tidak menginginkan adanya ketertiban di Tanah Abang, sekali lagi tabir dibuka dan tersingkaplah siapa saja yang ada dibelakangnya.

Keterbukaan tersebut sedikit demi sedikit mulai merambat ke rakyat. Ingat peristiwa ‘anak jenderal’ yang memaksa masuk ke jalur busway? Kejadian ini terangkat karena akun Twitter resmi Bus TransJakarta (@BLUTransJakarta) mentwitpic foto mobil si ‘anak jenderal’ tersebut lengkap dengan nomor polisinya dan di cc: ke @TMCPoldaMetro. Dengan informasi selengkap itu maka dalam waktu cepat lewat media sosial. Tekanan masyarakat via media sosial dan media-media yang lain pun ikut mempush pihak yang berwajib menyingkap jati diri si pelanggar yang ternyata bukan anak jenderal. Sekali lagi, keterbukaan bisa membuat masyarakat bisa ikut turun tangan menjaga ketidak benaran. Bayangkan, kita semua tahu bahwa mobil yang menyerobot masuk ke jalur busway itu sudah terjadi lama dan entah kenapa minim sekali tindakan.

Saya yakin bukan hanya saya yang gembira melihat perkembangan ini. Dengan keterbukaan saya pribadi yakin semua orang-orang yang menjalankan cara-cara salah (baca korupsi) karena kesempatan yang terbuka ataupun perilaku turun temurun, bisa mulai kembali ke jalan yang benar.

Bagaimana menurut Anda?

ps: Saya sempat menulis juga tentang peran media sosial dalam keterbukaan ini di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s