Mengembalikan Harapan ke Daerah


Apa bedanya Jakarta di tahun 90an dengan sekarang? Tentunya selain pembangunannya ya kesemrawutannya. Kota ini seolah kepenuhan penghuni tanpa diimbangi dengan cukupnya kepatuhan terhadap hukum yang menjadikannya chaotic. Mengapa Jakarta semakin penuh? Ya karena arus urbanisasi yang tak terbendung. Lalu apakah kita harus membangun pagar disekeliling batas kota untuk mencegah urbanisasi? Tidak terbayang apa jadinya.

Sebagai ibukota dan juga pusat perekonomian negara, Jakarta memang diprediksikan tumbuh dengan pesat seiring dengan pembangunan yang terus berlangsung di era regim Soeharto. Pembangunan dirasakan melambat saat pergantian regim, namun tidak terjadi pada urusan urbanisasi yang tetap melaju dengan cepat.

Seperti yang terjadi di Amerika Serikat diawal terbentuknya, dimana para imigran berbondong-bondong masuk ke Amerika karena adanya harapan mendapatkan apa yang disebut dengan American Dream, harapan mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan lebih layak. Arus urbanisasi mengalir dari desa-desa ke kota-kota, sehingga perkembangan di daerah menjadi lambat, sedangkan kondisinya tidak diimbangi dengan harapan karena lapangan pekerjaan dikota-kota  pun tidak bisa memenuhi kebutuhan.

Masih ingat dengan pepatah kata “Ada Gula Ada Semut’?, semua orang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan ini yang dilihat di kebanyakan daerah terhadap kota-kota besar. Cari kerja gampang, gaji besar, dan lain sebagainya padahal sebenarnya jumlah lapangan pekerjaan yang sangat tergantung dari pembangunan (yang melambat sejak pergantian regim) sangat-sangat terbatas. Sehingga “gula” yang dilihat sebenarnya “gula” semu yang terlihat besar karena desperate, keputus-asaan hidup di daerah.

Sukses atau tidak sebuah negara bisa dilihat dari tingkat kesejahteraan bangsa yang hidup didalamnya. Ketidak merataan kesejahteraan hidup di Indonesia disebabkan salah satunya oleh adanya sentralisasi yang terjadi sejak masa orde baru. Semua kontrol ada di pusat (Jakarta) yang berakibat hampir semua pemasukkan juga masuk ke pusat. Hanya sebagian kecil dikembalikan ke daerah sehingga no wonder perkembangan di daerah jadi sangat lambat, termasuk berakibat pada tersedianya lapangan pekerjaan di daerah.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta, Djoko Widodo saat beliau menjawab pertanyaan wartawan berkaitan dengan arus urbanisasi seiring arus balik paska Hari raya Lebaran:

…Ya salah satu caranya mendorong investasi ke daerah-daerah, mendorong peredaran uang lari ke daerah-daerah, sehingga disana tumbuh, ada lapangan pekerjaan, atau ada investasi, itu aja.

Cara yang dipaparkan oleh Jokowi adalah cara yang sebenarnya dari dulu sudah kita semua ketahui, namun adakah tindakan yang dilakukan untuk mewujudkannya? Saya kembalikan pertanyaan ini kepada Anda untuk menjawabnya 🙂

Foto: Polychrome Interest

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s