The Worst Enemy You Can Meet Will Always Be Yourself


Banyak cerita yang bisa memberikan kita semua sebuah masukkan dengan penggambarannya sendiri-sendiri. Mulai dari kitab-kitab kuno Mahabarata dan Ramayana, kisah-kisah dari kitab suci agama sampai dengan cerita-cerita inspiratif karya sutradara-sutradara iklan untuk perusahaan asuransi di Thailand yang selalu menguras airmata saat di tonton. Malam ini untuk kedua kalinya saya mendapatkan kembali pengalaman serupa saat menonton film garapan sutradara asal Mexico, Alfonso Cuaron yang berjudul Gravity (Pengalaman pertama saat saya menonton film yg berjudul Sanctum garapan sutradara Australia, Alister Grierson).

Maaf dalam tulisan ini saya tidak akan membuat review tentang film ini karena saya yakin sudah banyak reviewer-reviewer film yang akan membuatnya, terutama karena proses pembuatan film yang didominasi oleh animasi ini sengaja dibuat diatas kekuatan sebuah cerita yang sederhana dan banyak faktor-faktor menarik yang akan jadi fokus para reviewer film tentunya.

Dalam sebuah pertempuran dimana tidak ada lagi yang tersisa selain diri kita maka akan muncullah musuh yang paling besar, yaitu diri kita sendiri. Cuaron dalam Gravity menempatkan sosok Dr. Ryan Stone sebagai tokoh utama yang punya karakter seperti kita semua. Kecakapannya sebagai seorang peneliti tidak membuat dirinya menjadi seorang yang sabar dan tenang, malah sebaliknya sosok shaky dan lambat menerima sebuah perintah sederhana. Sebaliknya kita bisa melihat bagaimana tokoh Lt. Matt Kowalsly adalah seorang yang pemberani, banyak omong dan santai.

“You have to learn to let go”

-Matt Kowalski-

Refleksi pertama adalah bagaimana menghadapi sebuah kenyataan bahwa kita harus merelakan seseorang yang sangat berharga bagi kita untuk pergi. Sama halnya ketika hidup-mati mereka berdua tergantung dari sebuah lilitan tali parasut dari ISS Soyuz. Dr. Ryan Stone mati-matian meminta Matt untuk bertahan, namun Matt berpendapat bahwa tubuhnya akan menarik mereka berdua lepas dari kemungkinan masuk ke ISS Soyuz, lalu Matt memutuskan untuk melepaskan dirinya dan membiarkan tubuhnya lepas yang artinya sama saja dengan menjemput kematian agar Dr. Ryan bisa masuk ke ISS Soyuz tersebut. Cara pandang Matt dengan perspektif lebar membuat dirinya bisa melihat bahwa akan lebih baik one lose-one win ketimbang lose-lose, sehingga ia memutuskan untuk berkorban karena memang tidak ada pilihan lain selain meninggalkan Dr. Ryan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Setidak teganya Dr. Ryan untuk melepaskan tali yang menhubungkannya ke Matt, but she has to learn to let go. Pesan ini sekaligus ditujukan secara tersirat setelah Matt tahu dari cerita Dr. Ryan bahwa ia kehilangan anak perempuannya. What a great message!

“But the worst enemy you can meet will always be yourself…”

-Friedrich Nietzsche-

Dalam kondisi terjepit kita akan diliputi oleh musuh kita yang terburuk yaitu diri kita sendiri. Beberapa kali Dr. Ryan mengalami hambatan sampai akhirnya membawa dirinya ke tingkat frustrasi yang paling dalam dimana percampurannya dengan kelelahan menjadikan dirinya menyerah dan mencoba mempercepat semuanya dengan menutup aliran oksigen di kapsul ISS Soyuz sehingga ia bisa mati lebih cepat. Rupanya spirit Matt Kowalsky tidak serta merta mengijinkannya untuk menyerah. Dalam kondisi separuh sadar Dr. Ryan merasa Matt masuk ke kapsulnya dan memberikan sedikit hints supaya Ryan bisa terus bangkit dan bergerak. “It’s only 100 km”, kata Matt, serta “jangan hiraukan pendaratan ataupun peluncuruan, they’re both the same thing”. Semangat Dr. Ryan kembali bangkit dan ia sadar dengan demikian ia berhasil mengalahkan musuh terbesarnya…..dirinya sendiri.

Seberapa sering kita harus menghadapi diri sendiri sebelum akhirnya kita sadar bahwa pemecahan masalahnya justru ada dalam diri kita sendiri? Berapa banyak energi yang harus kita keluarkan serta emosi yang harus kita peras hanya untuk bisa mendapati bahwa sebuah persoalan akan bisa dipecahkan sesederhananya kita mengambil analogi?

Saya harus bilang saya sangat bersyukur sebagai mahluk hidup diberikan kelebihan sebuah ‘controlling device’ yang bernama otak untuk berfikir dimana hasil pemikiran yang kita lakukan akan mempengaruhi seluruh keberadaan tubuh kita. Namun rasanya cukup mengerikan ya jika kita tidak bisa mengontrol ‘controlling device’ tersebut dan membiarkan semuanya ikut mempengaruhi pemikiran dan otak kita. Unfortunatelly, banyak kejadian yang buruk terjadi karena kita tak bisa mengontrolnya, kita membiarkan keyakinan kita menutup semua indera kita sehingga sebuah masalah tidak mendapatkan solusi yang baik.

Saya tidak ingin menggurui siapapun tapi mungkin dengan menonton film ini maka beberapa refleksi kehidupan akan bisa kita tangkap sehingga kita semua  lebih arif, mawas diri dan berfikir lebih luas. kira-kira begitu 🙂

Iklan

7 pemikiran pada “The Worst Enemy You Can Meet Will Always Be Yourself

  1. Bang Win … terima kasih. sudah mengingatkan akan film Gravity. saya menontonnya beberapa minggu yang lalu. dan film tersebut termasuk salah satu film yang berhasil dengan sukses “menampar” saya bahkan tamparannya masih terasa beberapa hari setelah menontonnya, bekasnya sampai sekarang masih ada. 🙂 film yang bagus adalah film yang masih bisa kita lihat dan rasakan meskipun film tersebut sudah usai.

    “being willing to be alone with myself is a brave thing to do. to be present with my own body and mind, without running away or distracting myself with activities as most of us do …”

    Suka

    • Terima kasih mas Adjie….Buat saya ini tamparan kedua setelah film “Sanctum” yang juga bercerita tentang bagaimana keputusan-keputusan penting harus diambil saat kita dibiarkan sendiri berhadapan dengan diri kita sendiri…:-)

      Suka

  2. Bener banget. Kerasa banget perjuangan melawan menyerah itu. Ujung-ujungnya, yang bisa mengatur diri sendiri ya diri kita sendiri. Ga ada yang lain.

    Btw, saya jadi penasaran nih bng Win,,kenapa perusahaan asuransi Thailand kalo bikin iklan menguras airmata banget ya. Inspiratif gitu. Proses apa yang terjadi di Thailand sana? mungkin laen kali bisa dibahas 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s