Negara Yang Penuh Dengan Solusi


…mending bayar aja kalau mau cepet masbro…

Saya yakin kita semua sering mendengar kalimat di atas dan kaitannya dengan judul blogpost ini ya biasanya kalimat tersebut muncul untuk memunculkan “solusi-solusi” itu. 

Ya betul, saya dan juga saya yakin banyak yang sependapat dengan saya melihat negara kita adalah negara yang memiliki seribu satu solusi untuk banyak hal. Bahkan kadang untuk hal-hal yang sudah jelaspun masih bisa “ditawarkan” solusi agar orang-orang bisa mendapatkan kepuasaan yang lebih baik lagi. Susahnya “solusi” yang ditawarkan adalah sebuah kata yang dianggap berdiri sendiri yang seringkali tidak mempedulikan kaidah-kaidah ataupun aturan yang sudah disepakati bersama sehingga yang terjadi adalah akibat dari solusi ini yang dianggap sudah bisa ditinggalkan berserakan tanpa peduli itu akan merugikan orang lain atau tidak.

Hampir tiap malam di akhir pekan kawasan Kemang itu macetnya gila-gilaan yang jika diperhatikan hanya karena urusan turun-menurunkan penumpang dan keluar masuk mobil parkir.

Memarkirkan kendaraan adalah usaha kita semua agar kendaraan yang ditinggalkan bisa lebih tertata rapi. Semua pihak sepakat akan hal ini. Namun dengan munculnya demand yang tinggi maka yang terjadi adalah perebutan tempat parkir. Untuk itu munculah solusi, yaitu tukang parkir yang dengan biaya 2000 perak maka ia akan menyetop seluruh kendaraan dijalan blindly, dan membiarkan jalanan dalam keadaan kacau setelah uang parkir ada ditangan. Solusi murah buat pemilik kendaraan, keuntungan buat tukang parkir dan kekacauan yang harus ditanggung oleh semua kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut. Dan jika Anda perhatikan, di kawasan Kemang pada peak hours nya, bisa lebih dari 4 venue yang pengunjungnya keluar dan juga memarkirkan kendaraan mereka. Ya tentunya banyak faktor lain penyebab kemacetan ya, namun urusan solusi parkir ini ikut andil cukup besar di kawasan Kemang.

Penerapan kawasan 3-in-1 salah satu niatnya adalah mengefisiensikan penggunaan jalur protokol agar bisa dipergunakan oleh lebih banyak orang tanpa harus menimbulkan kemacetan

Contoh lain solusi yang muncul karena resistensi adalah “solusi” untuk mengatasi penerapan 3-in-1 walaupun kita semua tahu bahwa 3-in-1 itu pun sebenarnya diproyeksikan sebagai solusi yang unfortunatelly hanya “memindahkan” masalah. Penerapan kawasan 3-in-1 salah satu niatnya adalah mengefisiensikan penggunaan jalur protokol agar bisa dipergunakan oleh lebih banyak orang tanpa harus menimbulkan kemacetan (di jalur protokol tersebut). Sayangnya karena solusi 3-in-1 ini sifatnya hanya “memindahkan” problem kemacetan beserta pengendara-pengendara kendaraan pribadi ketempat lain, maka banyak orang yang tidak suka dan muncullah solusi yang disebut joki 3-in-1. Alhasil yang terjadi penerapan 3-in-1 berhasil dengan memaksa orang menggunakan solusi joki 3-in-1, yang membangkitkan opportunity baru sebagai Joki 3-in-1 tersebut (Apakah sudah bisa disebut dengan pekerjaan? don’t ask me). Hasilnya? Ya karena terjadi pembiaran selama bertahun-tahun, peraturan tersebut jadi ya sekedar ada untuk memberikan penghasilan bagi para joki tersebut 🙂

…jangan kuatir, kalau pentil dicabut ente bisa beli gantinya sama ane – tukang parkir-

Masih banyak kasus-kasus lain yang sifatnya solusi yang muncul hanya untuk “menyiasati” kemudahan-kemudahan dengan harga tertentu. Salah satunya yang baru saja diterapkan adalah usaha Pemda yang diwakili oleh Dinas Perhubungan mengatur parkir-parkir liar dengan mencabut pentil ban kendaraan yang parkir sembarangan. Peraturan ini cukup heboh namun seperti yang diduga, solusi kembali dimunculkan oleh para penangkap opportunity yang memang tidak diatur di negara kita. Beberapa tukang parkir liar menjamin bahwa kendaraan yang parkir diareal yang dijaga mereka tidak usah kuatir karena mereka sudah menyediakan pentil-pentil pengganti. Selain itu merekapun menganggap hukum yang diterapkan hanyalah formalitas belaka.

Munculnya aturan hampir selalu diiringi oleh solusi untuk menyiasatinya.

kalimat di atas itu seperti sebuah kenyataan yang kita semua sudah sama-sama tahu dan sudah dibiasakan berpuluh tahun dilakukan sehingga jadi tatanan baru yang diyakini memang begitu seharusnya. lalu apakah kita harus bangga dengan kekreativitasan bangsa kita untuk menciptakan solusi? Ya solusi tanpa melihat hal-hal lain yang diakibatkan oleh solusi tersebut sama saja dengan memindahkan masalah bukan menyelesaikan masalah. Sayangnya para pemburu opportunity ini tidak akan mau berfikir jauh jika solusi pendek saja sudah bisa menghasilkan pemasukkan. Masalah yang timbul? ah biar saja pemerintah yang mengurus, mungkin begitu kata mereka. Dan seperti kita tahu pemerintah pun tidak kelihatan berminat untuk mengurus sampai sejauh itu. Mungkin mereka pikir kalau bisa kerja yang gak repot ngapain juga cari repot…hehehe

Foto: Nimesh Johri

Iklan

3 pemikiran pada “Negara Yang Penuh Dengan Solusi

    • Betul mas…..hukum di negara kita keburu dianggap sebagai jebakan betmen sarana pencari uang aparat sehingga banyak yang mencari solusi utk menghindarinya. Hal tsb yg bikin law enforcement jadi susah banget diterapkan di negeri ini

      Suka

  1. Ping balik: Polisi Cepek dan Cerminan Hukum Di Negara Kita | Bangwin's Journal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s