Serikat Buruh kembali melakukan demo menuntut dikabulkannya apa yang mereka sebut dengan Tuntutan Komponen Hidup Layak Buruh 2014. Dengan kondisi perekonomian negara yang terus menerus turun dengan indikator naiknya terus biaya hidup, saya sama sekali tidak masalah dengan tuntutan buruh tersebut, karena memang kondisi perekonomian lah yang menjadikan hidup kita semua semakin susah.

…apakah para buruh tersebut sudah mengerti bahwa tuntutan mereka itu bukan tanpa resiko namun justru hidup mereka juga dipertaruhkan

Yang saya kuatirkan justru apakah para buruh tersebut sudah mengerti bahwa tuntutan mereka itu bukan tanpa resiko namun justru mempertaruhkan hidup mereka juga. Lho maksudnya gimana? Begini…demo buruh ini kan ditujukan agar bisa jadi pressure sehingga tuntutan mereka dikabulkan, namun yang perlu difahami adalah semua fihak harus bisa merasa keputusan yang diambil nantinya adalah berdasarkan pertimbangan semua fihak tidak ada yang dirugikan. Bila salah satu fihak merasa dirugikan ya akan ada reaksi-reaksi susulan yang bahkan efeknya bisa jauh lebih menyeramkan.

…as an employer mereka punya hak untuk melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan apapun.

Saya ambil contoh, jika keputusan sudah diambil lalu pihak industri merasa tidak puas, as an employer mereka punya hak untuk melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan apapun. Jika hal tersebut dilakukan maka pihak employee lah yang rugi beberapa kali lipat, karena mungkin sebelumnya jika tidak berdemo maka mereka akan tetap memiliki pemasukkan rutin bulanan. belum lagi keputusan-keputusan seperti menutup industri yang menyebabkan PHK secara masif. lalu apa yang didapat oleh employee? Nothing! but heavier pressure from their life.

Oleh karena itu untuk menemukan titik temu semua pihak harus “main cantik”, tidak termakan emosi dan berfikir waras. Karena bila tidak ketemu dan dipaksakan maka semua pihak jadi sama-sama hangus. Coba ingat-ingat itu deh.

Foto: TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat