Bisnis Manipulasi Hati


…bahkan dengan memanipulasi perasaan iba saja masyarakat bisa langsung jatuh hati dan terjebak berkali-kali.

Ini bukan pertama kalinya saya mendengar cerita bahwa ada pengemis yang bisa kaya raya dari hasil mengemisnya. Disekitar tahun 90an saya masih ingat harian Kompas sempat memuat sebuat ulasan eksklusif yang mengupas tentang rumah-rumah mewah di daerah yang dimiliki oleh para pengemis di Jakarta. Ulasan tersebut jadi bahan pembicaraan orang selama berhari-hari. Namun apakah pengemis jadi berkurang? Tidak tahu tepatnya namun saya tidak pernah melihat jalan-jalan kita terbebas dari pengemis.

Don’t get me wrong. Saya bukannya membenci pengemis namun saya tidak suka dengan bidang pekerjaan yang sifatnya menipu (dan saya tidak pernah membayangkan mengemis jadi sebuah pekerjaan). Persepsi banyak orang terhadap pengemis awalnya banyak yang sama yaitu orang yang kesusahan dan sangat butuh bantuan. Dengan tampilan yang memperkuat gambaran kondisi susah tersebut (baju lusuh, robek-robek, muka memelas dan meminta-minta), dengan mudah mereka berhasil membuat iba semua orang yang lalu dengan baik hati memberikan “sedekah” sekadarnya dengan harapan bisa membantu penderitaan mereka. Lalu yang terjadi adalah para pengemis tersebut jadi kebanjiran “sedekah” sehingga mereka mulai berfikir untuk menjadikannya sebagai mata pencaharian dan boom! kita lihat berita di Kompas ini.

Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan, terutama jika memang kehidupan seseorang ada dalam kesulitan, yang salah adalah memanipulasi rasa iba agar bisa mendapatkan uang.

 Intinya ia lebih memilih “pekerjaan” meminta-minta daripada real pekerjaan.

Saya ingat beberapa tahun yang silam seorang rekan sempat mengangkat seorang anak jalanan peminta-minta untuk bekerja jadi pembersih kantor. Tugasnya adalah membersihkan piring-piring dan gelas-gelas kotor, menyapu, mengepel dan lain sebagainya yang sifatnya adalah menjaga kebersihan kantor. lalu apa yang terjadi? Dalam 3 hari si anak ini kabur. Lalu beberapa hari kemudian ia ditemukan dilokasi yang sama tempat ia meminta-minta. Ketika ditanya mengapa ia kabur, jawabnya singkat….gak betah dengan pekerjaan tersebut. Intinya ia lebih memilih “pekerjaan” meminta-minta daripada real pekerjaan.

Negara kita kelihatannya tidak memiliki jalur penjamin kesejahteraan yang jelas.

Rakyat tidak mampu tidak terdeteksi dengan baik sehingga pelayanan sosial tidak bisa diberikan secara optimum. Maaf sekali lagi saya harus “berkaca” dengan kebudayaan luar, yaitu memberikan tips. Tips  ini bukan sedekah, tapi semacam imbalan karena seseorang melakukan sesuatu, namun ini dilakukan diatas pekerjaan yang mereka lakukan sehingga mereka bisa mendapatkan tambahan pendapatan. Contohnya waiter di restoran-restoran. Sistem tips ini pun juga banyak diadopsi di sini yaitu dengan membersihkan dengan paksa mobil-mobil di lampu merah lalu mereka meminta tips. Atau pengamen-pengamen yang tidak berniat menghibur di lampu-lampu merah dengan harapan si pemilik kendaraan memberikan uang dengan alasan apapun (terhibur ataupun lebih banyak yang ingin segera menyudahinya karena terganggu).

Jika saja dinas sosial di negara kita punya dana yang diambil dari pajak dan sistem yang baik dalam hal pendistribusian untuk menjamin orang-orang tak mampu tak turun ke jalan mungkin kita akan jarang melihat para pengemis lagi. Karena orang-orang tak mampu akan bisa mendaftarkan diri di dinas sosial untuk mendapatkan jaminan hidup sementara lalu oportuniti pekerjaan setelahnya. Lalu kita bisa menetapkan hukum yang pasti terhadap pengemis-pengemis tersebut karena jalur yang benar telah ada.

Jika orang-orang dari daerah berbondong-bondong datang ke kota besar untuk “bekerja” yaitu mengemis, artinya pekerjaan rumah kita semua untuk memperbaiki persepsi yang makin lama makin dianggap benar karena lagi-lagi pembiaran oleh semua pihak.

Foto: The Province

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s