Pentingnya Konteks Dalam Foto Jurnalistik


A picture is worth a thousand words

Mungkin Anda semua pernah mendengar kalimat di atas, yang awalnya disampaikan oleh salah seorang editor di sebuah suratkabar tahun 1818 yang menggambarkan bahwa sebuah image/gambar/foto bisa “bercerita” banyak hal ketimbang kita menggambarkannya dalam bentuk tulisan. Mungkin terlalu naif ya tapi permasalahannya tidak semudah itu. Karena dengan tidak jelasnya konteks dalam gambar tersebut maka yang terbentuk adalah ribuan interpretasi yang tidak kelihatan yang mana yang benar. Bahkan di jaman teknologi internet dimana semuanya serba cepat, tanpa dibarengi sebuah konteks maka salah persepsi yang tersebar dan yang terjadi adalah su’udzon berjamaah.

Kita kenal dengan foto di atas yang membuat heboh banyak media dan terestafetkan ke pembaca media-media tersebut. Seluruh dunia mengecam perilaku tiga orang pemimpin dunia (PM Denmark Helle Thorning Schmidt yang diapit PM Inggris David Cameron dan Presiden AS Barack Obama) yang berlaku bak anak muda berfoto selfie ditengah acara peringatan meninggalnya Nelson Mandela di Afrika Selatan. Ketiganya dianggap tidak sensitif. Apalagi terlihat disamping Obama terlihat sang istri, Michelle dalam kondisi seperti merengut bete. Setidaknya ‘cerita’ itu lah yang tertangkap pada foto di atas yang diambil oleh Roberto Schmidt, fotografer AFP. Pertanyaannya, apakah benar kejadiannya demikian?

Lalu munculah konteks lain yang diceritakan oleh Roberto Schmidt sang fotografer. Dalam tradisi masyarakat Afrika Selatan setelah acara resmi yang berlangsung selama 4 jam, maka akan dilakukan tari-tarian dan menyanyi bersama agar si arwah bisa bahagia meninggalkan alam dunia. Bayangkan suasana stadion Soweto yang gegap gempita oleh suara orang-orang bernyanyi dan menari dengan gembira. Pada saat yang sama itu lah Roberto Schmidt mengambil seri foto ini. Jadi suasana saat foto diambil memang tidak lagi dalam keadaan berduka. Jadi konteksnya berbeda dengan bayangan kebanyakan orang dimana prosesi pemakaman itu biasanya ada dalam kondisi berduka. Bahkan Michelle yang keliatan seperti merengut itu ternyata beberapa saat sebelum foto tersebut diambil ikut bercanda dengan ketiga pemimpin dunia tersebut.

A picture also can be worth a twisted perception

Kita pun pernah mengalami hal serupa ketika sebuah foto tampat di sebuah media yang menggambarkan Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung (CT) tengah menunjuk ke arah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Anda pasti masih ingat reaksi apa yang terjadi di social media maupun dimana-mana melihat foto ini. Lagi-lagi yang kurang pada foto ini adalah konteks yang menjelaskan lebih lanjut. Karena ternyata pada beberapa kasus walaupun a picture is worth a thousand words tapi ternyata masih tetap kurang jika konteks sebenarnya tidak tergambar.

Penjelasan tentang konteks pada foto Chairul Tanjung yang sedang menunjuk Presiden SBY itu bisa di baca di sini.

Foto: Roberto Schmidt/AFP & abror/presidenri.go.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s