Teknologi untuk Penyebaran Konten ke Pelosok Indonesia


buku_utk_papua

Pendidikan di negara kita ini penyebarannya tidak merata, kita semua tahu itu. Dan penyebabnya salah satunya dan yang terpenting katanya adalah infrastruktur yang lambat sekali pembangunannya. Apa benar demikian? Apa sih yang disebut dengan infrastuktur yang jadi kambing hitam penyebab lambatnya penyebaran pendidikan? Berdasarkan hasil tanya sana-sini infrastruktur yang dimaksud tersebut adalah sarana dan prasarana agar proses belajar-mengajar bisa berlangsung, dengan kata lain mulai dari keberadaan listrik, ruang kelas, meja-kursi, sampai dengan pengadaan guru dan pengajarnya. Saya jadi bertanya-tanya apakah benar proses belajar-mengajar itu tidak bisa berlangsung jika sarana dan prasarana yang disebutkan di atas tidak tersedia? 

Beberapa hari yang lalu saya menghadiri sebuah acara community gathering yang diadakan oleh Gerakan Indonesia Berkibar atau disingkat GIB. Gerakan ini memfokuskan diri pada kemajuan pendidikan di Indonesia oleh karena itu komunitas-komunitas yang hadir pun banyak yang juga berkutat di bidang pendidikan. Salah satunya adalah komunitas Buku Untuk Papua yang diwakili oleh mas Dayu Rifanto, founder dari komunitas Buku Untuk Papua ini.

Komunitas Buku Untuk Papua ini adalah sebuah komunitas yang dijalankan oleh mas Dayu yang mengajak anggotanya menyumbangkan buku untuk rumah baca yang ada di Papua yang juga mereka prakarsai. Dengan cara seperti itu maka anak-anak di Papua bisa ikut mendapatkan informasi dan ilmu yang setidaknya sama dengan daerah-daerah lainnya. Saya sangat salut dengan usaha teman-teman di komunitas Buku Untuk Papua ini untuk bisa mendistribusikan buku yang tidak lain sumber ilmu ke Papua dengan segala kondisi infrastruktur yang masih belum bisa diandalkan sehingga pengiriman jadi beban yang tidak ringan juga.

Jika saya runut kembali ke pertanyaan saya diawal, sebenarnya yang jadi beban adalah buku-buku tersebut karena fisiknya harus dikirim, sedangkan konten/isi dari buku-buku tersebut sebenarnya tidak jadi beban. Coba jika kita bayangkan konten buku tersebut bentuknya digital, maka untuk mengirimkan file digital tersebut tidak lagi bergantung pada infrastruktur fisik (jalan raya, penerbangan, dan sebagainya), namun pada infrastuktur digital/internet/data yang ikut dalam jaringan mobile, dimana jaringan ini relatif jauh lebih siap.

Dengan kondisi seperti itu untuk mengirimkan buku ke Papua bukan masalah yang berat lagi sekarang asalkan buku-buku yang akan dikirim bentuknya adalah digital. Pertanyaan yang nantinya akan muncul, bagaimana nanti anak-anak Papua itu membaca buku digitalnya (ebook)? Kerjasama saja dengan program-program CSR pada perusahaan-perusahaan, sehingga bisa diadakan tablet-tablet untuk di rumah baca yang ada di Papua tersebut. Atau jika tetap bentuk buku yang lebih diinginkan, tinggal di print saja di Papua tentunya akan jauh lebih murah daripada harus mengirimkan buku-buku dalam bentuk fisik ke Papua.

Banyak yang lupa bahwa jaringan internet via mobile walaupun belum bisa disebut sempurna namun cakupannya membuatnya jadi sebuah platform yang cukup bisa jadi solusi dalam pendistribusian sebuah konten. Bila Gerakan Buku Untuk Papua ini bisa memelopori penyebaran konten ke Papua menggunakan teknologi, maka mereka bisa dijadikan raw model pemerataan penyebaran pendidikan dalam cakupan yang lebih luas, yaitu ke seluruh pelosok Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Foto: Buku Untuk Papua

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s