Riskannya Berkomunikasi dengan Teks


tweet war

Media online adalah medan pertempuran yang sangat berbahaya. Mengapa demikian? Karena pihak yang bertempur tidak bisa menggunakan indera yang lengkap untuk menganalisa setiap “serangan”, sehingga seringkali yang terjadi gelombang permusuhan jadi membesar dan tidak bisa dikendalikan. Bagaimana jelasnya? Saya akan coba jelaskan.  

Media online atau banyak yang mengenalnya sebagai media sosial, adalah tempat kita semua berinteraksi. Teks adalah alat yang paling banyak digunakan untuk berkomunikasi sedangkan foto, video dan audio masih banyak hanya jadi pelengkap. Pertanyaannya mengapa argumentasi yang condong ke perseteruan di dunia online jauh lebih riskan? Jawabannya adalah indera alami yang dimiliki oleh manusia merupakan perangkat canggih yang hanya bisa berjalan sempurna jika digunakan dengan perangkat yang sama. Kita berkomunikasi secara alami menggunakan mata, suara, telinga dan gesture (gerakan tubuh), sehingga untuk mengontrol percakapan keempatnya akan memberi feedback ke otak untuk dicerna yang kemudian dikembalikan ke indera untuk dijadikan bahan respons.

Bayangkan apa yang bisa kita cerna dengan membaca rentetan teks tanpa emosi yang biasa kita dapatkan jika kita berkomunikasi secara langsung dengan orang lain? Saya ambil contoh, kalimat “Tolong jangan diulangi” bisa keluar dari salah satu orang dalam gambar di bawah ini bukan?

angry vs friendly

Bayangkan jika kita berkomunikasi di media online apa yang terjadi jika kita tidak bisa mendengarkan intonasi suara, ekspresi wajah, gesture tubuh, dan hanya mengandalkan teks semata? Most likely resiko terjadinya salah faham akan besar sekali bukan?

Oleh karena itu jika perbincangan di media online memanas, maka janganlah terburu-buru membiarkan emosi membungkus kita, karena besar kemungkinan terjadi kesalah fahaman. Banyak yang bilang oleh karena itu diciptakanlah emoticon agar bisa memberikan “ekspresi” pada teks, namun apakah itu cukup? Saya ambil contoh lagi, kalimat “Tolong jangan diulangi” jika ditambahkan emoticon, jadi “Tolong jangan diulangi :-)”…apa yang Anda rasakan? Atau misalnya “Tolong jangan diulangi :-P”…Tetap saja tidak bisa memberikan gambaran yang jelas bukan?

Lalu apa yang harus dilakukan jika komunikasi di media online memburuk?

  • Cara pertama adalah jangan diteruskan, take a break, ambil waktu agar bisa berfikir jernih sebelum mulai kembali menanggapi.
  • Cara kedua adalah jika Anda kenal dengan orangnya usahakan untuk menghubunginya in person untuk mengklarifikasikan masalahnya.

Tidak ada yang bisa mengalahkan indera yang kita miliki untuk berkomunikasi dengan sesama.

Foto: eider.com , LoveToKnow , adralves.deviantart.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s