What’s In It For Me? (Bagaimana Menyiasati Word of Mouth?)


word of mouth

Bisnis sudah berjalan untuk beribu tahun dengan menggunakan cara Word of Mouth (getok tular). Mulai dari pasar-pasar tradisional di Timur Tengah sampai dengan jual beli kuda di Eropa Timur dan juga tempat pelelangan ikan di pesisir pulau Jawa, kita selalu menjalankan bisnis berdasarkan rekomendasi dari teman-teman sejawat kita. Saat Anda ingin mendapatkan penawaran untuk tempat tinggal ataupun kendaraan, maka teman-teman Anda pasti akan memberikan saran kemana Anda harus mencari. Pertanyaannya adalah, bagaimana membuat pelanggan Anda bisa merekomendasikan bisnis Anda?

Saya sempat menanyakan pada salah satu teman saya bagaimana respons dirinya terhadap rekomendasi dari seorang teman tentang sebuah bisnis. Adalah sangat jelas tertangkap bahwa ia tidak bisa ingat apakah ia pernah menggunakan rekomendasi dari teman. Bagian yang bisa dibilang aneh adalah ia juga tidak bisa mengerti mengapa ia tidak bisa mendapatkan banyak refferal dari klien-kliennya seperti yang diinginkan.

Berdasarkan cerita dari teman saya tersebut maka ada dua opportunities untuk hal ini:

  • Bagaimana membuat klien merekomendasikan Anda?
  • Bagaimana memfollow-up untuk memastikan teman Anda juga merekomendasikan Anda, dan bagaimana membuat referal kedalam bisnis Anda.

Dari dua poin tersebut saya jadi teringat dengan tulang punggung kapitalisme yang sudah berlaku sejak lama, yaitu insentif.

Anda berharap “happy clients” akan merekomendasikan Anda karena mereka puas dengan pekerjaan Anda, namun hal ini tidak selalu terjadi dengan mudah.

Saat saya merekomendasikan untuk memberikan insentif bagi klien-klien teman saya tersebut, sistem refferal mulai bergulir. Nah sekarang baru kelihatan penyebab semuanya bisa mulai berjalan dan sangat jelas. Hampir semua dari kita adalah masyarakat yang hidup atas dasar WIIFM (What’s In It For Me). Dan Word of Mouth itu tidak saja terjadi saat bisnis dimulai namun pada saat proses follow-up juga karena cara satu-satunya insentif itu bisa dikeluarkan adalah dengan mengajak calon klien masuk ke bisnis kita.

Jadi walaupun ada Seth Godin pada bukunya “Linchpin” ataupun Malcolm Gladwell pada “The Tipping Point”, insentif akan bisa bekerja hanya jika klien Anda sudah berhasil diyakinkan. Dan mudah-mudahan apa yang mereka yakini itu adalah diri Anda.

Iklan

4 pemikiran pada “What’s In It For Me? (Bagaimana Menyiasati Word of Mouth?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: