Pelayanan Customer Service Yang Baik Melalui Media Sosial


Bad Service

Media sosial sudah mulai berubah menjadi lebih dari hanya sekedar platform marketing dan advertising. Posisi mereka makin dianggap valid dan penting sebagai kanal pelayanan pelanggan (customer service). Saya belum menemukan data untuk negara kita tapi di US sendiri, berdasarkan laporan tentang media sosial yang dikeluarkan oleh Nielsen ditahun 2012, hampir separuh dari pelanggan menggunakan media sosial untuk bertanya, menyatakan kepuasan atau komplen, dan sepertiga dari pengguna media sosial lebih memilih “social customer care” ketimbang via telpon.

Walaupun konsep social customer care itu bukanlah konsep baru namun mengelola beberapa kanal media sosial sekaligus itu cukup jadi tantangan yang berarti untuk perusahaan-perusahaan B2B dan B2C, besar maupun kecil. Ini termasuk juga kesempatan-kesempatan yang bisa berdampak positif terhadap penjualan dan kesetiaan pelanggan. Kenyataan yang muncul adalah naiknya tingkat ekspektasi dari pelanggan terhadap fungsi layanan pelanggan (customer service) dari tahun ke tahun dan pelanggan juga berharap brand bisa menciptakan pengalaman yang setidaknya mendekati dari apa yang mereka dapatkan di toko ataupun showroom ke Facebook timeline. Dengan hanya memiliki akun media sosial saja tidak cukup lagi, Anda harus bisa jadi super hero media sosial.

Bagaimana caranya? Saya akan mencoba menjelaskan beberapa pengalaman yang bisa kita pelajari untuk bisa menyediakan customer service lewat media sosial yang baik.

Usahakan selalu ada di mana pelanggan Anda berada

Salah satu tantangan awal untuk menyediakan layanan pelanggan yang baik lewat media sosial adalah menentukan harus memfokuskan waktu dan sumber daya dimana. Saat aktivitas marketing mulai memberikan traffic pada situs-situs sosial yang ditargetkan, tim customer service harus menemui pelanggan di tempat dimana mereka sudah bersosialisasi. Bagi kebanyakan perusahaan, Facebook dan Twitter adalah media utama yang digunakan untuk social customer care, tapi untuk beberapa brand mereka merasa lebih cocok untuk menggunakan Google+, LinkedIn, Pinterest, Instagram, dan lain sebagainya.

Untuk mengetahui dimana pelanggan Anda berada, gunakan pencarian “mention” brand Anda pada media sosial yang populer. Perlu Anda ketahui bahwa merupakan kesalahan besar membiarkan dialog tentang brand Anda bergulir semata-mata ditujukan untuk para komentator dan algoritma pencarian Google.

Jika Anda mendapati pelanggan belum membicarakan brand Anda di online, maka Anda harus mencari cara agar bisa menyelinap dan menyertakan diri Anda pada percakapan-percakapan yang relevan dengan industri Anda. Cara mudah agar bisa diterima adalah mengangkat sesuatu yang memiliki nilai lebih pada percakapan yang berlangsung.

Pengguna bukan brand, namun pengguna memiliki kekuatan untuk menentukan nasib image sebuah brand di media sosial, maka perilaku pengabaian percakapan yang terjadi di media sosial seperti Facebook dan Twitter akan bisa menimbulkan konsekuensi yang mengejutkan. Laporan dari Conversocial menyebutkan bahwa 88% dari pengguna tidak akan membeli dari perusahaan yang mengabaikan pertanyaan di media sosial.

Dengarkan apa yang pelanggan Anda katakan

Banyak pemasar sudah cukup familiar dengan alat monitor media sosial yang bisa mengotomasi proses pencarian nama brand, ataupun menyisir media sosial untuk mencari kata kunci yang spesifik. Perlu diketahui bahwa kegiatan “mendengarkan” itu sama pentingnya dari perspektif customer service. Saat partisipan dalam survey yang yang dilakukan oleh Oracle pada tahun 2012 ditanyakan tentang apa yang paling penting menurut mereka saat mengunjungi halaman media sosial sebuah perusahaan, 43% menjawab bahwa mereka mencari respon langsung terhadap pertanyaan mereka, lalu diikuti dengan 31% yang mengharapkan bisa berhubungan langsung dengan perwakilan customer service perusahaan tersebut.

Tergantung seberapa besar aktivitas yang dihasilkan oleh halaman media sosial brand Anda, adalah penting untuk bisa mengumpulkan dan menganalisa aktivitas pelanggan Anda sehingga Anda bisa memahami apa saja issue-issue yang sedang berkembang di media sosial. Perusahaan yang lebih kecil mungkin perlu mengumpulkan data aktivitas selama mingguan ataupun bulanan sementara perusahaan yang lebih besar mungkin bisa melakukannya untuk waktu yang lebih singkat.

Perhatikan informasi yang Anda kumpulkan untuk menentukan:

  • Berapa banyak komentar yang muncul saat mengalami rasa frustasi ketika mendapatkan pengalaman buruk sebagai pelanggan langsung ataupun online?
  • Berapa banyak pertanyaan teknis atau spesifik tentang akun yang muncul?
  • Berapa banyak masukan yang masuk dalam bentuk komentar? Positif atau negatif?
  • Berapa banyak pertanyaan yang bisa dijawab dengan menggunakan link ke halaman bantuan yang sudah ada?
  • Berapa banyak mention yang dibutuhkan agar bisa mendapatkan benefit dari percakapan?
  • Di waktu kapan saja pelanggan Anda aktif di media sosial?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas ini akan membantu Anda merencanakan pengelolaan serta penyediaan tim pengelola, menetapkan kriteria untuk diprioritaskan, membuat keputusan tentang opsi swalayan dan menentukan apakah Anda bisa menangani langsung masalah-masalah yang ada lewat kanal media sosial atau Anda butuh proses untuk mengarahkan pelanggan ke lini pendukung yang lain.

Ada alat yang bisa mengotomasi proses kalkulasi volume dan waktu, dan juga sekaligus bisa menghasilkan laporan lengkap dengan gambaran seperti apa yang diinginkan pelanggan. Anda juga bisa mempelajari, contohnya pada rentang waktu kapan saja pelanggan Anda aktif di media sosial.

Ikuti dan kelola jumlah percakapan

Ukuran dari perusahaan Anda serta industrinya secara vertikal akan mempengaruhi ukuran kemampuan mereka menyerap interaksi sosial. Beberapa perusahaan akan melihat sejumlah “noise” lewat media sosial dan tantangan mereka adalah bagaimana bisa menyaring “noise” tersebut untuk bisa mendapatkan kontak-kontak yang merupakan prioritas utama untuk direspon. Perusahaan-perusahaan lain mungkin mendapati justru mayoritas yang didapat dari kontak mereka adalah permintaan langsung untuk mendapatkan layanan pelanggan. Tergantung dari besarnya jumlah interaksi sosial yang dihasilkan oleh brand, dan seberapa besar jumlah staff yang Anda miliki, kemampuan Anda untuk mengikuti permintaan serta respon yang bisa Anda berikan mungkin bisa dimudahkan oleh platform customer service yang bisa diintegrasikan dengan media sosial. Dengan cara ini maka Anda bisa dengan mudah mengatur arus, mengikuti dan mengarahkan permasalahan yang dikeluhkan dari belakang layar, sekaligus juga merespon pelanggan ditempat mereka menghubungi Anda.

Salah satu best practice, tidak terlalu bijaksana untuk membuat setiap mention di media sosial jadi tiket, karena itu bisa membuat halaman media sosial perusahaan Anda dipenuhi dengan traffic yang tinggi sehingga jadi berat, atau karena setiap transaksi tidak selalu memerlukan respon (kadang pelanggan sudah cukup mahir untuk saling merespon satu sama lain). Namun tetap perlu dimengerti bahwa apa yang bisa disediakan oleh platform multi kanal untuk customer service yang terintegrasi adalah konteks. Semakin Anda bisa membaca perjalanan seorang pelanggan, semakin baik. Apakah terbuka kesempatan untuk berkomunikasi dengan pelanggan ini? Siapa yang berinteraksi dengan mereka? Dan bagaimana hasil percakapannya? Apakah mereka punya masalah yang sama sebelumnya? Apakah mereka pernah mencoba menghubungi customer support melalui cara tradisional atau lewat Facebook? Jika Anda sudah memiliki data pengguna, maka Anda bisa mengurangi pertanyaan-pertanyaan basic yang selalu bolak-balik ditanyakan.

Dalam dunia media sosial yang cepat berubah, kecepatan respon sangatlah kritis. Memperlakukan tiket media sosial sama dengan tiket lainnya bisa jadi tidak cukup karena pelanggan akan mengharapkan respon yang lebih cepat. Jadi bagaimana Anda bisa mendefinisikan kriteria untuk di prioritaskan? Tentu saja tidak ada satu jalanpun untuk itu, namun ada beberapa saran:

Prioritas tertinggi:

  • Pertanyaan-pertanyaan teknikal atau yang terkait dengan akun
  • Komplen dari pelanggan yang merasa tidak puas
  • Permintaan pelayanan atau produk yang butuh cepat penanganannya
  • Masalah yang mempengaruhi banyak pengguna atau beresiko mempertinggi potensi krisis PR

Hal-hal yang masuk dalam prioritas tingkat kedua kadang memberikan kesempatan pada kita untuk bisa berinteraksi secara proaktif. Anda bisa mempertimbangkan hal-hal seperti:

  • Merespon terhadap referensi umum yang merujuk para produk dan layanan
  • Berterima kasih pada pelanggan yang memberikan masukan yang positif
  • Berkomunikasi dengan siapa saja yang memberikan komen tentang brand ataupun industri Anda yang tidak selalu punya target bagi Anda dalam merespon

Bisnis yang lebih kecil tanpa kebutuhan platform khusus untuk customer service bisa mencoba untuk membangun tiket khusus dan sistem pengelolaannya untuk media sosial (ketimbang menggunakan telpon, email dan chat support) atau, setidaknya mereka bisa memanfaatkan fitur PM (private messaging) di Facebook atau DM (direct messaging) di Twitter agar bisa membangun kumpulan arsip interaksi dengan pelanggan.

Waktu adalah esensial

Dengan kata lain “kecepatan respon sangatlah kritis” adalah pernyataan yang penting untuk terus diingat.

Biasanya “Live help” itu selalu mengacu pada layanan melali telpon ataupun chat, dalam pikiran pelanggan media sosial itu masih dianggap ada dalam area abu-abu yang lebih dekat ke garis yang melintas antara chat dan layanan email. Padahal sebetulnya media sosial itu berpotensi untuk bisa dijadikan jalur instan untuk layanan bantuan jika media sosial tersebut dimonitor secara konstan, namun yang biasanya terjadi, bantuan datangnya dalam hitungan jam.

Beberapa studi menemukan bahwa kebanyakan dari pelanggan mengharapkan respon melalui media sosial dalam hari yang sama. Hal tersebut sangat bisa dimengerti apabila dilihat Edison Research melaporkan bahwa ada 42% dari pengguna yang melakukan komplen lewat media sosial mengharapkan respon dalam waktu paling lama 60 menit, dan juga menurut survey yang dilakukan oleh Oracle, lebih dari separuh pengguna Twitter mengharapkan respon dalam waktu tidak lebih dari 2 jam dari sejak mereka mentwit di perusahaan mereka, yang artinya kedua hal tersebut menunjukkan tingkatan kesulitan layanan yang harus dilakukan, walaupun untuk beberapa perusahaan juga ada yang baru memulai.

Salah satu tantangan untuk menyediakan layanan social customer care ketika Anda tidak menggunakan layanan model 24/7 adalah twit dan posting di linimasa akan terabaikan melewati satu malam, membuat waktu respons Anda baru muncul beberapa jam sampai dengan 10-20 jam berikutnya.

Satu best practice yang bisa saya berikan, biasakan segera merespon atau jangan janjikan hal tersebut sama sekali. Hal ini bisa jadi sangat tricky tanpa harus mengaktifkan autoresponder, salah satu solusi adalah mempersiapkan pesan khusus untuk setiap kanal media sosial yang memberikan informasi pada pelanggan bahwa Anda sudah melihat komen mereka dan sedang mencarikan jawabannya.

Kecepatan tidak jadi faktor yang penting jika Anda tidak bisa memecahkan masalah pelanggan. Secara garis besar, jika Anda dengan mudah bisa menjawab pertanyaan yang ada di media sosial dalam bentuk komen ataupun twit, dan jawaban Anda akan jadi jawaban publik, maka lakukanlah. Namun yang lebih penting daripada memberikan jawaban melalui kanal yang sama dimana pertanyaan tersebut dilontarkan adalah melakukannya pada waktu yang tepat serta jawaban yang tepat. Ini bisa juga mencakup penyediaan respon awal lewat media sosial yang lalu bergerak ke arah percakapan di kanal layanan yang lain.

Social customer care adalah layanan. Titik!

Kesuksesan usaha Anda dalam menjalankan social customer care adalah tergantung dari kualitas pelayanan yang Anda berikan, namun Anda perlu juga lebih keras berusaha karena menyediakan layanan customer service yang baik lewat media sosial bisa menyerap tenaga lebih dalam pengelolaan. Admin yang merespon haruslah secara tepat, akurat, sensitif, singkat dan sekaligus bersahabat, permintaan yang banyak bukan?

Admin harus merespon dengan cepat tapi tidak terlalu cepat juga jika akhirnya masalahnya tidak terselesaikan secara baik. Admin harus mempergunakan kemampuan soft skills mereka untuk membaca kondisi emosi pelanggan dan lalu menentukan dengan tepat di kondisi informal media sosial, seperti misalnya pengunna emoji dan smiley adalah pantas jika digunakan pada kondisi yang memungkinkan untuk percakapan yang bersahabat, atau kapan pernyataan formal dari empati perlu ditunjukkan sebelum merujuk pada masalah yang dihadapi oleh pelanggan.

Bisa atau haruskah satu masalah diselesaikan secara publik dengan keterbatasan struktur komen dan twit? Apakah si admin sudah dilatih atau memiliki kemampuan membuat reply atau balasan tanpa ada kesalahan? Mitos yang berkembang secara populer diluaran adalah anak mudan yang memiliki pengtahuan teknologi adalah paling tepat untuk mengelola media sosial, namun pada beberapa perusahaan besar dipalorkan bahwa mereka sukses menggunakan admin customer service yang berpengalaman, yang dilatih khusus untuk media sosial.

Secara umum, seluruh prinsip layanan pelanggan yang baik juga berlaku di media sosial. Respon yang baik akan bisa:

  • Mengidentifikasi masalah pelanggan dengan tepat
  • Memberikan link sebagai tambahan informasi
  • Menutup interaksi dengan baik (walaupun hanya mengucapkan terima kasih di komen ataupun twit)
  • Menyertakan sentuhan personal dengan menyertakan inisial sebagai tanda admin yang sedang bertugas
  • Selalu konsisten, yang kaitannya dengan tone dan waktu respon

Penggunaan secara aktif situs seperti Twitter akan menimbulkan ketertarikan tersendiri serta menambah skill. Pertimbangkan untuk mengadakan acara kumpul-kumpul berbagi (sharing session) atau sejenisnya untuk saling melatih antar staff Anda dalam penggunaan dan etiket di media sosial. Seringkali perusahaan yang baru dan lebih kecil, sering terjadi overlap antara marketing dan customer service, namun seiring dengan berkembangnya perusahaan maka skill sets, pengalaman-pengalaman, dan panduan komunikasi cenderung terpecah dan jadi terpisah. Pelatihan untuk saling berbagi bisa memastikan anggota tim Anda bisa belajar satu sama lain, sehingga pesan tentang brand Anda serta integritasnya akan bisa ditegakkan dalam setiap interaksi yang dilakukan disetiap interaksi dengan pelanggan.

Berdasarkan laporan dari Gartner, begitu admin sudah dilatih untuk merespon lewat media sosial, mereka memiliki mpotensi untuk bisa jadi lebih efisien, menangani 4 sampai 8 kali jumlah kontak yang diterima lewat media sosial seperti yang dilakukan lewat telpon. Sebagai tambahan tentang efisiensi, juga dilaporkan bahwa memberikan layanan yang baik lewat sosial akan membantu perkembangan komitmen secara emosional pada brand Anda.

Menentukan kapan harus memperlakukan satu masalah secara “offline”

Memberikan respon publik pada sebuah pertanyaan atau komplen bisa melewati jalan yang cukup panjang. menurut Conversocial, 95,6% pelanggan terpengaruh dengan komentar-komentar pada halaman media sosial yang dimiliki oleh brand, jadi hal yang sama akan terjadi juga dengan respon Anda yang mulai naik di media sosial.

Saat Anda berhasil atau kehilangan pelanggan pada customer service, akan menambah pengeluaran. Berita baiknya adalah seperti yang dilangsir oleh Bain and Company, pengguna media sosial menghabiskan waktu 21% lebih banyak saat mereka mendapatkan pengalaman customer service yang baik.

Namun kenyataannya adalah tidak semua kontak melalui media sosial bisa diselesaikan hanya dalam satu kali komunikasi (atau kurang dari 140 karakter), terutama jika masalahnya sangat teknis atau saat pelanggan punya banyak keluhan yang disampaikan. Juga bisa sangat sulit untuk mengetahui pada satu kasus apakah pelanggan ingin terus melanjutkan permasalahan atau tidak, dengan memenuhi linimasa Twitter dengan reply, jadi customer service harus mahir dalam menentukan kapan mengalihkan percakapan dari ruang publik ke private message atau bahka keluar dari media sosial sama sekali, dengan kata lain juga sebaliknya, mengembalikkannya ke ruang publik.

Secara umum, admin harus memindahkan percakapan ke “offline” dalam hal ini keluar linimasa atau feed/stream/profil, saat:

  • Sudah mulai terlalu banyak tektokan reply yang bisa disebabkan karena pelanggan menginginkan jawaban dari beberapa pertanyaan sekaligus, atau
  • Dibutuhkan data-data personal, seperti email, nomer telpon, password, nomor akun atau kartu kredit

Bagaimana melakukannya? Informasi sensitif yang bisa dengan cepat disampaikan lewat tulisan dapat dikirimkan lewat private message (PM) atau direct message (DM) di media sosial. Dibawah ini adalah contoh-contoh yang diambil dari kasus yang terjadi yang menunjukkan bagaimana satu perusahaan menggunakan Twitter untuk meminta informasi, menyarankan untuk menggunakan kanal lain, dan memindahkan percakapan ke komunikasi tertutup (private message):

@Pelanggan Mohon maaf atas kejadian tersebut. Apakah boleh saya bantu? Boleh follow kami dan DMkan kami no order Anda? ^BW

@Pelanggan Mohon maaf atas kejadian tersebut. Kami bisa membantu Anda untuk menset ulang konfigurasinya. Mari kita bicarakan via LiveChat. ^BW

@Pelanggan Mohon maaf atas ketidak nyamanan yang dialami. Saya baru saja mencoba menghubungi Anda via FB Message. ^BW

Salah satu keuntungan mempergunakan platform customer service yang bisa mengintegrasikan kanal media sosial dan tradisional adalah  Anda bisa menggunakan media sosial untuk memberi tahu pelanggan bahwa Anda akan mengirimkan informasi yang mereka butuhkan lewat media lain seperti misalnya email, tanpa harus meminta alamat email mereka.

Setelah masalah selesai di jalur offline, adalah penting bagi kita untuk kembalo ke kanal sosial dan mengucapkan terima kasih pada pelanggan karena sudah menghubungi Anda. Interaksi di areal publik bisa jadi pisau bermata dua, namun poin positifnya adalah saat pelanggan mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan rasa terima kasih mereka tidak akan seperti bertepuk sebelah tangan, karena Anda bisa membalasnya.

Pada laporan yang dirilis oleh Zendesk, yang dinamakan Omnichannel Customer Service Report di tahun 2013, dapat dipelajari bahwa pelanggan secara default kembali ke layanan telpon dan email dalam jumlah yang sama saat mereka tidak menerima respon via media sosial. Tidak terlalu buruk bukan? Dalam laporan tersebut juga ditemukan bahwa 76% percakapan antara pelanggan dan brand berakhir saat brand menyarankan untuk pindah kanal ke email ataupun telpon.

Saat Anda membangun strategi media sosial support, bisa juga dibayangkan apa yang akan terjadi jika Anda memindahkan semua interaksi sosial ke offline atau kanal support yang lain. Perusahaan-perusahaan yang memiliki keterbatasan staff dan resources akan berfikir bahwa mereka harus melakukannya, dan jika keputusan tersebut berjalan dengan baik maka pelanggan akan merasa seperti menerima respon via media sosial serta masalah mereka bisa diselesaikan.

Mengubah situasi dengan mengubah sikap

Adalah mungkin kita membalik situasi “tanpa harapan” dengan mengubah sikap. Ini adalah saran yang sangat berguna saat memberikan layanan customer service via media sosial, melihat kecenderungan konsumen untuk menggunakan media sosial demi menarik perhatian sebuah brand. Pada survey yang dilakukan oleh Center for Services Leadership di Arizona State University, bersama-sama dengan Customer Care Measurement & Consulting, ditemukan bahwa 50% dari konsumen akan komplen ke brand tentang pengalaman buruk mereka terhadap produk dengan brand tersebut yang mereka gunakan.

Saat hal ini terjadi, semuanya akan tergantung dari respon Anda. menerima masukan yang negatif adalah seperti menerima undangan terbuka untuk memperbaiki brand’s image dan yang lebih penting hubungan Anda dengan pelanggan. Pelanggan itu harus dibuat merasa bahwa mereka itu didengarkan, dan juga Anda mau melakukan apa saja agar mereka bisa senang.

Dibawah ini adalah hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh perwakilan customer service secara proaktif terhadap pelanggan:

  • Merespon walaupun si pengguna tidak mengarahkan twit mereka secara langsung kepada Anda untuk meminta tolong. Menjawab mention atau komentar tentang brand itu sebenarnya tidak membutuhkan respon, namun bisa memberikan keuntungan, yaitu menunjukkan bahwa Anda memerhatikan.
  • Mempromosikan pelanggan Anda dengan cara meritwit ekspresi kepuasan pelanggan, atau me “like” interaksi yang membantu yang terjadi antar pelanggan. Itu seperti menyalami pelanggan Anda.
  • Berikan tim customer service Anda sedikit acknowledgement ke publik dengan cara memperkenalkan siapa yang sedang bertugas dan berapa lama mereka akan siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Pertimbangkan untuk mempost foto tim atau admin sehingga timnya bisa dikenal juga.
  • Jika memungkinkan, follow up hasil pemecahan masalah yang sudah selesai dengan ucapan “Bagaimana semuanya?”
  • Buatlah aktivitas kecil-kecilan namun konsisten yang dilakukan untuk mempromosikan apa saja yang dikerjakan oleh tim serta memberikan pengetahuan bagi pelanggan.

Last but not least, hal-hal yang perlu diperhatikan

  • Jangan mengabaikan pelanggan Anda. jika Anda sudah memutuskan untuk memberikan layanan customer service via media sosial maka minimal setiap pertanyaan langsung yang diberikan harus dijawab.
  • Jangan menghapus (atau menyembunyikan) komentar atau posting. Satu-satunya yang diijinkan adalah ketika sebuah komentar secara jelas adalah spam atau melanggar aturan berdasarkan community guideline yang berlaku. Menghapus komentar negatif dalam rangka melindungi image di dunia online hanya akan membuat brand tersebut dibenci oleh pelanggan serta merusak hubungan dengan pelanggan tersebut.
  • Jangan bersikap defensif. Penting untuk diingat bahwa walaupun dala keadaan emosi, pelanggan tersebut sudah mencari Anda. Berterima kasihlah pada mereka karena membawa masalah mereka ke depan Anda, mendengarkan keluhan mereka, dan meminta maaf atas kejadian yang menimpa mereka.
  • Jangan meladeni pelanggan yang kerjaanya hanya mengajak berargumentasi terus menerus dan secara publik mempermalukan brand Anda.Kadang pertahanan yang baik adalah berdiam diri. Setelah beberapa saat Anda akan lihat bahwa sedikit demi sedikit mereka akan menghancurkan kredibilitas mereka sendiri.
  • Jangan membebani pelanggan Anda dengan terlalu banyak informasi, apakah itu dengan memposting artikel-artikel dari knowledge-base atau memberikan respon yang terlalu panjang pada bagian komentar.

Ada juga pengecualian yang akan diberikan dan diterima dibandingkan aturan yang digunakan, pengecualian tersebut antara lain:

  • Jangan mereply atau merespon pada setiap pelanggan pada kejadian yang bersifat massa. Saat banyak pelanggan yang terkena dampak karena adanya sebuah issue, tindakan yang paling bagus dilakukan adalah memposting only public status sehingga akan tersebar kesiapapun.

Semakin baik social customer service yang Anda miliki, maka semakin besar traffic sosial yang bisa Anda harapkan.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat 🙂

Foto: The Exeter Daily

 

 

Iklan

7 pemikiran pada “Pelayanan Customer Service Yang Baik Melalui Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s