Mengapa kita like, share, dan comment di Facebook?


Facebook

Saya yakin kita semua pernah mengalami ini. Saat masuk kedalam sebuah media sosial dengan niat untuk bekerja, melihat track yang sudah kita lakukan untuk bisa mencapai gol pekerjaan, eh alih-alih malah kita tidak lepas. Dan tanpa sadar kita malah memeriksa notifikasi pribadi, melihat-lihat apa yang baru saja di posting di jaringan kita, lalu lupa sebenarnya apa tujuan awal saat login dan masuk ke media sosial tersebut diawal.

Ternyata ini terjadi bukan karena ketidaksadaran. Ada penjelasan secara sains dan psikologi yang menjelaskan mengapa begitu banyak pengguna tersedot pada media sosial.

Para periset telah menemukan tren aktivitas yang kita lakukan pada Facebook, salah satu jejaring sosial yang terbesar di dunia, yaitu liking, posting, sharing, commenting dan bahkan juga lurking.

Dan banyak lagi aspek psikologi yang terlibat yang membuat Facebook begitu menarik saat digunakan pertama kali. Mari kita bahas

Facebook menyentuh pusat kesenangan yang ada di otak yang membuat kita jadi sangat menyukainya

Banyak studi dilakukan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada otak kita saat kita berpartisipasi di media sosial, khususnya Facebook. Salah satu yang baru ditemukan adalah adanya hubungan yang kuat antara Facebook dengan bagian dari otak yang disebut dengan brain’s reward center yang dalam istilah kedokterannya disebut dengan nucleus accumbens. Area ini memproses perasaan menghargai sesuatu, seperti terhadap makanan, uang, penerimaan secara sosial.

Saat kita menerima feedback positif di Facebook, perasaan senang akan menyelimuti bagian ini di otak kita. Semakin besar intensitas penggunaan Facebook, maka semakin besar pula perasaan dihargai tersebut.

Studi lainnya mencatat reaksi psikologis seperti pelebaran pupil mata pada sejumlah voluntir saat mereka menatap halaman Facebook. Hal ini menunjukkan bahwa browsing Facebook bisa membangkitkan fokus secara menyeluruh yang disebut dengan istilah flow state, perasaan yang Anda dapatkan saat merasa sangat gembira mengerjakan sebuah pekerjaan atau mempraktekkan skill baru.

Mengapa kita me”like”?

Jika kita perhatikan, mungkin alat nilai yang paling gampang dikenali di Facebook adalah “Like”

Menurut Facebook sendiri:

“Like” is a way to give positive feedback or to connect with things you care about on Facebook. You can like content that your friends post to give them feedback or like a Page that you want to connect with on Facebook.

Jadi apa yang membuat kita me”like” atau tidak? Apakah karena status tertentu? Foto? atau Page? Ini ada beberapa alasan mengapa kita me”like”

Ekspresi yang bisa dilakukan dengan mudah dan cepat

Mungkin cara yang paling mudah untuk tahu apa artinya “like” untuk kita adalah dengan berhenti menggunakannya dan melihat apa yang terjadi. Itu yang dilakukan oleh Elan Morgan dalam eksperimen yang ia lakukan dalam 2 minggu. Ini yang ia temukan:

“The Like is the wordless nod of support in a loud room. It’s the easiest of yesses, I-agrees, and me-toos. I actually felt pangs of guilt over not liking some updates, as though the absence of my particular Like would translate as a disapproval or a withholding of affection. I felt as though my ability to communicate had been somehow hobbled. The Like function has saved me so much comment-typing over the years that I likely could have written a very quippy, War-and-Peace-length novel by now.”

Untuk menegaskan sesuatu tentang diri kita

Satu alasan yang jarang kita sadari adalah seberapa sering kita menggunakan “like” untuk menegaskan sesuatu tentang diri kita sendiri. Dalam sebuah studi yang melibatkan lebih dari 58 ribu responden yang me”like” lewat Facebook apps, peneliti menemukan bahwa “likes” bisa memprediksi sejumlah ciri-ciri yang teridentifikasi dari pengguna yang tidak diungkapkan:

“Feeding people’s “likes” into an algorithm, information hidden in the lists of favorites predicted whether someone was white or African American with 95% accuracy, whether they were a gay male with 88% accuracy, and even identified participants as a Democrat or Republican with 85% accuracy.  The ‘likes’ list predicted gender with 93% accuracy and age could be reliably determined 75% of the time.”

Untuk mengekspresikan empati secara virtual

Kadang-kadang kita me”like” untuk menunjukkan solidaritas atau rasa senasib dan sepemikiran dengan teman-teman atau kenalan. Media sosial bisa jadi salah satu cara untuk mengumpulkan empati secara virtual dan sampai bisa juga efeknya berimplikasi ke dunia nyata.

Salah satu studi yang dilaporkan di Psychology Today menunjukkan bahwa menggunakan waktu lebih banyak di jejaring sosial dan bergaul di instant message diprediksi bisa mempertinggi kemampuan berempati secara virtual dan virtual empati tersebut adalah indikator yang baik untuk kemampuan mereka mengekspresikan empati di dunia nyata.

Karena praktis/Kita akan mendapatkan imbal balik

Jika dilihat dari bagaimana kita me”like” Fcabeook page brand atau perusahaan, motivasinya sedikit lebih sederhana. Studi yang dilakukan oleh Syncapse menemukan bahwa sepertinya orang bisa memutuskan berdasarkan alasan kepraktisan, seperti misalnya agar bisa mendapatkan kupon atau update secara rutin dari perusahaan yang mereka sukai.

Cuplikan data yang didapat dari studi Syncapse:

Alasan untuk menjadi fans sebuah brand di Facebook:

  • 49% : Untuk mendukung brand yang saya sukai
  • 42% : Untuk mendapatkan kupon atau diskon
  • 41% : Untuk bisa mendapatka update secara regular dari brand yang saya sukai
  • 35% : Untuk berpartisipasi dalam kontes
  • 31% : Untuk berbagi pengalaman baik
  • 27% : Untuk berbagi hal-hal yang saya sukai/lifestyle dengan orang lain
  • 21% : Untuk bisa meriset brand dimana produk/layanannya sedang saya cari
  • 20% : Melihat teman-teman saya sudah jadi fans atau me”like”
  • 18% : Karena iklan brand tersebut (TV, online, majalah)
  • 15% : Seseorang merekomendasikan saya untuk jadi fan brand tersebut.

Sedangkan alasan kita untuk tidak me”like” sebuah brand berfokus pada alasan privasi dan kualitas dari pengalaman bermedia sosial. Ini dipaparkan oleh emarketer di hasil risetnya:

  • 54% : Tidak mau dibombardir oleh pesan ataupun iklan
  • 45% : Tidak mau memberikan akses informasi di profil kepada perusahaan apapun
  • 31% : Tidak mau mempush sesuatu ke newsfeednya teman
  • 29% : Tidak mau perusahaan menghubungi saya lewat Facebook
  • 23% : Tidak melihat keuntungannya
  • 19% : Tidak mau memperlihatkan apa yang saya sukai pada teman saya
  • 8%   : Saya belum mendapatkan perusahaan yang pantas untuk di”like”
  • 4%   : Tidak mengerti mengapa harus me”like” perusahaan di Facebook

Fakta yang bisa diambil: “Like” itu seperti mata uang di media sosial. Anda bebas menggunakannya, tapi jangan berharap banyak untuk mendapatkan imbal baliknya.

Mengapa kita memberikan komentar di media sosial (dalam hal ini Facebook)?

Ya jawabannya mungkin sudah sangat jelas ya, kita memberikan komentar saat ada yang ingin kita katakan!

Satu hal menarik tentang menerima komentar adalah bagaimana otak kita bereaksi dibandingkan dengan “likes”. Moira Burke yang melakukan studi terhadap 1200 pengguna Facebook dalam sebuah eksperimen yang masih terus berjalan, menemukan bahwa PM (personal messages) itu lebih memuaskan untuk diterima ketimbang likes. Moira menyebutnya dengan istilah “composed communication”:

“People who received composed communication became less lonely, while people who received one-click communication experienced no change in loneliness,” she said…. Even better than sending a private Facebook message is the semi-public conversation, the kind of back-and-forth in which you half ignore the other people who may be listening in. “People whose friends write to them semi-publicly on Facebook experience decreases in loneliness,”

Elan Morgan sempat menyinggung pada pengalamannya berhenti memberikan “likes” selama 2 minggu bahwa ia menemukan keuntungan tambahan saat lebih memprioritaskan berkomentar ketimbang “liking” yaitu secara efektif bisa melatih ulang algoritma Facebook untuk memberikan lebih banyak konten yang ia inginkan:

“Now that I am commenting more on Facebook and not clicking Like on anything at all, my feed has relaxed and become more conversational. It’s like all the shouty attention-getters were ushered out of the room as soon as I stopped incidentally asking for those kinds of updates by using the Like function.”

Fakta yang bisa diambil: Komentar (Comments) adalah pendorong emosi yang kuat. Manfaatkanlah semaksimal mungkin dengan cara lebih sering berhubungan dengan komunitas di Facebook dan mereply komentar-komentar dari fans agar percakapan bisa terus berlanjut.

Mengapa kita mempost status updates?

Studi yang dilakukan oleh Pew Research menunjukkan walaupun pengguna me”like” konten dan komentar pada foto relatif sering, kebanyakan dari mereka jarang mengganti status mereka sendiri.

  • 10% dari pengguna Facebook mengganti atau mengupdate status mereka di Facebook setiap hari
  • 4% mengupdate status mereka beberapa kali dalam sehari
  • 24% dari pengguna Facebook mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengganti atau mengupdate status Facebook mereka

Ini masuk akal, mengingat bahwa studi yang sama menunjukkan bahwa “sharing yang berlebihan” adalah faktor yang paling menyebalkan bagi pengguna:

oversharing is top dislike on Facebok

Lalu pertanyaan yang muncul adalah mengapa banyak dari pengguna mengupdate status Facebook mereka? Apa motivasi yang mendasarinya dan pengalaman seperti apa yang ingin didapat?  Ini kira-kira penjelasan dibelakang aktivitas posting di Facebook.

Posting membuat kita merasa lebih terkoneksi

Para periset dari University of Arizona memonitor sebuah grup pelajar dan melacak “tingkat kesepian” yang mereka alami saat mereka mengupdates status Facebook. Studi menemukan bahwa saat para pelajar tersebut lebih sering mengupdate status Facebook mereka dilaporkan terjadi penurunan tingkat kesepian:

loneliness on Facebook study

Ini yang terjadi walaupun tidak ada yang me”like” atau mengomentari posting/updates mereka. Para periset menyangkut pautkan antara meredanya perasaan kesepian dengan perasaan lebih terkoenksi secara sosial yang didapatkan.

Dengan kata lain, saat orang melihat update status dari media sosial tidak jadi percakapan (engage) seperti yang terjadi pada teman-teman mereka lainnya, maka mereka akan mulai merasa tidak “diterima”, seperti yang bisa dilihat pada eksperimen ini.

Apa yang membuat kita berhenti memposting?

Kini kita tahu mengapa kita memposting, lalu apa yang kita ketahui tentang mengapa kita tidak memposting? Para periset dari Facebook melakukan studi pada kecenderungan menyensor diri sendiri (posting yang akhirnya tidak pernah jadi di post).

Selama lebih dari 17 hari, mereka melacak aktivitas dari 3,9 juta pengguna san mendapatkan 71% dari pengguna membuat setidaknya satu status atau komentar yang akhirnya tidak jadi mereka posting. Rata-rata, pengguna berubah pikiran tentang status mereka sebesar 4,52 status dan tentang komentar sebesar 3,2 komentar.

Facebook self censorship study
Chart ini menunjukkan jumlah komentar dan status yang di sensor (warna merah) dan yang akhirnya diposting (warna biru) selama penelitian, dan di bagian mana mereka membuatnya.

Dari hasil studi tersebut para periset membuat teori bahwa orang-orang cenderung mengurungkan niat mereka untuk memposting/mengupdate status jika mereka merasa audiens yang mereka hadapi sulit didefinisikan. Pengguna Facebook cenderung lebih beragam yang membuat sulit untuk memuaskan banyak orang. Pengguna akan lebih bebas memberikan komentar pada posting orang lain karena audiensnya lebih kongkrit.

Fakta yang bisa diambil: Orang-orang akan berinteraksi lebih banyak di Facebook jika mereka merasa terkoneksi satu sama lain dan mengerti audiens mereka. Bisa disebut sebagai bonus jika mereka bisa mendapatkan respons balik. Apakah Anda bisa menciptakan kondisi tersebut pada Facebook page untuk brand Anda?

Mengapa kita berbagi (share)?

Harian The New Yor Times pernah melakukan sebuah studi tentang mengapa kita berbagi beberapa tahun yang lalu yang menjadi salah satu yang paling informatif pada topik media sosial. Studi ini berhasil mengidentifikasikan 5 pendorong utama bagi orang-orang untuk berbagi yang kebetulan juga digambarkan dengan apik oleh CoSchedule dalam infografik yang menarik di bawah ini:

why people share on social media

Temuan yang hampir sama juga didapat oleh Ipsos dengan poll seluruh dunia yang mereka lakukan, yaitu yang paling dicari orang adalah:

  • Untuk berbagi hal-hal yang menarik (61%)
  • Untuk berbagi hal-hal penting (43%)
  • Untuk berbagi hal-hal lucu (43%)
  • Untuk memberitahu orang lain apa yang saya yakini dan siapa saya sebenarnya (37%)
  • Untuk merekomendasi produk, layanan, film, buku, dsbnya (30%)
  • Untuk menambahkan dukungan saya bagi sebuah gerakan, organisasi, atau keyakinan (29%)
  • Untuk berbagi hal-hal yang unik (26%)
  • Untuk memberitahu orang lain apa yang sedang saya kerjakan (22%)
  • Untuk menambah sebuah rangkaian topik atau percakapan (20%)
  • Untuk menunjukkan bahwa saya yang tahu (10%)

Di bawah ini urut-urutan per negaranya:

global sharing habits

Satu hal lagi yang kita ketahui tentang apa yang akan dibagikan: Konten yang memiliki daya pikat untuk dibagikan cenderung untuk memicu rangsangan emosi tinggi, seperti kegirangan, ketakutan atau kemarahan kebalikan dari rangsangan emosi rendah seperti kesedihan atau kepuasan.

Fakta yang bisa diambil: Untuk konten yang punya daya bagi tinggi, pilihlah salah satu pendekatan di bawah ini:

  • Membuat konten yang benar-benar menghibur atau sangat berguna yang bisa membantu audiens Anda untuk meningkatkan status sosial mereka dengan terlihat pandai, keren dan serba tahu.
  • Membuat konten yang dapat membantu audiens Anda lebih berbagi tentang diri mereka terhadap orang lain. Anda bisa menggunakan brand Anda sebagai titik temu dan pengidentifikasi atau hanya membantu mereka berbagi pesan yang mengungkapkan siapa mereka sebenarnya.
  • Membuat konten yang bisa membantu audiens Anda engage satu sama lain dan berinteraksi bersama.

Apa yang terjadi jika kita hanya mengintip dan tidak ikut berpartisipasi?

Kira-kira adakah sisi gelap dari media sosial seperti Facebook ini? Beberapa studi mengungkapkan kekhawatiran bahwa Facebook justru membuat kita semakin kesepian atau terisolasi atau cemburu terhadap segala sesuatu yang terlihat sempurna didalamnya. Sisi buruk dari Facebook ini tampaknya muncul terutama saat kita menjadi penonton pasif di Facebook dan bukan bagian dari pengalaman yang berlangsung.

Pada studi yang dilakukan oleh Carnegie Mellon di tahun 2010 ditemukan bahwa saat orang engage di Facebook, dengan cara posting, messaging, liking, dan sebagainya, perasaan mereka dari keseluruhan social capital yang mereka miliki meningkat, dan kesepian akan menurun. Tapi saat para partisipan hanya mengintip, Facebook akan beraksi sebaliknya, menaikkan rasa kesepian dan terisolasi mereka.

Menurut periset Moira Burke, mengintip (lurking) di Facebook memiliki korelasi yang erat dengan naiknya tingkat depresi.

“If two women each talk to their friends the same amount of time, but one of them spends more time reading about friends on Facebook as well, the one reading tends to grow slightly more depressed,”

Kira-kira demikianlah pembahasan aspek psikologi yang terlibat yang membuat media sosial khususnya Facebook begitu menarik saat digunakan pertama kali dan seterusnya.

Foto: Maria Elena (Creative Commons)

Iklan

5 pemikiran pada “Mengapa kita like, share, dan comment di Facebook?

  1. Reblogged this on ELMOVER and commented:
    Dalam membuat strategi konten di social media, gue selalu memosisikan diri sebagai audiens. Apakah konten ini akan gue terima, gue sukai, gue komentari, atau gue bagikan? Tapi, ternyata hal ini mudah-mudah-sulit menurut gue. Kayak gue jualan di pasar, gue tau pembeli gue pasti mau beli buah, tapi gue gak tau secara pasti buah apa yang akan paling sering dibeli atau dibutuhkan. Sayang kan kalo ternyata jualan buah dengan banyak jenis, tapi yang dibeli cuma pisang doang, karena ternyata segmen pembeli yang gue dapet adalah ibu-ibu penyuka pisang. Nah, penting banget tau apa kebutuhan pembeli.

    Sama juga seperti tulisan ini, sebelum membuat konten dan pusing dengan brief-brief yang ada, coba balik lagi ke alasan “Kenapa gue nge-like, komen, atau share suatu postingan?”

    Suka

  2. Gak ada yang riset berapa banyak serta alasan pengguna Facebook yang memutuskan mendeaktivasi akunnya ya? Saya memutuskan untuk menutup akun saya karena secara personal merasa Facebook lebih banyak memberikan efek negatif daripada positifnya. Begitu pula dengan Path. Saya tutup keduanya dan beralih ke blog pribadi. Hasilnya? Saya jauh lebih bahagia 🙂

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s