buzzing bee

“Kira-kira Bangwin mau gak ya jadi buzzer? Rada ragu tadinya mau tanya karena banyak yang bilang Bangwin gak suka dengan profesi buzzer”

Sore tadi saya dihubungi salah satu teman saya lewat Whatsapp yang menanyakan pertanyaan di atas ini. Dan pertanyaan tersebut menyadarkan saya bahwa banyak yang menyangka saya ‘alergi’ terhadap profesi ‘buzzer’ tersebut, which is totally wrong. Saya sama sekali tidak alergi ataupun benci terhadap profesi buzzer namun saya berpendapat bahwa aktivitas buzzing itu seharusnya bukan hanya sekedar jadi amplifiernya klien tapi seharusnya ya more than that. Dan mungkin tidak banyak yang tahu bahwa saya juga melakukan pekerjaan buzzing tersebut dengan formulasi dan pendekatan yang mungkin agak berbeda, sehingga kelihatannya saya tidak pernah melakukan hal tersebut.

Buzzing = Storytelling + Engagement

Banyak yang missed di sini, baik dari pihak brand, agency maupun si buzzer sendiri. Missed nya dimana? Begini, banyak yang menganggap buzzer itu adalah amplifier bagi message yang ingin disebarkan, dimana sebenarnya merupakan fungsi buzzer yang termudah dan tersederhana dari fungsi buzzer seutuhnya yang bisa didapat oleh pihak brand maupun agency. Sebuah message bisa dianggap buzzing jika message tersebut bisa jadi bahan gunjingan dan viral kemana-mana, dan message tersebut tidak akan bisa jadi bahan gunjingan dimana-mana jika tidak diceritakan dengan baik.

Menjual dengan tidak menjual

Banyak brand atau agency menggunakan buzzer untuk menyebarkan message yang mereka siapkan untuk menjual atau memperkenalkan sebuah produk/layanan. Bagi mereka nilai seorang buzzer bisa dianggap tinggi jika memiliki jumlah follower yang banyak. Mereka hanya melihat buzzer tersebut sebagai alat agar message mereka sampai ke follower si buzzer tersebut. Oleh karena itu maka kebanyakan message yang disiapkan untuk disebarkan banyak yang tidak memiliki jiwa “percakapan” namun lebih pada pengumuman.

Banyak yang belum faham bahwa sebenarnya apapun yang ingin disampaikan melalui social media harus menggunakan satu cara yang memang menjadi nature dari social media itu sendiri, yaitu percakapan (conversation). Oleh karena itu buzzer ataupun bukan, tantangan umum yang harus dihadapi oleh siapapun bila ingin menggunakan social media adalah menjadikan materi ataupun konten sebuah percakapan yang menarik. Sehingga seorang penjual bisa menjual barang dagangannya dengan tidak dengan cara menjualnya di social media namun dengan cara bercerita.