ketupat lebaran

Menjelang malam takbiran, semua jalur komunikasi instan berbasis teks dan multimedia yang kita miliki mulai dipenuhi oleh ucapan-ucapan selamat berlebaran dari rekan-rekan, kerabat, bahkan klien-klien kita. Dua smartphone habis batere dalam hanya setengah hari saja (biasanya 1 hari) berkaitan dengan banyaknya pesan yang masuk. 

Respek saya terhadap teman-teman yang mengirimkan pesan-pesan tersebut tidak berkurang walaupun dalam hati saya bertanya apakah dengan adanya kemudahan mengiriman pesan tersebut secara bersamaan (broadcasted) membuat pesan tersebut jadi tetap memiliki jiwa yang sama ketika kita mengirimkan satu per satu pesan tersebut terhadap orang yang ingin kita berikan ucapan?

Di jaman dahulu, sebelum kita mengenal teknologi SMS, cara yang kita gunakan untuk memberikan ucapan adalah dengan mengirimkan kartu berisikan ucapan, dengan tulisan tangan dan tanda tangan, bahkan ada yang membuat sendiri kartu ucapan tersebut untuk dikirimkan ke orang-orang yang memiliki hubungan istimewa. Prosesi menyiapkan kartu ucapan dan mengirimkannya membutuhkan effort yang sering diibaratkan sebagai membubuhkan emosi dan “jiwa” pada kartu ucapan tersebut sehingga terasa lebih personal.

Lalu apakah kepraktisan membroadcast pesan ucapan via SMS, BBM, WhatsApp, Line, dan lain sebagainya itu jadi kurang berkesan ketimbang cara analog sebelum kita mengenal cara-cara digital tersebut? Sorry to say, saya harus jawab iya. Namun saya masih tersenyum bila si pengirim membubuhkan nama saya pada pesan ucapan tersebut. Setidaknya saya merasa bahwa ucapan tersebut memang ditujukan pada saya, walaupun mungkin saja ucapan tersebut adalah satu ucapan yang sama bagi beratus-ratus orang lainnya.

Selamat Hari Lebaran [isi dengan namamu]….Mohon Maaf Lahir dan Batin, Salam buat keluarga