writer's block

Apakah pernah Anda merasa lumpuh saat membuat blog post? Yaitu saat Anda duduk untuk mempersiapkan rencana blogpost untuk minggu depan lalu tiba-tiba semuanya kosong. Tidak ada satupun bahan yang muncul untuk dijadikan blog post. Jujurnya itu terjadi beberapa kali pada saya, dan cukup membuat saya panik. 

Saya mengerti sebenarnya jika saya mulai harus ‘memaksakan’ konten ke blog saya artinya itu adalah sebuah pertanda bahwa saya harus berhenti blogging, jadi itu adalah tanda-tanda yang tidak baik. Saat yang sangat menyebalkan jika harus sampai pada satu titik dimana ide-ide berhenti muncul dikepala kita.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, akhirnya saya sadar bahwa sebenarnya saya tidak kehabisan ide. Saya hanya mengacaukan sistem yang biasa saya gunakan untuk menyimpan ide-ide dan terpaksa menerima akibatnya. Bingung? Ini yang terjadi…

Sistem

Ide itu selalu datang setiap saat, setiap hari. Bisa dari bacaan yang kita konsumsi, presentasi yang kita hadiri, atau sesuatu yang kita dengan dari berita. Sebagai seorang blogger yang baik artinya kita harus selalu awas terhadap ide-ide yang masuk ini, dan yang terpenting, harus bisa menangkapnya. Bagi saya, itu adalah menuliskan sesegera mungkin lalu membuat judul sederhana untuk ide tersebut di WordPress (kebetulan saya menggunakan platform WordPress untuk kegiatan blogging saya).

Sebagai contoh, beberapa saat lalu saya ngobrol dengan istri saya tentang bagaimana seharusnya kita memanage ekspektasi dalam kondisi apapun dengan membuka mata dan indera kita lebar-lebar. Saat perbincangan berlangsung saya membuka aplikasi WordPress for Android di smartphone saya dan menulis draft singkat tentang percakapan tersebut lalu menyimpannya agar bisa saya buka (dari mana saja) saat saya ingin menjadikannya sebagai konten blog.

Saat terjadi kekeringan ide, saya tersadar bahwa saya tidak menjalani sistem yang biasanya saya jalani. Untuk alasan tertentu saya terlalu sibuk, terlalu malas atau keduanya dan melupakan kedisiplinan saya untuk merekam dan menyimpan ide-ide yang ada.

Untungnya hal seperti itu sekarang sudah jarang terjadi. Saya selalu punya ide cadangan yang selalu saya siapkan dalam kondisi ’emergency’. Sehingga makin lama saya makin bisa menjaga kualitas blogpost saya walaupun kondisinya sedang ‘kering ide’. Pelajaran tambahan: jangan biarkan draft Anda kosong tanpa ada ide yang tersimpan.

Kembali ke Jalur

Setelah saya sadar kesalahan yang saya lakukan, maka sangat mudah untuk kembali ke jalur yang benar. Dengan hanya memperhatikan dunia sekeliling kita dan lalu merekam ide-ide yang terpicu muncul, maka saya bisa kembali mengisi pundi-pundi persediaan ide saya.

Contoh sederhana yang sering saya lakukan, ketika saya menemukan sebuah artikel, misalnya tentang Twitter yang saya tidak setuju, maka saya akan menyalin tautan artikel tersebut ke laman new blog post di WordPress, lalu menuliskan judulnya dengan “Disagree on this, let’s write something” dan menyimpannya sebagai draft. Apakah nantinya akan jadi sebuah blogpost baru? Ya belum tahu, namun setidaknya saya sudah menyimpannya sehingga saya tidak perlu mengalami kebuntuan saat sedang tidak ada ide untuk blogging.

Kini saat saya sedang ada dalam waktu-waktu merenung dalam sunyi membuat blog, saya tidak harus mengingat semua cerita-cerita yang saya simpan sebagai ide. Yang perlu saya lakukan cuman membuka daftar list yang tersimpan saja. Sederhana bukan?

Ide blogging itu bisa datang dari mana saja. Coba pikirkan, jika Anda rajin menyimpan ide-ide tersebut, setiap saat Anda blogging akan selalu tersedia ide-ide yang siap dijadikan konsep yang bisa dipilih.

Sistem ini cocok dengan pola kerja saya, namun akan jadi merepotkan jika saya tidak disiplin.

Apakah Anda punya sistem untuk membuat aktivitas blogging Anda tidak terganggu? Bagaimana cara Anda untuk bisa menjaga agar tidak kehabisan ide untuk blog?

Foto: Bookboon Blog