Mengontrol Pikiran


Saya adalah pengamat perilaku, I’m a natural-born observer. Dan sebagai manusia yang secara insting selalu mengamati apa saja, menjadikan hidup saya tidak mudah. Mengapa? Karena saya harus berhadapan dengan pikiran saya yang penuh dengan opini untuk mendapatkan kesimpulan yang jelas. Dan menurut saya inilah tantangan terbesar. 

Dilahirkan sebagai seorang anak yang terlalu sensitif menjadikan saya terus mencari jawaban pada setiap masalah (milik saya ataupun milik siapapun). Menurut saya setiap masalah selalu harus ada penyebabnya, dan mengetahui penyebabnya adalah solusi. Karena tindak lanjut dari masalah yang sudah diketahui itu adalah proses selanjutnya, setelah masalahnya sudah diketahui.

Dalam pengamatan saya setiap manusia selalu mencoba “berkomunikasi” dan “bernegosiasi” dengan setidaknya tiga faktor dalam diri sendiri, yaitu opini/pendapat, emosi dan sensitivitas. Ketiganya ini berlangsung dan diproses dalam pikiran kita, yang lalu outputnya akan dikembalikan dalam bentuk respon. Well mungkin banyak dari kita take for granted dengan memiliki otak yang mampu berfikir ya. Kita dikarunia sebuah “alat” yang sangat-sangat canggih untuk mengontrol “kendaraan” kita (baca: tubuh) saat berada di dunia ini yang namanya “pikiran”. Oleh karena itu, kegagalan dalam mengontrol “pikiran” akan menghasilkan kekacauan.

Kekacauan Pengontrolan Pikiran

Apa yang akan terjadi jika kita gagal menyelaraskan ketiga faktor yang saya sebutkan di atas? Ya itu tadi kesalahan/kekacauan dalam sikap. Kita terlalu terbiasa menganggap pengolahan input dalam pikiran itu selalu menghasilkan result yang paling benar, padahal seharusnya kita mengkomparasikannya terlebih dahulu dengan result-result lainnya sehingga setidaknya kita punya pijakan yang lebih kuat dalam menentukan kesimpulan. Jika tidak, maka muncullah respon-respon ajaib dengan logika-logika yang terbalik-balik misalnya. Banyak contoh kasus yang terjadi saat ini menunjukkan gejala-gejala gagal kontrol pemikiran dan diperkeruh dengan ketidak mampuan dalam mengontrol emosi juga.

Contoh yang paling kelihatan saat tulisan ini dibuat adalah pemanfaatan kebencian (hate) untuk pembenaran sebuah faham. Ini yang dilakukan oleh kelompok ISIS dengan menunggang agama Islam. Dalam lingkup individu ada yang disebut dengan prasangka. Nah prasangka ini menarik karena hal ini muncul sebagai akibat proses “negosiasi” yang terjadi dalam pikiran setiap individu.

Prasangka

Saya menyebut prasangka adalah hasil dari kegagalan mengambil kesimpulan atas pengolahan data yang terjadi pada pikiran kita. Kesimpulan kita pada segala hal itu bisa didapat dari semua input yang masuk lalu dibahas dengan ketiga faktor yang sudah kita bahas sebelumnya (opini, emosi dan sensitivitas). Ketiga faktor ini sangat mempengaruhi bagaimana input diproses. Jika sebuah komputer akan memproses input secara apa adanya, namun dalam halnya diri kita semua input difilter dahulu oleh ketiga faktor tersebut. Permasalahannya ketiga faktor tersebut bisa ikut terpengaruh satu sama lain. Bayangkan jika kalian melihat seorang lelaki yang lalu kalian anggap menakutkan karena dia memiliki tattoo. Mungkin opini dalam pikiran kita sudah terbentuk bahwa orang bertattoo itu pasti penjahat, dan opini ini kalian gunakan sebagai preset, dan alhasil mau sebaik apapun orang tersebut akan selalu saja dirasakan salah. Ditambah dengan emosi yang berlebihan dan sensitivitas yang juga tidak dikontrol maka hasil akhirnya adalah apa yang sering kita sebut dengan istilah “drama” (kiasan).

Pengolahan Input

Dalam beberapa kasus, pengolahan informasi yang masuk lewat pengamatan dan pendengaran bahkan kurang, dan karena sudah termakan emosi, si pemilik pikiran tidak mau repot untuk mengolahnya sehingga mengakibatkan informasi yang diolah jadi misleading. Celakanya informasi yang misleading tersebut yang diyakini sebagai kebenaran. Kebayang kan kekacauan yang bakal timbul?

Dengan mengenal mengenal karakter manusia serta juga flow pengontrolan pikiran, sebenarnya (jika mau) bisa menjadikan kita semua lebih wise dalam menyikapi sesuatu. Tidak grasa grusu kalau kata orang Jawa.

Kalian punya kasus yang kira-kira disebabkan oleh kurangnya pengontrolan terhadap pikiran? Boleh kita bahas di sini lho.

ps: Saya bukan psikolog ataupun psikiater lho ya, tulisan ini sejujurnya didapat dari berbagai pengalaman dan pengamatan yang intens.

Iklan

2 pemikiran pada “Mengontrol Pikiran

  1. IMHO, jika diasumsikan data yang terstruktur adalah info, kemampuan mengolah menjadikannya knowledge, dan sintesanya menjadi wisdom, maka opini/pendapat, emosi dan sensitifitas sebenarnya dibentuk (bahkan disortir) oleh (1) wawasan pengetahuan dan (2) pendapat kelompok/lingkungan.

    Justru berkecamuknya asymmetric war sekarang ini, adalah bertujuan memanfaatkan terbatasnya wawasan, ketidaktahuan thdp pengetahuan, dan rekayasa pendapat kelompok. Begitu pun penggunaan algorithm scr eksesif oleh para siren server utk mengontrol fikiran, emosi dan logika audiens.

    Hal tersebut dilakukan demi menciptakan opini, emosi dan sensitifitas yang sesat dan distortif. Fenomena selective exposure, serta tyranny & spiral of silence adalah contoh konkret di sekitar kita tentang hal tersebut. CMIIW 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s