Keputusan Untuk Resign


Hi all, mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya kemana sekarang saya melangkah? Atau mungkin malah justru banyak yang belum tahu. Well, saya memang tidak pernah suka heboh-hebohan. Perubahan itu adalah sesuatu yang biasa, dan saya tidak berusaha untuk menutup-nutupinya juga. 

Ya betul, saya memutuskan untuk tidak meneruskan posisi saya di PT. Ansvia dengan pertimbangan yang akan saya jelaskan beberapa saat lagi. Beberapa minggu sebelum last day yaitu tangal 29 Februari 2016, saya sudah mengupdate informasi pada profil Linkedin saya dengan menambahkan last day tersebut. Beberapa teman (Nicky dan Lani dari BliBli.com) cukup jeli untuk melihat hal tersebut.

Pada hari terakhir, saya mentwit:

Beberapa temanpun akhirnya juga mulai ‘mengendus’ dan menanyakan langsung, dan saya mencoba menjawabnya.

Setelah beberapa hari, saya berpikir mengapa saya tidak menjelaskannya lewat blog ya? Ada ataupun tidak ada yang bertanya saya pikir tidak ada salahnya jika saya bisa menjelaskannya di blog bukan? Agar bisa lebih jelas, saya akan coba paparkan mulai dari awal saya bergabung, pivoting dan take-off time dari sebuah perusahaan yang diberi nama PT. Ansvia ini.

Mindtalk

Mindtalk adalah sebuah produk jejaring sosial besutan Danny Oey Wirianto dan Robin Ma’rufi yang mereka bangun menggunakan perusahaan yang mereka bangun bersama yang namanya PT. Ansvia. Selama sekitar 4 tahun, tidak ada yang mengenal nama PT. Ansvia ini karena memang Mindtalk lah yang dikedepankan. Model bisnis yang dijalankan untuk Mindtalk juga sebenarnya cukup jelas yaitu dengan mengandalkan subscriber maka eyeball yang disasar untuk iklan serta juga activation. Saya diajak gabung oleh Danny Oey, seorang sahabat lama yang menginginkan agar building block Mindtalk semakin lengkap, yaitu dengan adanya seseorang yang bisa mendefinisikan komunitas seperti apa yang cocok untuk Mindtalk. Dengan latar belakang hal tersebut maka saya setuju untuk ikut bergabung pada bulan Oktober 2014 dan mulai menganalisa Mindtalk as a community product.

Pivoting

Selama 3 bulan mulai dari saya gabung dengan Mindtalk (posisi saya saat itu adalah VP of Operations), saya melakukan analisa untuk bisa mengetahui apakah produk dan model bisnis yang dijalankan untuk Mindtalk ini sudah sesuai dan pas dengan kebutuhan di masyarakat. Analisa saya saat itu menghasilkan dua buah pertanyaan yang sampai saat ini pun tidak berhasil saya dapatkan jawabannya:

  1. Apakah kita masih membutuhkan jejaring sosial lagi setelah raksasa-raksasa jejaring sosial yang ada di dunia ini sudah menguasai kehidupan kita semua?
  2. (Bila kita berkeras untuk tetap menjalankannya) Apa yang membuat para pengguna mau membangun/memindahkan teman-teman mereka yang sudah terlanjur berkumpul di jejaring sosial yang sudah ada?

Kegagalan saya mendapatkan jawaban untuk kedua pertanyaan diatas memperkuat kesimpulan saya bahwa:

  • Mindtalk sebagai sebuah produk diawal kelahirannya tidak sempat diberikan waktu untuk ‘berkembang’ as a community platform. Padahal justru as a community product seharusnya sebelum di monetize, kita harus memastikan komunitas penggunanya sudah harus solid terlebih dahulu.
  • Mengembangkan produk yang head-to-head dengan raksasa (karena kemiripannya) tanpa memiliki competitive edge yang cukup kuat sebagai pembeda, sama saja dengan bunuh diri. That’s where Mindtalk as a community product heading saat itu.

Oleh karena itu, berbekal hasil analisa tersebut, saya dan tim mencoba mengajukan usulan untuk pivoting bagi PT. Ansvia, dengan repositioning, retargeting dengan  konsekuensi harus merubah komposisi tim (trimming hampir 50%). Dan akhirnya itu lah yang disetujui oleh seluruh share holders.

PT. Ansvia menjadi sebuah perusahaan solusi berbasis teknologi dengan target market Business-to-Business (B2B).

Take Off PT. Ansvia

Setelah keputusan untuk pivoting disetujui, dengan komposisi tim yang lebih ramping, serta dua klien kami berhasil kami dapatkan maka tidak ada kata mundur lagi. Kita harus maju dan maju. Lalu muncullah potensi permasalahan, yaitu percepatan kerja yang mana dengan tim seramping ini maka dibutuhkan karyawan yang levelnya adalah level player yang harusnya sudah bisa gas-pol tanpa harus belajar lagi. Pucuk pimpinan yang tadinya diharapkan untuk bisa menggiring bola dan memberikan contoh bagaimana menggolkan proyek, tidak bisa terlalu diharapkan. Mengapa? Karena memang  ia tidak memiliki pengalaman yang cukup di bidang B2B. Masih ingat kan mengapa saya direkrut diawal? Karena saya memiliki pengalaman di bidang online community, bukan B2B. Dan posisi saya tiba-tiba berubah dari leader menjadi faktor penghambat majunya perusahaan (karena saya perlu waktu untuk belajar).

It’s no fair to PT. Ansvia. It’s not fair to me too. Oleh karena itu saya berinisiatif untuk menjelaskan ke reporting supervisor saya, Antonny Liem (CEO MCM & MPI) pandangan saya bahwa sebaiknya PT. Ansvia mencari orang yang tepat untuk bisa take-off. Dan kalian sudah tahu hasilnya apa bukan?

What’s next?

Saya tidak pernah kehilangan consulting business saya. Mengapa? Karena consulting business saya itu ya saya. One-man services. Dan sewaktu opsi belum banyak maka consulting business saya selalu menjadi perahu penyelamat.

Saat saya memutuskan untuk mundur, bukan tidak ada opsi bagi saya untuk kedepannya. Malah sebelum resmi saja sudah ada satu tawaran dari sebuah perusahaan yang mengajak saya untuk gabung (the biggest community in Indonesia). Saya tidak menolak, bahkan justru sangat tertarik, namun ada beberapa kewajiban yang harus saya selesaikan terlebih dahulu sebelum saya memutuskan apa-apa. Dan hitung-hitung saya perlu untuk sejenak mengambil jarak dengan pekerjaan, sebelum akhirnya nanti saya ‘memeluk’ pekerjaan yang saya putuskan untuk saya geluti.

Lalu what’s next? Offer me! And let’s talk 🙂

Iklan

16 pemikiran pada “Keputusan Untuk Resign

  1. Ga pernah bosen untuk baca tulisan dari Bangwin, semuanya selalu terpapar secara jelas, lugas dan dikemas secara pantas! 🙂

    *anyway, ada nama saya terpampang disana, hehehehehe…

    Yes! I’m a bit surprise to know about the condition, but just like Seth Godin said ” The art of moving forward lies in understanding what to leave behind. ” so lets learn from Dory ‘Nemo’ to keep swimming all the time 🙂

    Kita ga akan pernah tau apa yang ada di depan kita juga khan, yang jelas yang sudah berlalu adalah kenangan dan pengalaman, yang harus diperjelas adalah yang belum berlalu, yakni Masa Depan dan Kesempatan.

    So for Bangwin! Semoga dengan ‘moving forward’ nya ini bisa membawa Bangwin ke Masa Depan yang lebih cerah dan mempertemukan Bangwin dengan segudang pintu kesempatan untuk bisa berkarya lebih untuk sekitar dan orang banyak.

    Carpe diem.

    Suka

  2. Mmm… Sebenarnya saya juga ikut terkejut dengan keputusan Bangwin untuk lepas dari PT. Ansvia dan memang penasaran banget sih apa yang terjadi.

    thank you udah menjelaskan dengan detail jadi hilang sudah rasa keponya 😛 sukses terus untuk perjalanannya..

    salam hangat dari senayan.

    Suka

  3. hmmm…. ya ya… ya… seru ya, kalo sudah paham kemampuan dan bakatnya ada dimana jadi saat keputusan dibuat, gak jadi drama,galau bolak balik . hehehehehe …. gak perlu di analisa lagi tulisan tangannya nih buat tau karakter, kemampuan dan bakatnya.

    Suka

  4. bang win, bolehkah berbagi ilmu dgn kami.. sgt tertarik dgn apa yg d bahas.. kami akan melakukan seminar seputar sosmed dkk di direktorat pajak.. dan sy pikir orng yg tepat mengisi mimbarnya hmm.. spertinya bangwin 🙂 , so jka berkenan sya ingin mndapatka contact personnya. trima kasih

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s