Pembangunan dan Penerapan Ekonomi Kolaboratif


Apa yang kalian lakukan jika sebuah kesempatan diberikan padamu untuk bisa ikut berperan dalam membantu memeratakan kesejahteraan pada sebuah daerah? Saya akan ambil kesempatan tersebut. 

Cerita ini dimulai saat salah seorang teman SMP saya namanya Elya Muskitta, sering mempostingkan foto-foto sebuah kepulauan yang sangat-sangat indah tempat ia dan istri sering bolak-balik di Whatsapp group kami. Pertanyaan yang muncul:

  • Kepulauan apa itu? Kepulauan Kei, yang terletak di Maluku Tenggara.
  • Apakah itu foto-foto vacation dia? Jawabannya bukan, karena Elya sedang bekerja di sana, dan bolak-balik Jakarta, Surabaya, Ambon dan Kepulauan Kei.
  • Bekerja? Wah enak sekali bisa bekerja ditempat yang seindah itu. Well, apa yang Elya kerjakan jauh lebih exciting sebetulnya, dan pada blog post ini akan saya akan coba ceritakan secara garis besarnya.

Ekonomi Kolaboratif

Definisi dari istilah diatas adalah:

The collaborative economy is defined as initiatives based on horizontal networks and participation of a community. It is built on “distributed power and trust within communities as opposed to centralized institutions” (R. Botsman), blurring the lines between producer and consumer. These communities meet and interact on online networks and peer-to-peer platforms, as well as in shared spaces such as fablabs and coworking spaces.

Mengapa saya mengangkat ekonomi kolaboratif? Karena project dimana saya diajak untuk gabung secara definisi sangat erat dengan pembangunan perekonomian kolaboratif antar daerah.

Ok-ok….stop, tunggu dulu….bisa dijelaskan secara sederhana gak? Tentu saja bisa…!

Begini…kita pasti tahu bahwa masing-masing daerah di tanah air kita ini pasti memiliki keunggulan masing-masing berdasarkan alamnya. Ada daerah yang memang sangat baik jika digunakan untuk perkebunan. Ada daerah yang memiliki potensi pariwisatanya. Dan seterusnya….

Untuk mengangkat dan mengoptimalkan potensi sebuah daerah pasti dibutuhkan modal sebagai alat penggerak. Dan para pengusaha yang memiliki modal tentu akan semangat jika mereka bisa memanfaatkan ide-ide bisnis baru ditempat yang memungkinkan untuk menjalankannya. Bila pemilik modal dan pemilik lahan bisa dipertemukan dan sepakat untuk menjalankan usaha bersama maka inilah yang kita sebut dengan perkonomian kolaboratif mulai dijalankan.

Program Negeri Mandiri

Negeri Mandiri adalah sebuah Program Pembangunan Ekonomi Masyarakat secara terpadu dan terintegrasi dengan menggunakan pendekatan pembangunan Klaster Industri Berbasis Masyarakat (KIBM).

Seperti yang saya jabarkan pada bagian Collaborative Economy diatas maka Negeri Mandiri ini adalah sebuah program yang berpijak pada sistem ekonomi kolaboratif dimana stake holder yang terlibat bisa datang dari wilayah yang berbeda dalam satu negara Indonesia tentunya.

Faktor utama yang membedakan pendekatan KIBM dari sistem industri seperti biasanya adalah: KIBM tidak mengandalkan “Investor Korporasi” sebagai penggerak utama pembangunan, tetapi Masyarakat-lah yang dibangun kapasitas ekonominya untuk menjadi “Investor” utama dalam pembangunan ekonomi wilayahnya, baik secara langsung melalui kelompok usaha rakyat maupun dalam keterwakilannya melalui Badan Usaha Milik Desa, Koperasi sampai dengan Badan Usaha Milik Daerah.

Kunci utama keberhasilan implementasi Program Negeri Mandiri berada pada Proses Pendampingan yang Berkelanjutan di setiap mata rantai Value Chain dan Supply Chain program. Dimulai dari perencanaan program, persiapan masyarakat sampai dengan pembangunan industri dan penetrasi pasar. Oleh karena itu, untuk menjamin keberhasilan dan sustainability Program dibutuhkan organisasi pendamping yang memiliki karakter Social Entrepreneur yang mampu mengkolaborasikan semua elemen dan aspek pembangunan.

Keterlibatan saya

Ok pertanyaannya, keterlibatan saya dimana? Begini, program pengangkatan ekonomi kolaboratif ini adalah program yang baik, memiliki value, problem yang dihadapi adalah bagaimana membuat sebanyak-banyak orang tahu dan sadar akan pentingnya program ini yang lalu berimplikasi dengan naiknya minat untuk ambil bagian bagi setiap anggota masyarakat yang berkepentingan.

Awareness menjadi sangat kritikal, dan ini membuat saya bisa dengan jelas menentukan posisi saya untuk ikut ambil bagian yaitu membangun awareness di masyarakat melalui apa yang saya kuasai, pemanfaatan social media, penerapan komunitas online, mengkomunikasikannya lewat online, dan lain sebagainya.

Blog post ini adalah merupakan awal perjalanan dari tentunya tidak hanya satu perjalanan yang sedang coba saya jalankan. Akan ada blog post lanjutan, vlog-vlog baru yang akan menangkap momen-momen serta cerita-cerita yang tentunya memiliki value/nilai untuk bisa dibagikan bagi kita semua. Amien

Any comments?

Iklan

2 pemikiran pada “Pembangunan dan Penerapan Ekonomi Kolaboratif

  1. Ping balik: Maluku Trip dengan Negeri Mandiri: 9 – 13 Maret 2016 | bangwin.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s