Pentingnya Spirit Dalam Kehidupan


Apakah hidup ini terasa berat? Semua masalah selalu akan terasa berat jika kita memilih untuk merasakannya demikian. Dengan pasang surut yang sudah saya lalui selama saya mengerti bahwa hidup ini bukan hanya enak-enaknya belaka maka saya selalu berusaha untuk tidak berlebihan, karena begitu kita hidup dalam kesulitan maka kita sudah terbiasa dan tidak mengeluh. 

Spirit yang harus dijaga

Sama dengan keluarga-keluarga lain, sebelum saya memiliki keluarga sendiri, kami pun pernah hidup yang sangat-sangat berkecukupan, dan kami pun pernah hidup dalam kondisi yang kekurangan (bila diukur dengan kacamata kelas menengah saat ini).  Gundah? Tentu saja, tapi hal tersebut tidak pernah menjadikan kami jadi ikut terpuruk. Untuk hidup, kami membutuhkan ‘spirit’, dan ‘spirit’ itulah yang kami jaga.

Saat kehidupan kami dilanda kesusahan, beban terberat ada pada ayah saya, beliau tidak mau anak-anaknya bahkan ibu kami (yang pada saat itu masih ada dan sedang berjuang melawan kanker yang dideritanya) tahu kesulitan yang kami hadapi. Setelah saya beranjak dewasa, akhirnya saya mengerti bahwa yang beliau jaga adalah ‘spirit’ yang ada pada anak-anak dan istrinya yang bisa membuat kami tidak ikut tenggelam dalam kesulitan yang kami hadapi jika tidak dijaga.

Saya banyak belajar dari beliau tentang struggling serta menjaga ‘spirit’ keluarga, walaupun dilain sisi, akhirnya saya bisa melihat betapa deraan kehidupan yang ia pikul sendiri tersebut ikut berdampak pada kondisi emosi dan cara beliau bersosialisasi.

Pelajaran lain yang saya dapatkan adalah dari salah satu sahabat saya, sebut saja namanya Rahadi (saya menghormati privacynya). Seingat saya, Rahadi bukanlah datang dari keluarga yang kekurangan. Bahkan dia bisa dibilang cukup berada. Tidak banyak yang tahu jika ia pernah menjalani kehidupannya sebagai seorang pengemudi taksi, dan yang saya salut dengan Rahadi ini adalah ia menjalaninya dengan santai dengan dukungan istri yang tidak terlalu memikirkan bahwa suaminya menjadi pengemudi taksi. Saya salut dengan kerja tim yang mereka bangun dan jalankan sebagai pasangan suami-istri, karena tentunya kehidupan ini akan sulit jika mereka as a couple tidak saling mendukung.

Mindset Switching

Pengalaman memang tidak bisa didapatkan tanpa menjalaninya sendiri. Bahkan banyak yang sudah menjalaninya pun lupa dengan kembali gamang saat harus menjalaninya kembali. Pengalaman adalah pelajaran hidup yang bisa membuat kita lebih siap menghadapi apapun. Seolah-olah kita bisa memiliki preset sendiri untuk kehidupan kita yang disesuaikan dengan kondisi yang sedang kita hadapi. Saya menyebutnya dengan istilah mindset switching.

Saya ingat dulu saat masih bekerja di pabrik National/Panasonic dibilangan Jalan Raya Bogor, pada satu saat saya sempat ngobrol dengan seorang rekan kerja saya, lagi-lagi sebut saja Amir (karena saya lupa namanya) yang kebetulan jadi Head of Engineering, Divisi Audio. Kami saat itu sedang membicarakan krisis moneter yang sedang melanda negara kita yang membuat harga daging jadi melonjak gila-gilaan. Respon Amir terhadap kondisi ini yang tidak bisa saya lupakan adalah:

“Ya kalau memang tidak bisa makan daging ya ndak usah dipaksa, kan masih banyak makanan lain? Toh kita tidak akan mati juga kalau tidak makan daging bukan?”

Dalam respon santai Amir itu seperti mengeplak kesadaran saya bahwa sebenarnya selama kita hidup didunia ini kita sudah dibekali banyak sekali pengalaman yang seharusnya tidak membuat ‘spirit’ kita jadi melempem. Segala perasaan gundah gulana yang dirasakan setidaknya akan bisa lebih ringan jika bisa kita bisa team-up dengan pasangan hidup kita, instead of making enemy with others, cause when one become enemy then we’re drowning slowly starting with our heart.

Sense Of Crisis

Selain kemampuan mindset switching ya tentu saja kita juga harus punya sense of crisis yang cukup tajam, sehingga saat terlihat tanda-tanda krisis jauh-jauh hari kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya. Terutama mulai memberikan perhatian lebih pada prioritas-prioritas yang harus didahulukan dalam hidup.

Bersyukur

Selain karena kehendak Tuhan, maka peranan orang tua sangat tidak bisa dilupakan. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa sebenarnya kita ini dititipkan oleh Sang Penguasa Dunia pada orang tua kita untuk dibesarkan, dididik untuk bisa melanjutkan tongkat estafet kehidupan. Tanpa orang tua, ya kita tidak akan ada di dunia ini. Banyak orang yang take for granted, setelah mereka beranjak dewasa mereka lupa bahwa mereka ada di dunia ini tidak serta merta muncul seperti matahari terbit di timur, namun melalui benih yang ditanamkan oleh ayah mereka pada rahim ibu mereka. Mereka lupa bersyukur.

Mereka lupa bersyukur bahwa selama ini mereka masih bisa menghirup udara, tidur masih dibawah atap dan diatas kasur.

Mereka lupa bersyukur bahwa mereka masih bisa makan lengkap 3 kali sehari tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Tidak bermaksud membuat jadi tidak waspada, namun bersyukur adalah salah satu sikap yang bisa membuat ‘spirit’ kita bisa tetap hidup dalam kondisi apapun.

Oleh karena itu saya pikir, janganlah kita jadi mereka yang sering lupa untuk bersyukur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s