Bekerja Remote Bukan Berarti Selalu Bekerja Dari Rumah


Saya yakin bukan hanya saya yang punya pengalaman bekerja sebagai permanent freelancer, pasti kalian banyak juga yang berprofesi sebagai permanent freelancer. Sebagai seorang permanent freelancer ataupun entrepreneur di awal-awal dan kalian tidak punya kantor, opsinya biasanya salah satu dari tiga dibawah ini:

  1. Bekerja di rumah
  2. Bekerja di kafe
  3. Bekerja di coworking space

Dalam perjalanan saya menjalani kehidupan ke arah entrepreneurship, saya sudah mencoba tiga poin diatas, dan dalam tulisan ini saya akan coba menyampaikan insight yang saya dapatkan dalam mengevaluasi tempat kerja yang akan dipilih. 

Bekerja di rumah

Insentif terbesar yang bisa dirasakan dengan bekerja dari rumah untuk kebanyakan orang adalah menghemat. Menyisihkan uang untuk menyewa meja atau membeli penganan/minuman adalah bisa dialihkan untuk keperluan yang lain dalam bisnis kalian.

Itu adalah asumsi yang valid, namun penting juga kita memikirkan tentang seberapa besar nilai yang bisa kita dapatkan dengan tidak menggunakan rumah kita sendiri untuk tempat kerja.

Bekerja di rumah juga ada biaya yang tak terlihat yang cukup signifikan. Kondisi mental saat kalian ada di “rumah” berbanding saat kalian ada di “tempat kerja” pasti berbeda.

Overlapping kedua kondisi ini seringkali membuat kalian menderita dari perasaan tidak berusaha lebih baik saat bekerja atau perasaan terlalu banyak bekerja saat berada di rumah. Beberapa orang bisa mengatasi hal ini, namun kebanyakan tidak.

Yang terakhir, jika kalian menjalankan bisnis yang membutuhkan meeting-meeting, maka kalian akan terperangkap melakukannya di tempat umum atau dikantor klien. Ya bisa dilakukan sih, namun seringkali hal tersebut membuat persepsi terhadap bisnis yang kalian jalankan menjadi tidak baik dan juga perhitungan biaya yang klien pikir harus mereka bayarkan terhadap kalian.

Bekerja di Kafe

Meski banyak terlihat gambaran romantisme dari seorang penulis independen dan freelancer, namun mayoritas dari perseorangan di dalam kafe memiliki pekerjaan full-time. Mereka hanya bekerja pada side project mereka saat punya waktu senggang.

Ini bukan spekulasi lho, karena memang pada kenyataannya orang-orang yang saya temui dan saya tanyakan langsung di kafe memastikan kenyataan tersebut.

Dari sudut pandang pembiayaan, keuntungan bekerja di kafe kelihatan cukup besar untuk seorang full-time entrepreneur. Setidaknya kalian tidak perlu mengalami dilema bekerja/kehidupan seperti yang disinggung di atas.

Dalam pengamatan saya, ada banyak masalah yang bisa kita temukan saat bekerja di kafe, namun semuanya tidak bisa dibandingkan dengan problem sederhana yang satu ini: Panggilan telpon. Sekuno apapun mereka namun telpon/Skype calls masih memegang peranan yang cukup besar.

Mungkin kalian pernah melakukan pitching untuk klien baru atau mulai menerima pelanggan baru, jika kalian berfikir kafe adalah tempat yang baik untuk melakukan perbincangan tentang hal tersebut, maka sepertinya kalian perlu memikirkannya kembali.

Dan juga, jangan sembunyikan pandangan tidak ramah dari pelayan kafe setelah kalian menghabiskan lebih dari 6 jam di dalam kafe mereka hanya dengan membeli secangkir kopi.

Bekerja di coworking space

Ada alasan khusus berkembang pesatnya coworking spaces dalam beberapa tahun terakhir ini. Perekonomian berubah dengan makin banyaknya orang-orang yang keluar dari pola kerja 9-5. Bisa disebut juga ada ledakan jumlah pada entrepreneurship.

Meskipun ekonomi semakin membaik dan orang-orang kembali ke tempat kerja mereka, banyak juga dari mereka mempertahankan gaya bekerja independen. Melihat kenyataan dari sistem otomatisasi dan produktivitas yang semakin berkembang, masa depan pola bekerja mengarah pada tenaga kerja independen yang menyokong banyak entitas serta mendapatkan pendapatan dari beberapa tempat sekaligus.

Setelah melalui banyak kerugian dari bekerja di rumah atau bekerja di luar seperti kafe, maka coworking space jadi pilihan yang terbaik.

Pada akhirnya, perusahaan yang berkembang secara cepat akan melahirkan kantor mereka sendiri, namun untuk startup-starup kecil seperti yang kita jalankan ini seperti juga para freelancer, coworking space cukup cocok untuk pekerjaan “in-between” yang bisa melegitimasi sebuah bisnis dan juga membantu memisahkan masalah psikologis yang muncul saat bekerja di rumah.

Saat ini banyak pilihan coworking spaces yang bisa kita pilih di Jabodetabek, dan juga mungkin di kota tempat kalian tinggal, dimana dengan bebas kita bisa coba satu per satu….why not?

Banyak orang (termasuk saya juga) pada awalnya langsung kepikiran tentang ide membayar meja secara bulanan, namun menurut saya ada baiknya setiap enterpreneur harus mulai membiasakan diri untuk mulai mencari dan memilih apa yang terbaik untuk bisnis mereka.

Pertimbangkan baik-baik biaya dan keuntungan yang bisa kalian dapatkan dari tempat kerja kalian serta hasil yang bisa didapat. Bila faktor pertimbangan kalian ada pada produktivitas dan potensial, penghematan dengan menggunakan tempat kerja gratis mungkin jadi tidak sebaik yang kalian pikirkan.

Ini adalah pendapat dari salah seorang entrepreneur (yaitu saya), bisa jadi kalian punya pendapat yang berbeda. Pertanyaan saya, bagaimana dengan kalian? Tempat kerja seperti apa yang cocok buat kalian?

 

Iklan

2 pemikiran pada “Bekerja Remote Bukan Berarti Selalu Bekerja Dari Rumah

  1. Aku pengen sih kerja di kafe, tapi pada praktiknya aku kerja di rumah dan meeting di kafe atau kantor klien.

    Pengen banget sih kerja di Coworking Space tapi secara hitungan ekonomi masih terasa berat. Belum lagi aku udah invest untuk perlengkapan di rumah (DSL Internet, desktop PC & aksesoris, dst.,dst…) Lebih pengen kerja sehari-hari di Coworking Space daripada di kafe.

    Dan iya, males dipelototin waiters 😛

    Disukai oleh 1 orang

    • Halo mas Ferdi, menurut saya setiap orang punya formulasi sendiri untuk tempat yang dianggap nyaman untuk bekerja. Setiap tempat punya tantangan sendiri. Coworking buat saya sangat ideal, namun problemnya coworking yg ada sekarang kebanyakan menggunakan sistem open space, sedangkan saya punya problem jika bekerja di lingkungan yang terlalu ramai, dengan kata lain I do preferred a cubicle yg tidak terlalu tinggi sehingga sense of privacynya bisa tetap terjaga…:-)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s