Catatan Lebaran: Menemukan Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan


Sehari sebelum lebaran, dunia diguncang oleh beberapa peristiwa bom bunuh diri. Mulai dari Baghdad (Irak), Madinah (Arab Saudi), Malaysia dan juga Solo. Hati saya membara dan sedih ketika kita sedang mempersiapkan hari Lebaran dengan penuh sukacita, ada orang-orang yang justru fokus kepada penyebaran rasa takut dengan tindakan teror. Saya akan stop disini karena saya tidak ingin tulisan saya yang berikut ini jadi ikut membuat pengulangan-pengulangan curhatan perasaan yang saya yakin sudah banyak kita temukan di internet. Let’s talk about something else, let’s talk about our imperfection and how to make peace with them 🙂 

“Setiap manusia punya masalahnya masing-masing yang membuat hidup mereka terasa kurang tentram, selalu demikian”

Pernahkah Anda menemukan orang yang Anda anggap perfeksionis hidupnya tentram? Saya pribadi belum pernah. Kadang saya melihat orang lain yang saya anggap hidupnya sempurna, ketika kenal lebih jauh ternyata tidak juga. Setiap manusia punya masalahnya masing-masing yang membuat hidup mereka terasa kurang tentram, selalu demikian. Setelah dipikir-pikir dan direnungkan ternyata kebutuhan akan kesempurnaan dan keinginan akan ketentraman itu adalah dua hal yang berbeda, bahkan saling bertentangan kalau boleh saya sebut.

Bila kita terpaku dengan satu cara tertentu untuk mendapatkan sesuatu, bukan menerima apa yang sudah kita miliki, maka artinya kita sudah kalah dalam sebuah pertempuran. Ketimbang merasa puas dan bersyukur atas apa yang kita miliki, kita terpaku dengan apa yang belum kita miliki dan dorongan untuk memilikinya. Bila kita selalu berfikir tentang kekurangan, artinya kita selalu akan kecewa dan tidak puas.

Sikap selalu meributkan “ketidaksempurnaan” ini tanpa sadar akan menjauhkan diri kita untuk bisa menjadi orang yang lebih baik

Kekecewaan dan ketidak puasan itu muncul dari mana-mana, mulai dari diri kita sendiri yang merasa tidak puas dengan rumah yang berantakan, mendapati baret kecil dimobil, pencapaian yang tidak sempurna, berat badan yang tidak turun-turun atau “ketidak puasan” terhadap orang lain seperti penampilan fisik orang lain, perilaku atau gaya hidup yang dijalani mereka.

Sikap selalu meributkan “ketidaksempurnaan” ini tanpa sadar akan menjauhkan diri kita untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. Ini bukan berarti kita tidak perlu lagi berusaha sebaik-baiknya dalam hidup ini lho ya, namun ada sisi positifnya jika kita tidak terlalu terikat dan terpaku dengan apa yang kurang dalam hidup ini.

Ini adalah masalah kenyataan bahwa selalu ada cara yang lebih baik dalam melakukan sesuatu sekaligus juga bisa tetap menikmati atau menghargai cara yang sudah ada.

“Ingatkan diri Anda bahwa hidup akan baik-baik saja seperti adanya saat ini”

Oke, lalu apa pemecahannya? Pemecahannya adalah melepaskan diri sebelum terperangkap dalam tingkah laku memaksakan sesuatu yang menurut Anda lebih baik dari yang sudah ada. Ingatkan diri Anda bahwa hidup akan baik-baik saja seperti adanya saat ini. Tanpa ada Anda ikut memikirkannya pun semuanya akan baik-baik saja. Begitu Anda berhasil menghilangkan keinginan Anda untuk menjadi sempurna dalam segala bidang kehidupan, maka Anda akan mulai menemukan keindahan dalam hidup ini.

Mari mulai bersyukur dengan apa yang kita miliki, karena banyak orang lain yang belum tentu bisa mendapatkan apa yang kita miliki sekarang….:-)

Foto: Toni VerdĂș CarbĂł

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s