Kebangkitan Content Community


Library

Satu dekade yang lalu atau bahkan lebih, konten sudah berevolusi dari sebuah potongan informasi statik ke sesuatu yang lebih menyerupai kata kerja. Cara kita menggunakannya berubah, yang kita harapkan dari konten tersebut juga berubah, dan tentu saja bagaimana konten tersebut disampaikan dan dikonsumsi pun sudah berubah.

Mengingat informasi saat ini makin menjadi elemen penting yang cukup menentukan keputusan pembelian, begitu pula apa yang rela kita berikan untuk mendapatkan hal lain juga ikut berubah.

Kondisi itulah yang ingin saya bahas di tulisan saya kali ini.

Saya coba mulai dari sejarah singkat bagaimana konten dan penangkapan kesempatan  dalam bisnis telah berevolusi sepanjang jalur yang paralel.

Kita mengenal Content 1.0, yaitu bila Anda mengalami popularitas penggunaan fitur buku tamu (guest-book) pada website. Bagi orang-orang yang berumur dibawah 30 tahun, hal tersebut jadi terasa sangat aneh, terutama kenyataan bahwa Anda mau memberikan alamat email Anda di buku tamu tanpa mendapatkan imbalan apa-apa.

Akhirnya, orang-orang menginginkan sesuatu yang lebih lalu lahirlah ezine (emagazine). Lagi-lagi pembaca yang berumur dibawah 30 tahun pasti banyak yang tidak mengenal istilah tersebut namun memang seperti itulah orang-orang menyebutnya pada saat itu yang sekarang dapat disamakan dengan distribusi newsletter lewat email.

Begitu orang-orang mulai menyadari kekuatan pemasaran yang mengagumkan yang terkandung dalam email-list besar yang responsif, istilah Content 2.0 muncul.

Pada akhirnya, spam pada email yang membuat banyak orang lelah menghadapinya membuat kita semua (dan juga mereka tentunya) tidak mau lagi memberikan alamat email secara sembarangan (dan gratis). Mereka menginginkan informasi yang berguna dan itu menjadi harga yang diminta.

Anda pasti tahu apa yang biasanya terjadi. Anda membuat sebuah konten yang keren, bisa berupa daftar/list atau ebook,  lalu ditawarkan untuk ditukar dengan alamat email para pengunjung. Ketika pendekatan “menggunakan umpan” ini menjadi hal yang lazim, semua usaha menjadi lebih diarahkan ke tujuan yang sama, termasuk penyaluran konten yang lebih agresif, lalu setiap peluncuran produk menggunakan landing page khusus, mempersingkat halaman dan memunculkan pop-up boxes yang bertujuan untuk mendapatkan alamat email sebagai tujuan utama.

Metode Content 2.0 masih banyak digunakan pada saat ini, namun saya melihat akan adanya pergerakan kearah yang saya anggap akan jadi trend selanjutnya dalam dunia Content Marketing. Pergerakan ini, jika kita ingin konsisten maka akan kita sebut dengan Content 3.0, yang selanjutnya untuk alasan kemudahan juga bisa disebut sebagai “Content Communities”

Ide dibelakang content community ini adalah orang-orang tidak perlu memberikan alamat email mereka untuk mendapatkan satu bagian dari konten. Mereka yang menentukan bahwa mereka ingin bergabung dengan komunitas Anda untuk mendapatkan akses ke seluruh set konten yang ada dan konten yang akan dibuat dimasa mendatang yang memenuhi kebutuhan mereka.

Saat ini, penawaran konten melalui program keanggotaan dan juga kursus/pelatihan banyak dilakukan orang, namun saya pribadi percaya bahwa untuk menuju ke pembangunan dan pemeliharaan content community sebagai harga dari pendaftaran sebagai anggota akan jadi cara yang paling kuat untuk membangun list email dan juga komunitasnya.

Contoh yang paling kuat yang bisa saya berikan adalah Copyblogger. Copyblogger sudah lama menerapkan strategi mendorong konten secara gratis. Brian Clark, owner dari Copyblogger beserta timnya bisa disebut merupakan salah satu yang terdepan dalam konteks Content 3.0.

Pada content community pola yang dilakukan adalah mengundang orang untuk jadi anggota untuk masuk dan mengonsumsi seluruh koleksi gratis dengan janji pembaruan koleksi akan jadi keuntungan yang didapat jika jadi anggota.

Secara jelas, dengan pendekatan ini maka Anda harus membuat/mengoleksi banyak konten-konten yang berguna dalam bentuk ebooks, checklist dan video dan juga Anda harus membuat rencana untuk menambahkan konten-konten baru secara reguler dan konsisten.

Imbalannya, bagaimanapun juga seluruh pendaftaran untuk masuk ke komunitas yang Anda buat akan jauh melampaui apa yang bisa didapat dari tawaran-tawaran siapapun dan para anggota akan memposisikan undangan-undangan yang ditawarkan dengan mindset proses hubungan baik yang sedang berjalan ketimbang proses jual beli yang sedang dilakukan.

Dari sudut pandang teknologi, Anda hanya membuat keanggotaan komunitas dimana setiap anggota mendapatkan login untuk akses dan kembali ke koleksi konten. WordPress (blog platform) dibuat untuk bisa menangani pendekatan ini, dimana banyak membership plugins yang memungkinkan orang untuk mendaftar sebagai anggota serta melindungi community content sebagai konten yang hanya bisa diakses oleh “members only”. Copyblogger punya Rainmaker platform yang bisa melakukan fungsi-fungsi tersebut secara built-in.

Anda mungkin bisa saja menambahkan forum atau private Facebook group untuk anggota Anda agar mereka bisa berinteraksi satu sama lain, walaupun ini akan membawa ke level yang berbeda dari proses engagement di sisi Anda agar bisa menjadikannya berhasil.

Konten akan terus mencetak hasil yang baik dari apa yang dilakukan oleh pemasaran dan pemasar yang cerdas akan terus melanjutkan untuk merangkul dan mengoptimalkan peran yang selalu berubah yang dimainkan oleh konten.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s