Mayoritas – Minoritas


different

Isu-isu perbedaan yang terangkat ke permukaan akhir-akhir ini karena ketidak pekaan terhadap perbedaan tersebut menimbulkan label-label yang saya secara pribadi sangat membencinya, bahkan sesederhana penyebutan mayoritas-minoritas sekalipun.

Beberapa teman saya yang melabeli diri mereka sebagai minoritas sudah mulai bereaksi akibat sentiment negatif yang dihembuskan teman2 lainnya yang melabeli diri mereka sebagai mayoritas. Friksi memang terlihat diambang pintu. Kedewasaan berfikir sangat dibutuhkan untuk melihat masalah perbedaan ini dengan jauh lebih jernih ketimbang mengandalkan emosi dan perasaan semata.

Tanpa bermaksud masuk ke ranah pelabelan mayoritas-minoritas yang saya sangat benci itu, salah seorang sahabat lama yang sekarang menetap di US, Nia Iman-Santoso (Ntes) menuliskan pandangannya berkaitan dengan pengalamannya sebagai what so called minority (minoritas). Bacalah tulisannya di bawah ini dengan pikiran yang jernih dan terbuka, maka Insya Allah kita semua bisa melihat lebih dari hanya sekedar perbedaan semata.

MENJADI MINORITAS

Sejak TK hingga SMA, saya bersekolah di sebuah sekolah Katholik yang mayoritas siswa-siswinya keturunan Cina dan beragama Katholik. Saya ingat betul, waktu di SMA, di kelas saya hanya ada 3 siswa pribumi, itu pun satu diantaranya beragama Katholik. Saat sekolah itu, saya (dan kami para minoritas keturunan Cina lainnya) merasa menjadi bagian dari ‘mayoritas’, walaupun hanya sebatas didalam pintu gerbang sekolah. Walaupun ‘mayoritas’, tak pernah sekalipun kami memberi perlakuan berbeda kepada teman ‘minoritas’. Kami bahkan tak pernah melihat bahwa si pribumi A lebih gelap kulitnya, matanya tidak ‘kubil’ atau sipit, sehingga kami pun tak canggung berteman.

Ketika lulus SMA dan diterima di perguruan tinggi negeri, kondisi menjadi terbalik. Sebagai mahasiswi keturunan Cina, saya yang memang minoritas, kini menjadi minoritas sejati. Tahun 1985, saat saya mulai duduk di bangku kuliah, tidak banyak mahasiswa keturunan Cina yang kuliah di universitas negeri. Banyak yang memang memilih untuk tidak ikut tes Sipenmaru, selain juga tidak mudah bagi siswa ‘keturunan’ untuk diterima di universitas negeri saat itu (boleh dong sombong sedikit walau keterimanya bukan di Fakultas Kedokteran😄). Walau awalnya saya sempat rikuh dan berusaha mencari teman sesama Cina, pelan-pelan saya mulai dapat berteman dengan siapa saja, dan ternyata semua juga terbuka menerima saya sebagai teman.

Saya kembali menjadi minoritas saat mulai bekerja di sebuah radio anak muda kondang di Jakarta. Dari yang tadinya agak sungkan dengan para wadyabala yang keren-keren, anak-anak gaul dan bermobil (sementara saya datang kerja dengan naik bajaj) akhirnya saya jadi terbiasa dan okeh-okeh saja kalau dipanggil ‘si cici’ atau ‘cici ntes’. Saya bahkan pernah menerima kartu tahun baru Cina dari para penyiar dengan ucapan-ucapan seperti: ‘ntes Cina’, ‘ntes Cina tetap Cina’, sampai-sampai ibu saya yang tak sengaja membaca kartu itu, sempat bertanya dengan khawatir, apakah saya di’bully’. Sambil tertawa saya menjelaskan: ini cuma becanda dan mereka semua perhatian koq, kalo gak ngapain satu-satu nulis di kartu tersebut mengucapkan selamat tahun baru Cina.

Kini saya tinggal di negeri impian para imigran. Saya menikah dengan sesama diaspora Indonesia, tapi suami saya adalah Indonesia pribumi tulen, yang merupakan ‘mayoritas’ di tanah air kami. Tapi disini, kami berdua adalah minoritas, tak hanya dari latar belakang bangsa dan ras, tapi juga agama. Entah mungkin karena sudah terbiasa jadi minoritas, saya tidak merasa berbeda hidup di negeri ini. Saya juga tidak masalah kalau disuruh mengisi latar belakang etnisitas saya, bahkan ditanya agama pun saya juga tidak masalah. Saya bangga dengan latar belakang saya, dengan ke-minoritas-an saya.

Buat saya, mayoritas atau minoritas hanyalah label yang dibuat oleh manusia, hanya karena jumlah anggota satu kelompok berkulit tertentu atau pemeluk agama tertentu, lebih besar dari kelompok lainnya. Padahal kemanusiaan sseorang tidak diukur dari warna kulitnya, bentuk matanya, jenis rambutnya ataupun agamanya. Manusia memang pada dasarnya rasis dan diskriminatif, termasuk saya sendiri, yang kalau lagi kesal dengan seseorang, suka menggerutu dengan membawa-bawa latar belakang etnis atau ras: ‘dasar orang item’, ‘dasar Jawa ndoro’ (ini kalau lagi kesel sama suami yang kalau diminta tolong mengerjakan ‘house chores’, jawabnya: ntar ya). Tapi kalau suami mulai memprotes sifat ‘pelit’ saya, saya juga akan bilang: ‘yah namanya juga gw Cina’😄.
Sebagai ‘keturunan’ Cina, saya sadar betul bahwa dimana pun saya menetap, akan selalu menjadi minoritas, bahkan sampai ke bulan, bahkan ke negeri leluhur saya sekali pun. Kenapa? Kami para perantau, apalagi yang telah beberapa generasi, juga sudah tidak dianggap Cina lagi kalau kembali ke negara asal kami.

Menjadi mayoritas atau minoritas karena etnisitas atau ras, adalah kehendak Pencipta kita. Kita tak dapat menolak, melainkan mensyukurinya sebagai anugrah atau suka tidak suka ya dijalani saja karena bagaimana juga mengubah warna kulit yang sudah melekat sejak dilahirkan?

Menjadi mayoritas atau minoritas karena agama ataupun tak beragama, adalah pilihan kita, yang sebaiknya dijalankan dengan bertanggung-jawab dan cerdas.

Jadi kalau ditanya: bagaimana rasanya menjadi minoritas? Sebagai veteran, saya hanya dapat menjawab: ada hal yang tidak dapat kita ubah, dan ada hal-hal yang dapat kita kontrol, seperti kemauan untuk berbaur, berempati, berpandangan terbuka, mencerna sebelum mencela, mendalami ajaran agama yang kita anut…..and by the way, ini berlaku juga loh untuk si ‘mayoritas’ karena kita kan sama-sama manusia yang sepatutnya sederajat dimata Sang Pencipta.

*tulisan ini juga bisa dibaca di Status Facebooknya Ntes ini

Thanks ya Ntes, bagi saya tulisanmu ini seperti setetes embun penyegar mata yang sebelumnya banyak membuat orang susah melihat permasalahan mayoritas-minoritas ini…:-)

Bagi saya pribadi menyikapi perbedaan itu tidak lah harus dengan mencari siapa yang paling benar ataupun siapa yang paling banyak. Selama perbedaan tersebut tidak mengganggu kehidupan kita bersama tidak alasan bagi kita untuk meradang. Mudah-mudahan kita semua bisa memahami dan selalu ada waktu untuk berdiskusi tanpa emosi jika memang belum memahaminya……Amiiien

Foto: PositiveMed

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s