Jual Diri


Saya tidak percaya kepada orang yang mengklaim diri mereka kurang beruntung dalam pekerjaan. Biasanya hal tersebut terjadi karena adanya kekurang lengkapan dalam usaha ataupun hal-hal penunjang usaha tersebut.

Saya mendapatkan contoh nyata saat saya kembali bergaul dengan teman-teman yang berkecimpung di dunia desain produk yang sudah saya tinggalkan sejak tahun 2000 dulu. Saya melihat kondisinya masih sama. Lack of acknowledgement dari masyarakat membuat profesi ini tidak terlalu dikenal. Banyak yang tidak tahu bahwa lahirnya sebuah produk sebetulnya (dan seharusnya) ada peran keilmuan desain produk selain keilmuan engineering, pemasaran dan ilmu-ilmu lainnya. Namun yang terjadi sebaliknya. Bahkan pengetahuan pemerintah pun tentang bidang keilmuan desain produk ini sangatlah minim.

Apa yang salah?

Pagi ini saat saya diundang untuk menyaksikan presentasi salah satu lulusan jurusan desain produk Universitas Trisakti tentang bidang pekerjaannya. Iwan Sung namanya, seorang desainer produk yang memfokuskan diri pada bidang packaging serta produk-produk berbasis corrugated paper. Setelah acara tersebut kami sempat berdiskusi tentang profesi desainer produk ini. Apa yang salah dengan profesi ini sehingga tidak juga bisa dikenal secara luas di masyarakat, berbeda dengan profesi dekat lainnya yaitu arsitek, desainer interior serta desainer komunikasi visual yang jauh lebih dikenal di masyarakat? Jawabannya hanya satu, yaitu komunikasi. Ya teman-teman yang berprofesi desainer produk ini kurang mengomunikasikan profesi mereka serta hasil kerja mereka ke level yang lebih luas. Saya menyebutnya dengan istilah yang lebih kejam, yaitu kurang “jual diri”.

Jual diri tanpa harus jadi banci tampil

Setelah saya diberi kesempatan untuk berbagi tentang pentingnya “jual” diri untuk urusan profesional maupun personal, salah seorang adik kelas saya, Maudhy Setyawan mendatangi saya dan bilang “Gue setuju banget Bang dengan apa yang elo sampaikan. Desainer-desainer lulusan kita (Usakti) memang kebanyakan rada sungkan untuk ‘jual diri’ karena memang kita-kita ini gak biasa jadi banci tampil juga sih”, begitu ungkapnya.

Well, “jual diri” mungkin istilah yang cukup keras sehingga memunculkan resistensi yang menganggapnya sebagai hardsell. Sama halnya dengan istilah “banci tampil” yang jelas berkonotasi negatif. Bagi saya jual diri adalah being stand out sehingga bisa dilihat oleh banyak orang dan disadari values nya. Being stand out bukan berarti harus jadi banci tampil. Banyak cara yang bisa dijalankan sebetulnya agar bisa stand out. Misalnya rajin “bercerita” di blog pribadi lalu berbagi di media sosial, membuat vlog yang secara konsisten bercerita tentang profesi /pekerjaan yang sedang dikerjakan, dan banyak lagi yang tentunya bisa dipelajari pada sesi lainnya jika tertarik.

Jual diri dengan tujuan mengedukasi (kepentingan komersil akan muncul)

Jual diri bukan serta merta hanya untuk hal-hal yang bersifat komersil namun juga meningkatkan awareness masyarakat terhadap apa yang kalian kerjakan plus bisa mengangkat profesinya juga. Bila masyarakat sudah kenal, maka akan muncul kebutuhan, akan muncul bargaining position, dimanapun kalian hidup dan bekerja.

Memang kemampuan jual diri ini harus dipelajari karena tidak serta merta bisa muncul. Tertarik untuk mempelajarinya? Let me know

Iklan

Satu pemikiran pada “Jual Diri

  1. Ping balik: Cintailah Pekerjaanmu dan Ia Akan Mencintaimu Juga | bangwin.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s