Cintailah Pekerjaanmu dan Ia Akan Mencintaimu Juga


Percaya gak kalau pekerjaan yang kalian cintai sepenuh hati hingga pekerjaan itu jadi spesialisasinya kalian akan berpotensi menggiring ke apresiasi yang lebih besar dan lebih besar lagi. Saya percaya karena saya pernah melihat sendiri dan juga mengalaminya sendiri. 

Kembali ke sekitar tahun 2003-2005, saat saya sedang berada di NYC, saya sempat dititipkan salah satu anak dari teman saya bapak Tripudjo Djuliarso (alm) yang akan bersekolah di The Juilliard School pada saat itu. Nama anaknya pak Tripudjo ini adalah Nial Djuliarso. Kami janjian ketemuan pertama kali di NYC saat itu di sebuah kafe jazz kecil diseputaran 42nd street yang namanya saya lupa.

Di kafe itu pula untuk pertama kali saya diperkenalkan dengan Nial, anak muda dengan kemampuan bermain piano extra ordinary menurut saya. Beberapa saat ngobrol, pak Tripudjo mendatangi manager kafe nya dan meminta ijin agar Nial bisa mencoba main piano sebelum homeband mereka datang. Tentu saja langsung diijinkan oleh manajer kafenya lalu mulailah Nial membawakan beberapa lagu jazz standar yang dengan segera membuat para penggemar jazz yang hadir menolehkan mata mereka. Begitu memukaunya permainan Nial sehingga akhirnya ia diajak jamming oleh homeband kafe tersebut untuk beberapa lagu. Mereka merasa senang, sampai akhirnya kami berpisah.

Beberapa hari kemudian, saya kembali bertemu dengan pak Tripudjo. Ia mengupdate saya bahwa setelah ketemuan kita tempo hari si pemilik kafe menawarkan Nial untuk main regular di kafenya, tentu saja dibayar as a professional musician. Amazing isn’t it?

Another story adalah pengalaman pribadi saya. Jadi ceritanya di NYC salah satu tempat yang paling sering saya kunjungi adalah Guitar Center yang berada di 14th Street. Tidak alasan khusus selain saya gandrung banget sama instrumen electric bass dan Guitar Center ini adalah toko musik terdekat dengan computer labnya The New School. Kebijakan Guitar Center saat itu adalah memperbolehkan setiap pengunjung mencoba semua instrumen yang didisplay lengkap dengan amplifiernya walaupun kita tidak beli apapun. Kebijakan ini membuat pemusik amatiran seperti saya bisa main sepuasnya sambil menghayal ada diatas panggung tentunya. Yang memanfaatkan kesempatan ini ternyata bukan hanya saya, banyak musisi-musisi profesional pun melakukan hal yang sama. Tak jarang diantara mereka jadi terhubung dengan kesesuaian musik yang mereka mainkan, jadi kenalan lalu jam session bareng. Inilah yang terjadi dengan saya, walaupun dalam kasus yang saya alami, saya bukanlah musisi profesional, hehehe.

Saat memainkan salah satu electric bass (MusicMan kalau tidak salah ingat), ada seseorang musisi keturunan African-American mendekati saya lalu mengajak untuk berjam session, tentu saja dengan senang hati saya menanggapinya dengan senang hati. Kami berjam session dengan dua bass selama kurang lebih satu jam, sampai akhirnya kami menyudahinya karena saya harus pergi. Sebelum pergi ia bertanya pada saya, oh ya nama musisi ini adalah Paul (saya tidak sempat bertanya nama lengkapnya sih)

  • Paul: Hey Edwin, where do you use to play?”
  • Saya: Oh I don’t play music here, but it would be interesting if I can play somewhere in this city though
  • Paul: Well you should, man…You got your talent. It’s a waste if you don’t play man
  • Paul: (Mengambil secarik kertas) If you interested, you can visit the place that I use to play at Brooklyn. Not a big place but it’s a warm hangout place for jazz community. You play your gear very well Edwin, they will love you
  • Saya: That’ll be fun Paul, I will think about it….hey Thanks man!

Lalu apakah lalu saya berkunjung ke tempatnya Paul pada saat itu? Tidak, ternyata pekerjaan jadi asisten dosen (well dosen sih practically karena dosen in chargenya kebanyakan kerjaan) di Parson Design School lebih menyita waktu, dan lagi saya senang mengajar…:-)

OK, dari dua cerita diatas saya pikir cukup untuk membuat saya yakin bahwa jika kita mencintai sepenuh hati pekerjaan kita sehingga menjadi spesialis untuk bidang tersebut maka pekerjaan tersebut akan berpotensi menggiring ke apresiasi yang lebih besar dan lebih besar lagi, asalkan tidak disia-siakan. Bahkan beberapa orang sudah membuktikannya.

Kita tidak harus menjadi musisi seperti Nial Djuliarso dan Joey Alexander, tapi kita bisa menjadi seseorang dimana nama kita dianggap “mewakili” bidang pekerjaan tersebut, dan ingat….jangan ragu untuk “jual diri” tanpa harus jadi “banci tampil” 😉

Foto: Screen capture dari video dokumentasi Cinupina

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s