Sebuah Berkah Bernama Evandra


Menjadi orang tua dari anak yang dititipkan oleh Sang Khalik merupakan tanggung jawab sekaligus kehormatan yang besar bagi kita. Ikatan batin yang terbentuk saat si anak lahir kedunia ini sampai ia beranjak besar adalah sebuah manifestasi dari kehidupan itu sendiri. Suka atau tidak suka, terlihat atau tidak terlihat, ikatan ini terus berkembang. 

Saya dan Tyas mendapatkan berkah dari Tuhan dengan lahirnya Evandra saat saya baru saja memutuskan resign dari Yahoo! Indonesia (Evandra lahir pada tahun 2012). Sebuah keputusan yang berani atau banyak yang menyebutnya dengan nekat karena kita tahu bahwa punya anak itu bukanlah sesuatu yang mudah terutama dalam hal finansial. Namun kami berdua yakin untuk menjalaninya, karena tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa melihat masa depan dengan jelas. Jadi jika tidak sekarang ya kapan? Dan lagi yang namanya umur tidak akan pernah mau berkompromi bukan?

Evandra lahir lengkap dengan semua keajaiban yang diberikan oleh Tuhan untuk bisa catch up dengan kehidupan di dunia. Setiap detik ia selalu memukau kami. Mulai dari senyum, sense of humor yang sudah muncul saat masih bayi. Kecintaannya pada musik. Dan lain sebagainya.

Pada usianya yang dalam waktu dekat akan mencapai 5 tahun, Evandra memperlihatkan perkembangan emosional yang menurut kami cukup advanced. Ia sudah bisa mengekspresikan emosi yang ia rasakan pada orang-orang disekelilingnya dan juga tentunya pada saya dan Tyas sebagai orang tuanya. Perubahan gesture, mimik muka tidak lagi dibiarkan sendiri namun juga ia tambahkan dengan pernyataan-pernyataan verbal yang ia lontarkan ketika ia merasakan dorongan emosional tertentu.

Seorang ayah adalah pahlawan pertama bagi anak lelaki dan seorang ibu adalah kekasih pertama bagi anak lelaki. Evandra adalah seorang anak yang sangat ekspresif dalam menyampaikan perasaannya sekaligus juga sangat sensitif. Ia bisa berulang kali mengucapkan “I love you mama” sembari sun pipi mamanya. Sedangkan saya sebagai ayahnya diposisikan sebagai teman bermain yang sifatnya fisik. Misalnya main gulat-gulatan, berantem ala Kungfu Panda, kuda-kudaan, dan yang terakhir adalah disuru gendong kelinci (rabbit) dimana yang jadi rabbit adalah Evandra.

Saat keberangkatan saya ke NYC untuk memenuhi undangan dari Samsung, Evandra kembali menunjukkan sedikit perubahan dalam mengekspresikan emosinya. Mulai dari ia kelihatan sedih dan minta ikut ayahnya ke NYC sampai saat saya transit di Changi dan melakukan video call, Evandra sempat minta pada saya jangan ke NYC tapi pulang saja ke rumah. Dan ini bikin saya sedikit mewek.

Tulisan ini sudah ada dikepala sejak 12 jam lalu saat saya selesai melakukan video call dengan Evandra dan Mamanya, dan baru saja saya rampungkan 43 menit sebelum mendarat di bandara Frankfurt untuk transit sebelum terbang kembali menuju tujuan akhir di New York City.

Foto: Tyas Handayani

Iklan

5 pemikiran pada “Sebuah Berkah Bernama Evandra

  1. Ping balik: [New York Trip 2017] Changi | bangwin.net

  2. Ini aku bener2 salfok bang, yang kulihat saat tulisanmu muncul di twitter bersama foto dirimu dan evandra adalah, wuiih, si abang dietnya berhasil banget…… *siriktandatakmampu 😂😂😂😂
    Btw udah gede aja ya evandra, inget waktu masih jadi si pipi gembul. Hehehe..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s