Design Thinking As A Survival Kit For Life


Kembalinya saya ke dunia desain produk bukanlah suatu kebetulan. Dari awal saya memutuskan untuk meninggalkan profesi ini saya yakin bahwa pada satu saat nanti saya akan kembali. Hanya ada satu dua hal yang harus diatur ulang terutama dalam hal ekspektasi. 

Saat saya mulai menjajaki lagin saya tidak lagi mendapati dunia yang sama saat saya sedang gandrung-gandrungnya pada desain produk ini. Bagi saya sebuah kreasi bukan lagi styling yang indah. Sebuah kreasi bukan lagi hasil penemuan/solusi bagi umat manusia. Namun bagi saya sebuah kreasi itu harus juga menjadi jembatan bagi jurang-jurang yang menganga pada kehidupan manusia.

Ketika kembali, banyak hal yang membuat saya kaget. Mulai dari masih adanya permasalahan yang sudah ada setidaknya 16 tahun yang lalu. Menurut saya makin hilangnya pemahaman masyarakat tentang profesi ini membuat kita semua harus lebih serius dalam mengangkat profesi ini. Sekaligus juga mulai meredefinisikan kembali pengertian dari profesi tersebut.

Desain dan Cara Berfikir Kreatif

Mungkin banyak yang tidak sadar bahwa saat kita belajar dahulu, pondasi yang ditanamkan pada mahasiswa desain yang disebut sebagai “design process” adalah modal utama yang saya sebut sebagai “survival kit” bagi hidup kita. “Design Process” yang diajarkan pada kita sekarang memiliki beberapa nama (Design Thinking, Creative Thinking) dan menjadi sebuah metode yang digunakan secara global (bukan hanya untuk bidang desain semata).

Penggunaan “Design Process” ini sudah diaplikasikan pada hal-hal yang sifatnya penciptaan, inovasi, pemecahan masalah dan banyak lagi.

Desainer vs Problem Solver

Dengan demikian apakah kita masih bisa menyebut desainer sebagai desainer? Well, semuanya menjadi pilihan. Bahkan banyak lulusan pendidikan tinggi desain malah sukses dibidang lainnya. Banyak desainer bisa survive dalam kehidupan karena cara berfikir mereka yang unik. Dididik menjadi seorang desainer berarti membekali manusia menjadi seorang yang mengerti alur pemecahan masalah plus mengasah sense of art yang mereka miliki untuk melengkapi keseluruhan pemecahan masalah tersebut.

Akhir kata, saya hanya ingin sedikit merangkum apa yang saya sampaikan diatas bahwa sebagai seseorang yang dididik sebagai desainer, kita tidak perlu jadi minder jika tidak bekerja dibidang tersebut. Kita dibekali sebuah pondasi (saya menyebutnya dengan istilah “survival kita”) yang luar biasa dimana kebanyakan tidak menyadarinya, yaitu cara berfikir kreatif dan pengetahuan tentang proses perencanaan (desain) yang sekarang malah digunakan secara luas untuk bidang-bidang lainnya. Beberapa dari kita memfokuskan diri pada styling, ya it’s all an option for us.

Let me know what do you think by leaving your comments down here 🙂

Iklan

5 pemikiran pada “Design Thinking As A Survival Kit For Life

  1. Ping balik: Design Thinking As A Survival Kit For Life – Indonesia Creative Hub

  2. Setuju Bangwin! Proses desain produk pada dasarnya alur berpikir yang runut utk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi, jadi bisa diterapkan dibidang apa saja. Kalau gitu sekolah despro memang gk harus jadi desainer produk ya..hehe

    Suka

  3. Bener bang, spt gw yg skrg yg bidang pekerjaan nya jauh dari bidang desain pun tetep kepake tuh proses “kreatif” nya bahkan jd nilai plus gw krn bisa memberikan output/ result dgn cara yg gak biasa …. 😁
    Nice thought bang… 👍👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s