Monitor


Seberapa banyak kita bisa mengingat sesuatu? Saya yakin memori kita ada batasnya, oleh karena itu siapapun pernah lupa. Namun jangan salah, lupa atau ingat itu bukan semata-mata hanya karena gudang ingatan kita kepenuhan namun juga disebabkan karena persoalan manajemen prioritas yang lalu akan merembet kemana-mana termasuk logika dan perasaan. 

Oke sebelum kalian makin bingung, saya akan flashback sedikit ke beberapa saat lalu pada cerita di blogpost saya yang lalu. Singkat kata pengalaman tersebut benar-benar membuat mata saya lebih terbuka. Diumur saya sekarang memang sudah tidak bisa lagi berpegangan dengan istilah “belanda masih jauh” karena si “belanda” yang ditakuti itu sebenarnya sudah berkeliling disekitar kita tanpa kita sadari, hanya saja kita yang tidak tahu atau tidak peduli.

Belanda? Si Bangwin ngomongin apa sih kok ada Belanda-Belandanya? Hahaha! Sifat manusia itu cepat lupa karena sering menggampangkan oleh karena itu kita butuh weker. Namun weker ini bukan sembarang weker, namun weker yang bisa mengingatkan kita kalau ada yang salah di tubuh kita. Jangan membayangkan weker itu seperti jam lho ya, karena sebenarnya tubuh kita sudah punya alert system sendiri yang selalu memberikan tanda jika ada sesuatu yang salah pada tubuh kita. Hanya saja memang kembali lagi banyak dari kita seringkali menggampangkan, baru ketika menerima hasil lab yang bilang: “Oh bapak kadar gula dalam darahnya tinggi sekali ya”, baru mulai panik. Berdasarkan pengalaman tersebut saya jadi banyak menggali informasi tentang bagaimana tubuh kita bekerja (dan dapat pula buku keluaran Times yang berjudul Your Body – A User’s Guide? di Big Bad Wolf).

Dijaman dulu, saat manusia belum sebrutal sekarang dalam mengonsumsi makanan, sinyal dari tubuh kita cukup menjadi andalan untuk bisa menjaga diri, begitu tubuh kelelahan, maka sinyal yang muncul akan ditindak lanjuti dengan istirahat. Begitu tubuh dirasakan tidak enak, perut berbunyi “tung-tung-tung” ketika ditepuk, maka debrikan minuman hangat lalu kalau perlu dibalur oleh campuran minyak angin dan potongan bawang merah. Dan masih banyak lagi. Orang-orang pada jaman tersebut sangat memperhatikan tanda-tanda/sinyal yang diberikan oleh tubuh kita. Perilaku pengacuhan sinyal-sinyal tubuh tersebut memberikan dampak makin tumpulnya sensitivitas pada apa yang terjadi pada tubuh kita. Oleh karena itu banyak teman-teman kita, saudara-saudara yang tiba-tiba ketahuan sakit yang tingkatannya sudah tinggi tanpa ada ba-bi-bu lagi.

Bagaimana caranya mengembalikan sensitivitas kita pada sinyal-sinyal tubuh kita? Salah satu cara adalah mengubah pola makan atau yang lebih berat ya menjalankan detoksifikasi sederhana, yaitu mengatur asupan makan dengan diet. Pengalaman saya tubuh akan langsung bereaksi, dan kita bisa merasakannya dengan jelas, loud and clear. Itulah sinyal atau tanda-tanda yang saya maksud diatas yang diawal-awal saya menggunakan istilah “weker”.

Buat teman-teman yang baru tahu kalau tubuhnya menyimpan masalah besar (dari medical check up atau metode-metode pengukuran lainnya), maka saran saya mulailah kembali mendengarkan sinyal-sinyal yang dikirimkan tubuh kalian. Mulailah membangkitkan kembali sensitivitas kita terhadap sinyal-sinyal tersebut dengan cara mengembalikan pola makan yang benar dan……olahraga tentunya. Mengapa sensivitas kita terhadap tubuh itu penting? Karena dengan cara inilah kita bisa memonitor tubuh kita secara alami.

Care to discuss? Yuk di bawah

Iklan

Satu pemikiran pada “Monitor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s