Kedewasaan Masyarakat Kita


Mungkin teman-teman ada yang pernah berkunjung ke Manila? Ya ibukota negara Filipina. Dulu saat saya sedang ke Manila, disalah satu jalan protokol saya terheran-heran karena dibagian pinggir jalannya ada pagar yang dibentuk dari seutas kawat kecil membentang antara satu halte bis ke halte bis yang lainnya, yang hanya terputus di tempat penyebrangan dan juga halte bis. Pagar kawat tersebut tidak terlalu terlihat jika kita mengendarai mobil. Saya akhirnya bertanya pada rekan kerja saya yang memang orang Filipina tentang penggunaan pagar kawat tersebut. 

Penjelasan rekan saya mengenai penggunaan pagar seutas kawat tersebut akhirnya membuat saya mengerti. Ia menjelaskan bahwa pagar seutas kawat tersebut gunanya adalah agar para pejalan kaki tidak menghentikan bis seenaknya, dan menyebrang jalan seenaknya sekaligus juga menjaga agar bis hanya berhenti pada halte yang ditentukan. Yang artinya jika tidak ada pagar tersebut maka para pejalan kaki akan dengan seenaknya menyebrang jalan dan menyetop bis sesuka hatinya. Nah apakah kondisi ini mengingatkan kalian dengan apa yang terjadi di negara kita? Ya, di kita memang tidak ada inisiatif penggunaan pagar seutas kawat, karena mungkin rasanya terlalu kekanak-kanakan barangkali, namun pada kenyataannya memang para pejalan kaki kita tidak pernah tahu bahwa menyebrang jalan sembarangan dan menyetop bis sembarangan (berlaku juga pada si pengemudi angkot) itu akan ada tindakan hukum (saya sendiri tidak tahu apakah ada hukumnya), dengan demikian ya jadinya bebas-bebas saja bukan?

Pembiaran

Saya sering sekali komplen tentang “pembiaran” terhadap hukum yang berlaku, atau aturan yang memiliki dasar hukum, karena pada prinsipnya pembiaran itu akan melegitimasi bahwa hukum yang katanya menjadi dasar suatu aturan tidak berlaku. Dan jika terus menerus pembiaran ini dilakukan maka orang akan merasa bahwa pelanggaran atas aturan yang mereka lakukan adalah sesuatu yang sebenarnya tidak salah karena ya selalu dibiarkan (tidak ada tindakan). Contohnya sering kita lihat dikehidupan sehari-hari, misalnya pengendara motor yang melawan arah, tanpa ada yang melarang. Ketika kita tegur, malah dia yang marah. Orang menyelak antrian, ketika ditegur malah marah, dan banyak lagi yang sering terjadi.

Saya tidak tahu sampai kapan pembiaran pada kehidupan kita sehari-hari ini terus berlangsung. Sampai pagi ini saya membaca sebuah berita tentang penangkapan salah seorang yang berinisial ARP karena memposting sebuah opini yang menyebutkan bahwa bom bunuh diri yang terjadi di Kampung Melayu tersebut adalah rekayasa yang dilakukan oleh kepolisian. Saya bukanlah orang yang setuju pada pemberangusan opini karena saya menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, namun saya pikir dalam kondisi tertentu dimana suatu masyarakat belumlah siap untuk menerima tsunami informasi dimana dibutuhkan kedewasaan berfikir untuk memilah-milahnya maka opni menyesatkan ataupun bohong justru jadi sangat berbahaya, sehingga tindakan hukum justru dibutuhkan agar masyarakat jadi tahu bahwa apa yang dilontarkan itu tidak benar.

Kembali ke paragraf awal pada cerita saya tentang pemerintah Filipina yang memagari jalan protokol dengan seutas kawat agar para pejalan kaki tidak menyebrang jalan sembarangan serta tidak memberhentikan bis sembarangan juga. Diawal mungkin terlihat bodoh dan gak masuk akal, namun jika niatnya untuk mendidik masyarakatnya agar bisa lebih dewasa menyikapi aturan, ya jalan apapun sepertinya harus dilakukan walaupun buat kita terlihat bodoh ya.

Anything will do to make a betterment, I might say, don’t you think?

Iklan

2 pemikiran pada “Kedewasaan Masyarakat Kita

  1. Plok plok plok.. Sangat setuju sekali dengan yang mas utarakan dalam artikel ini. Semoga bisa benar-benar “didengar” dan ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang.

    Topik ini masih ada kaitannya dengan komentar saya di artikel soal “polisi cepek” yang Mas Win post beberapa tahun lalu, dimana saya suka dengan istilah “negara terserah Tuan” yang Mas Win pakai. Karena memang begitulah yang saat ini terjadi secara nyata : pembiaran terus-menerus dan terjadinya penurunan moral dan etika bersosial yang terpelihara 🙂 Pihak yang salah malah biasanya merupakan pihak yang lebih keras dan lebih emosi.

    Saya mau coba cara Mas Win dengan menyebut suatu istilah untuk situasi bermasyarakat kita saat ini, yaitu seperti “Dunia Terbalik”. Loh koq seperti judul sinetron yah?😂 tapi bukan maksud saya promosi judul sinetron, semata-mata hanya karena ada kesesuaian antara kata tersebut dengan kenyataan yang ada.

    Good job Mas Win atas artikelnya yang informatif juga kritik yang membangun.

    Salam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s