Kita Punya Masalah dalam Mengapresiasi


Akui saja bahwa bangsa kita banyak yang punya masalah dalam mengapresiasi. Banyak yang dari kecil hanya diajarkan kewajiban dan tanggung jawab tanpa words of encouragement (meminjam kata-kata dari Titan Arifin yang mengomentari status saya di Facebook). Alhasil mereka tumbuh sebagai pribadi-pribadi tukang cela dan tukang protes tanpa peduli prestasi dan sikap yang mereka miliki. 

Beberapa saat lalu kita semua terpukau dengan tulisan dari seorang anak berumur 18 tahun yang bernama Afi Nihaya Faradisa sebelum akhirnya mulai banyak hujatan-hujatan yang dilontarkan kepada Afi termasuk tuduhan plagiarisme yang katanya ia lakukan. Kita banyak yang lebih tertarik dengan hal-hal yang bisa menunjukkan keburukan ketimbang esensi pemikiran yang dilontarkan oleh anak ini pada tulisan-tulisannya.

Dijaman dulu, disaat Indonesia merajai cabang olahraga bulutangkis, hampir seluruh rakyat mengidolakan Rudy Hartono, Liem Swie King, Ivanna Lie dan sederet nama-nama besar lainnya yang saya yakin tidak banyak dikenal oleh anak-anak jaman sekarang. Kini didunia sulap Indonesia, seorang pesulap yang bernama Demian Aditya berhasil memukau pemirsa Amerika serta juga jurinya dengan aksi sulap yang ia tampilkan di ajang America”s Got Talent. Sesuatu yang membanggakan tentu saja apalagi Demian membawa nama bangsa kita, Indonesia. Namun apa yang ia dapat? Banyak komen cemoohan yang datang dari saudara-saudara sebangsa kita sendiri, disaat Demian berhasil memukau para pemirsa America’s Got Talent yang disaksikan oleh penonton dari seluruh dunia bahkan.

What’s wrong with you, Indonesian?

Keresahan ini sempat saya tumpahkan pada status pendek di Facebook Wall saya, dan ternyata banyak yang juga merasakan hal yang sama. Ada apa dengan bangsa kita? Mengapa kita berubah dari bangsa yang punya nasionalisme tinggi dan kebanggaan yang juga tinggi terhadap keIndonesiaan kita kini berubah menjadi pribadi-pribadi yang egoistis?

Apakah kalian punya pendapat tentang hal ini?

Iklan

8 pemikiran pada “Kita Punya Masalah dalam Mengapresiasi

  1. Ironis, tapi saya harus setuju bahwa bangsa kita punya masalah dalam mengapresiasi orang lain. Terutama ketika orang tsb lebih berprestasi dibanding ybs.

    Jika diperhatikan banyak orangtua yang tidak mencontohkan apresiasi yang benar. Misalnya saat prestasi anaknya kalah dibanding temannya di sekolah. Sebagian akan nyinyir, atau aneka bentuk lainnya. Intinya, prestasi temannya itu didapat dengan tidak fair atau kebetulan.

    Sejak anak2 masih kecil saya berusaha untuk menanamkan berbeda. Akui bahwa temannya atau lawan tandingnya lebih baik. Jika mau jadi juara maka berusahalah lebih keras dan raih prestasi itu secara sportif. Sementara belum berprestasi, terimalah kekalahan dengan lapang dada.

    Sangat saya anjurkan semua orangtua menanamkan nilai2 tsb.

    Jagad media sosial memang sangat menggoda: memberi opini dan kritik seenak jidat tanpa memikirkan tata krama.

    Kenapa bisa terjadi? Karena ybs beropini atau mengkritik tanpa tatap muka. Berlindung di balik layar smartphone atau komputer. Ybs merasa bahwa orang lain tak dapat mengkritiknya balik secara langsung. Jika pun iya, ybs punya kontrol untuk memilih mendengarkan atau tidak (hide/ delete/ block).

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih Abang, obrolan singkat kita sudah dijadikan kutipan on your blog.

    Saya percaya bahwa kesadaran dan ketulusan untuk menghargai keberhasilan orang lain itu tidak datang begitu saja. It’s a learning process.
    Dimulai sejak usia dini sebagai seorang bocah di era tahun 70an, sampai sekarang sudah menjadi ibu dari dua anak yang menjelang remaja, I myself is still learning to be consistent to be a positive person.

    Sembari mendidik anak2 untuk mempunyai pikiran terbuka dan rasa percaya diri bahwa mereka bisa menjadi anything they want, anywhere in the world. Juga bahwa empathy is a very important tools to use to live your life.

    Apalagi sekarang media sosial sudah menjadi bagian hidup sehari2. Kalau kita sendiri tidak bisa menyaring apa yang penting buat diri kita, bagaimana anak2 bisa belajar dari orangtuanya.

    Jadi menurut saya pertanyaan “what happened with us Indonesian now a days? ” will not get an easy answer unfortunately… Banyak sekali faktor2 yang mempengaruhinya. Tapi jika kita sudah menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang harus dibenahi, maka itu adalah langkah positive pertama. Selanjutnya adalah memperkuat benteng moral keluarga sendiri, with hope that they will continue to grow to become a good citizen of the world…

    Disukai oleh 2 orang

  3. Saat mencela, biasanya kita sedang dalam kondisi kurang percaya diri. Dengan mencela kita bisa sesaat merasa lebih hebat dari (paling tidak) orang yang dicela.
    Saya kok mengira, salah satu akar masalahnya, sebagai bangsa, kita telah kehilangan jati diri, ideologi dan rasa kebhineka tunggal ika-an. Setelah orde baru sukses “memperkosa” ideologi Pancasila, mereduksinya menjadi sekedar alat melanggengkan kekuasaan, bukan membangun manusia Indonesia, kita dibuat tidak lagi menganggap penting dan perlu, adanya ideologi kebangsaan (Pancasila) sebagai perekat masyarakat. Euforia “reformasi” membuat kita lupa merawat warisan penting para bapak/Ibu bangsa yang ikut melahirkan Indonesia merdeka ini.
    Tanpa jati diri bangsa, masyarakat mau tidak mau terjebak dalam identitas lokal dan sektarian, yang celakanya masing masing ingin merasa lebih hebat dari yang lainnya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s