Selamat Datang di Era Uber


 

Kita semua mungkin tahu dan setuju bahwa bermunculannya layanan taksi/ojek online saat ini membawa berkah bagi kita dari sisi pengguna. Betapa tidak, yang dulunya kita harus antri berjam-jam untuk mendapatkan taksi dipinggir jalan kini hanya dengan memasukkan permintaan pada aplikasi di piranti digital yang kita miliki, lalu secara otomatis permintaan kita tersebut disebar ke areal terdekat tempat kita meminta untuk mendapatkan layanan yang tersedia. Begitu instan, begitu terprediksi, dan tidak ada kejutan sama sekali untuk bisa mengetahui biaya yang harus dibayarkan. Bahkan kita bisa menentukan berdasarkan rate yang ditawarkan apakah kita jadi atau tidak mengambil layanan tersebut. Selamat datang di era Uber, teman-teman! Selamat datang di era disruption

Disruption

Untuk bisa lebih mudah dalam menjelaskan tentang fenomena era Uber ini, ada satu kata yang saya ingin kita semua memiliki pemahaman yang sama terhadapnya adalah  kata “disruption”. Saya tidak berhasil untuk mendapatkan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Beberapa kamus mengartikan kata disruption ini dengan gangguan dan “tercabut dari akarnya” (jika saya menggunakan kata disrupsi), yang menurut saya bisa jadi misleading. Jadi saya mencoba mencari pengertiannya dari kamus-kamus online berbahasa Inggris. Ini yang saya dapatkan dari Dictionary.com:

  1. forcible separation or division into parts
  2. a disrupted condition (sample: After the coup, the country was in disruption
  3. Business, a radical change in an industry, business strategy, etc., especially involving the introduction of a new product or service that creates a new market (sample: Globalization and the rapid advance of technology are major causes of business disruption

Ok, mengapa kita perlu memiliki pemahaman yang sama terhadap kata disruption ini? Karena pada dasarnya era yang saya sebut dengan era Uber ini adalah mewakili sebuah kondisi dimana terjadinya secara perlahan, tak kasat mata namun pasti pada sebuah tatanan kehidupan yang awalnya muncul dari lahirnya sebuah bisnis yang kita kenal dengan Uber ini. Mungkin secara singkat bisa saya jelaskan.

Sebelum kita mengenal layanan pesan taksi online Uber, kita mengenal yang namanya layanan transportasi ada dua jenis, yaitu yang menggunakan trayek (misalnya bis kota, angkot, transjakarta, commuterline, dan sebagainya) dan yang tidak menggunakan trayek (misalnya taksi, bajaj, ojek sampai dengan becak kalau masih ada). Moda angkutan bertrayek memiliki tarif yang jelas karena biasanya sudah ditentukan dari awal. Sedangkan moda angkutan tanpa trayek itu tidak memiliki rute tertentu. Tujuan disesuaikan dengan permintaan dengan harga yang ditentukan berdasarkan hitungan jarak atau ada juga yang penentuannya berdasarkan tawar menawar. Kita akan banyak membahas tentang moda angkutan tanpa trayek karena pada moda angkutan inilah tempat dimulainya moda baru sistem layanan yang saya sebut dengan era Uber.

Sebetulnya sistem layanan pesan taksi online ini hampir sama dengan sistem pesan taksi dengan menggunakan telpon, dimana setiap pesanan yang masuk akan disebarkan lewat sistem dispatch dimana unit taksi yang terdekat bisa mengambil order tersebut. Yang membedakannya selain pemesanannya pindah tidak lagi lewat telpon namun sekarang lewat aplikasi, namun Uber sebagai perusahaan yang pertama kali menjalankan sistem baru ini tidak menggunakan armada taksinya sendiri namun menyebarkannya ke siapapun yang sudah terdaftar pada database mereka sebagai pengendara Uber. Alhasil mereka jadi seperti memiliki “armada” yang besar dan terus tumbuh. Selain itu sistem yang mereka gunakan sangat mengandalkan teknologi. Dengan teknologi yang mereka gunakan maka mereka bisa memprediksi harga dari jarak yang akan ditempuh dari peta digital yang sudah tersedia. Untuk sistem pemesanan via aplikasipun teknologi peta digital dan GPS sangat memegang peranan penting untuk menentukan posisi pemesan serta penawaran pekerjaan pada areal terdekat dimana si pemesan berada. Jauh berbeda bukan dengan sistem pesan taksi lewat telpon?

Keunikan lainnya adalah sebenarnya Uber itu bukanlah benar-benar sebuah perusahaan transportasi karena mereka sebenarnya tidak punya armada taksi mereka sendiri. Yang mereka miliki adalah aplikasi penghubung antara calon penumpang dan pemilik kendaraan yang ingin memonetisasi kendaraannya dengan memberikan tumpangan pada si calon penumpang. Sehingga pada banyak diskusi yang membahas tentang kemunculan Uber ini, perusahaan yang menggunakan model Uber ini sering dikategorikan sebagai perusahaan aplikasi, yang menurut saya pribadipun cukup relevan walaupun secara fisik bisnis mereka terlihat seperti sebuah armada transportasi.

Kekacauan Sistem yang Terjadi

Apa yang dilakukan oleh Uber ini mengacaukan dunia industri layanan transportasi sekaligus mengambil hati para customer pengguna layanan transportasi yang lama maupun yang baru. Mereka melakukan apa yang disebut dengan disruptive economy, atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka pengertiannya adalah perubahan sistem ekonomi secara langsung yang merusak sistem ekonomi yang sebelumnya sudah berjalan. Setidaknya ada 5 poin yang berubah dalam tatanan lama yang kemudian ini menjadi ciri-ciri peradaban baru yang dikenal saat Uber memulai aktivitas disruptivenya (Peradaban Uber).

Pertama adalah penggunaan waktu, teknologi mengubah penggunaan waktu dari linear menjadi lateral (real-time). Yang dimaksud dengan linear adalah berurutan, contohnya untuk mendapatkan taksi di jalan, maka kita harus mengantri. Namun dengan sistem lateral (real-time) maka kita bisa memesan taksi/kendaraan secara on-demand dimana permintaan kita akan disebar ke pengendara yang terdekat. Penggunaan teknologi memungkinkan hal tersebut terjadi, sehingga seluruh proses mendapatkan percepatan yang signifikan. Lagi-lagi teknologi juga membantu agar proses ini bisa terjadi dengan cepat.

Yang kedua, pola bisnis. Di jaman dulu, jika kita ingin berbisnis maka kita harus memiliki semuanya sendiri. Istilahnya kita harus punya modal yang cukup untuk bisa menjalankan roda bisnis tersebut sendiri (owning economy). Pada model ekonomi baru ini, dimana banyak fungsi-fungsi pendukung sebuah bisnis justru bisa berdiri sendiri karena bisa digunakan secara terbuka maka ketimbang harus memiliki modal yang cukup besar untuk membeli aset, maka yang dilakukan adalah memanfaatkan aset-aset yang dimiliki oleh pihak lain dengan ikatan kerjasama. Dengan kata lain yang dilakukan adalah berbagi/sharing (sharing economy).

Yang ketiga sebenarnya berhubungan dengan poin pertama yaitu penggunaan teknologi yang memungkinkannya sebuah permintaan bisa diproses dengan segera secara on-demand, dimana dimasa lalu hal ini tidaklah dimungkinkan. Saat konsumen menghendaki maka saat itu pulalah layanan bisa disajikan. Dengan kombinasi teknologi GPS, big data serta interaksi yang dilakukan oleh calon penumpang lewat aplikasi maka satu putaran proses bisa berjalan dengan baik.

Yang keempat, pola-pola permintaan-penawaran yang dulunya berlaku tunggal, maka kini terjadinya pada jejaring dimana banyak pihak yang bisa ikut terlibat. Ribuan jejaring ikut andil dalam mempercepat dan memperkuat proses disruption ini.

Yang kelima, kompetisi yang terjadi tidak kasat mata, sehingga mempersulit bagi pihak-pihak yang masih menggunakan sistem lama untuk mengatur langkah untuk mencounternya. Di jaman dulu kita bisa memperkirakan kekuatan sebuah perusahaan taksi dengan cara melihat besarnya jumlah armada yang mereka miliki. Namun kini siapapun tanpa ada identitas khusus bisa menjadi bagian dari Uber.

Kemunculan Uber menandai perubahan era dalam kehidupan kita dan juga cara berbisnis. Kini mulai banyak bermunculan bisnis-bisnis baru yang menggunakan sistem baru yang dilahirkan dengan mengikuti pola Uber mendistrupt sistem mereka masing-masing. Inilah awal revolusi yang tidak bisa dihentikan lagi.

*Tulisan ini akan jadi serial Disruptive Economy pada blog ini

Iklan

7 pemikiran pada “Selamat Datang di Era Uber

  1. Disruptive economy pada dasarnya ‘mengganggu’ hingga mengubah tatanan berbisnis. Bahkan dengan kata lain: mengganggu kemapanan sistem, kekuatan modal dan brand, dst.

    Seringkali kaum mapan lupa bahwa kemajuan teknologi mampu mengubah banyak hal. Tidak hanya kemapanan & sistem, namun teknologi mendorong terciptanya bisnis baru, model bisnis baru, termasuk sistem baru. Seperti yang Bangwin sebutkan itu.

    Pihak mapan secara naluri akan terganggu karena eksistensinya terancam. Reaksi yang mudah diprediksi adalah menggunakan power. Misalnya demo, mengancam, atau menekan pihak regulator agar berpihak kepada kelompok mapan.

    Cara ini mungkin ampuh sesaat. Tapi dalam masa depan tidak mungkin langgeng. Pada akhirnya kelompok mapan hanya punya dua pilihan: beradaptasi/ merangkul perubahan, atau perlahan eksistensi memudar yang berujung pada matinya perusahaan.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ping balik: Disruption di Laut | bangwin.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s