Jangan Sebut Diri Kalian YouTuber, Facebooker atau Instagrammer!


Pagi ini saya menonton video dari Casey Neistat yang berjudul DEMONETIZED DEMONETIZED DEMONETIZED, dimana di video tersebut Casey bercerita bagaimana secara sepihak YouTube menyetop penghasilan yang ia dapatkan sebagai YouTube creator pada video-video yang mereka anggap melanggar ketentuan.

Well, peraturan adalah peraturan, dimana tempat kita nebeng platform ya harus menuruti peraturan yang diberlakukan oleh si pemilik tempat tersebut. Nothing’s new. Itu adalah sebuah konsekuensi yang mau tidak mau, suka apa tidak suka ya harus diikuti.

Terlepas dari kasus yang dialami oleh Casey, beberapa hari lalu, teman baik saya Andira Pramanta yang juga seorang creative content creator membagikan sebuah link ke twitnya Pinot, dimana pada twit tersebut merupakan rangkaian twit dimana Pinot berbagi pengalaman yang ia dapat tentang strategi & perencanaan video di media sosial.

Media sosial membuat setiap orang bisa menjadi kreator. Bahkan banyak kreator yang bisa hidup dengan layak karena hasil kreasinya, dan media sosial sangat berperan sebagai enabler, yang membuat para penikmat kreasi bisa menikmati hasil karya dari kreatornya.

Problemnya banyak kreator yang merasa terikat dengan satu platform dan take for granted dengan karya mereka sendiri. Mereka merasa bahwa tanpa keberadaan satu platform maka karya mereka tidak bisa dinikmati oleh komunitas yang terbentuk karena karya mereka. Padahal kenyataannya sebenarnya justru karya mereka lah yang membuat mereka terkenal, karya merekalah yang membuat platform bisa kebanjiran traffic (dan memonetizenya). Jadi kembali lagi seperti yang sebelumnya saya singgung, platform adalah ENABLER dan ada banyak platform yang bisa kita gunakan (bukan hanya satu).

You are Creator not YouTuber, Facebooker, Instagrammer

Mungkin apa yang disampaikan oleh Pinot di twitnya ini bisa menjelaskan:

Bukan saja kalau tutup kalian jadi kalang kabut, namun seperti yang terjadi pada Casey, setiap kreator tidak punya kekuatan penuh untuk mengontrol karya mereka (karena kreator harus tunduk pada peraturan pemilik platform bukan?)

Sebetulnya sebagai seorang kreator/content creator kalian bisa memiliki bargain lebih besar (tanpa harus bikin platform sendiri) dengan cara membuat karya kalian karya kalian bisa diakses lewat multi platform/kanal hanya dengan sedikit effort (mengunggah serta mengelola multiple platform)…..ah kalau kalian sukses kalian bisa menghire admin untuk melakukannya bukan?

Dengan demikian independensi kalian sebagai seorang kreator juga jadi bisa tetap terjaga. Penikmat karya bisa mengakses lewat beberapa pilihan platform/kanal tanpa harus memaksa mereka subscribe ke platform tertentu.

What do you guys think?


Versi vlog dari blogpost ini:

 

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “Jangan Sebut Diri Kalian YouTuber, Facebooker atau Instagrammer!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s