Ambil S2


sharing session di Universitas Esa Unggul

Akhir-akhir ini saya sering diundang untuk memberikan sharing di kampus-kampus. Bukan saja untuk acara-acara yang diadakan oleh mahasiswa namun juga dalam rangka kegiatan resmi perkuliahan, atau dengan kata lain menjadi dosen tamu (guest lecturer) ataupun seminar yang diadakan pihak akademisi untuk pembekalan bagi mahasiswa. Tidak hanya dibidang digital yang sudah 20 tahun lebih saya geluti, namun juga dibidang desain produk.

Berbagi memang salah satu passion yang sampai sekarang saya jalankan. Kalau kata orang-orang ya seharusnya saya mengikuti passion saya tersebut untuk menjadi seorang pengajar/dosen, well…pengen sih, tapi terbentur masalah regulasi karena untuk menjadi seorang dosen di negara ini, minimal latar belakang pendidikan yang harus dimiliki adalah S2, sedangkan cita-cita mengambil S2 saya dulu kandas saat krismon di tahun 1997.

Lucunya, saat saya di NYC dulu, saya sempat diterima mengajar sebagai dosen pengganti di salah satu intitusi pendidikan desain yang cukup terkenal yang namanya Parsons Design School (bagian dari The New School) dengan bermodal pengalaman kerja yang cukup lama sebagai desainer produk (bukan ijazah S2 yang tidak saya miliki). Selain itu yang saya ajar adalah mahasiswa S2…:-)

Anyway, beda negara ya pasti beda sistem dan beda regulasi. Persyaratan minimal harus mengantongi ijazah S2 di Indonesia ini mungkin ada baiknya juga (berusaha berfikir positif), yaitu agar setidaknya para pengajar (dosen) memiliki standar. Ya kalau mau jadi dosen ya ambil jenjang pendidikan S2 saja, begitu kata beberapa teman. Dan itu juga yang sekarang akhirnya membuat saya berfikir untuk ambil S2 walaupun sejujurnya kalau dilihat dari kondisi keuangan, ya tidak murah juga.

Saya belum pernah menemukan institusi pendidikan yang tertarik untuk berinvestasi pada dosen dengan menyekolahkannya agar bisa mendapatkan S2 agar bisa mengajar di institusi mereka (bisa dengan mekanisme ikatan dinas misalnya). Jika ada mekanisme seperti ini mungkin akan sangat menarik. Sehingga profesional yang memiliki potensi untuk menjadi dosen bisa lebih mendapatkan kesempatan untuk berbagi ilmu. Ya harus difahami tidak semua profesional artinya mampu membayar biaya pendidikan setingkat S2 juga bukan?

Hahaha, reality really bites this time, don’t you think?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s