Membuka 2018


Tahun 2018 dibuka oleh dua permintaan layanan yang berkaitan dengan media sosial. Yang pertama adalah untuk corporate training dan yang kedua adalah permintaan crisis handling. Selamat datang 2018. 

Ada dua poin yang ingin saya kemukakan dalam tulisan saya kali ini, yaitu yang pertama adalah pentingnya menjaga network dan branding dan yang kedua adalah kenyataan bahwa kesadaran akan pentingnya media sosial yang memuncak mengiringi “fear factor” yang muncul akibat berkembangnya sharing economy dan leisure economy.

Saya lupa apakah sudah pernah menceritakan pengalaman saya ini atau belum namun ya sudah lah saya ceritakan lagi saja ya. Beberapa tahun yang lalu, saya lupa tepatnya tahun berapa, saya pernah mengajar di sebuah sekolah desain yang namanya IDS (International Design School) yang berada di bilangan Pejaten. Tentunya topik yang saya ajarkan adalah seputar dunia media sosial dan digital. Batch pertama saat itu berjalan cukup lancar, dan membuat pihak sekolah memutuskan untuk melanjutkan program ini. Sayangnya ada beberapa ketidaksepakatan antara saya dan pihak sekolah yang membuat saya memutuskan untuk tidak melanjutkan mengajar di batch-batch selanjutnya. Kesuksesan batch pertama membangun minat bagi murid-murid baru untuk ikut dalam batch berikutnya. Itu yang saya dengar sendiri dari beberapa murid yang akhirnya tergabung dalam batch kedua lalu kecewa karena saya tidak lagi mengajar. Kebetulan beberapa murid batch kedua tsb akhirnya sempat ketemu dengan saya disebuah acara.

Kembali di awal saat saya memulai tulisan ini, dua permintaan layanan yang membuka tahun 2018 itu datang dari eks murid IDS masing-masing dari batch pertama dan hampir jadi murid saya di batch kedua. Branding yang sesuai dengan positioning diri membuat nama kita bisa diingat sampai beberapa tahun kedepan. Bayangkan jika kita rajin memelihara branding kita di masyarakat.

Dulu saya sempat berfikir, dengan mulai masuknya generasi milenial (gen y) ke usia produktif bahkan ke posisi-posisi pengambil keputusan maka digital dan media sosial akan jadi sesuatu yang generik. Seperti misalnya kita tidak perlu lagi menyebutkan smartphone kita terhubung ke internet atau tidak karena itu sudah jadi sebuah keharusan. Namun perkiraan saya salah. Proses pembelajaran terus berlangsung regardless orang-orang sudah mengerti atau belum karena kasus-kasus tumbuh seiring dengan pemahaman pengguna yang juga berkembang. Kasus-kasus yang terjadi dibeberapa tahun lalu mungkin saja tidak lagi terjadi namun muncul kasus-kasus baru mulai bermunculan. Ini yang membuat semua pihak harus terus belajar. Ini juga yang membuat permintaan layanan berkaitan dengan media sosial terus berdatangan.

Selamat datang 2018!

Sedikit note-to-myself: Mulailah jemput bola karena dunia ini terlalu luas 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.