Change or Failed! – Belajar dari Jatuhnya Nokia


Sudah sempat baca bukunya pak Rhenald Kasali yang berjudul ‘Disruption’? Saya banyak mendengar bahwa buku tersebut menimbulkan banyaknya ketakutan di perusahaan-perusahaan yang merasa bahwa mereka belum siap akan perubahan pola ekonomi yang berubah secara drastis yang terjadi.

Kemunculan Uber memicu pola perubahan yang banyak direplikasi oleh perusahaan-perusahaan lain dengan model bisnis yang berbeda-beda. Dan dimulailah perubahan tersebut. Bisa dimengerti mengapa muncul ketakutan terhadap perubahan yang terjadi namun mungkin ada baiknya Anda tidak terlalu lama tenggelam dalam ketakutan tersebut lalu jadi terlalu lama tidak melakukan ‘action’ dalam menyikapi perubahan yang harus dilakukan.

Salah satu raksasa yang jatuh karena ‘terlambat’ beraksi untuk mengikuti perubahan adalah Nokia. Kita semua tahu akhirnya Nokia gagal di pasar saat dominasi penjualan handphone/smartphone mereka dilewati oleh Samsung dan sejak saat itu reputasi sebagai raksasa di bidang handphone/smartphone mereka mulai merosot. Salah satu analisa yang saya rasa cukup tepat ada di artikel The New Yorker ini.

Selama berlangsungnya konferensi pers yang mengumumkan bahwa Nokia diakuisisi oleh Microsoft, CEO Nokia, Stephen Elop mengakhiri pidatonya dengan mengatakan: “We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost”. Setelah mengeluarkan pernyataan tersebut, semua tim manajemennya, termasuk dirinya sendiri, menangis dengan sedih.

Nokia telah sekian lama menjadi perusahaan dihormati karena kebesarannya. Mereka memang tidak melakukan kesalahan dalam bisnis mereka, namun, dunia berubah terlalu cepat. Dan juga lawan yang mereka hadapi dalam persaingan bisnis terlalu kuat.

Mereka tidak sempat belajar, mereka tidak sempat untuk berubah, dan dengan demikian mereka juga kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih besar. Mereka tidak hanya kehilangan kesempatan untuk menghasilkan banyak uang, mereka bahkan  kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup.

Pesan moral dari cerita ini adalah, jika Anda tidak berubah, Anda terpaksa harus keluar dari kompetisi.

Tidak salah jika Anda tidak ingin belajar hal baru. Namun, jika pikiran dan pola pikir Anda tidak dapat mengejar ketinggalan waktu, Anda akan tersingkir.

Dari kejadian yang membuat Nokia jatuh maka bisa diambil kesimpulan bahwa kesuksesan yang dicapai dimasa lalu akan selalu digantikan oleh tren baru di masa depan. Anda tidak perlu melakukan kesalahan apapun, selama pesaing Anda menangkap kesempatan yang ada dan melakukannya dengan benar, Anda bisa kehilangan semua kesuksesan yang sebelumnya berhasil diraih.

Untuk mengubah dan memperbaiki diri sendiri, berikan diri Anda kesempatan kedua. Dipaksa orang lain untuk berubah, itu sama saja seperti dibuang.

Mereka yang menolak belajar dan memperbaiki diri, cepat atau lambat kedepannya akan menjadi tidak relevan di industri. Mereka akan mendapatkan pelajaran yang sulit dan mahal untuk itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.